Minggu, 28 Mei 2017

SehariSemarang


Orang bepergian/traveling itu butuh planning yang matang, persiapan yang bagus dan tentu saja budget yang perlu di pikirkan dan diperkirakan. Adapun waktu yang dibutuhkan buat traveling itu nggak musti lama beberapa hari, atau beberapa minggu kalo sehari semalam aja udah cukup buat ngobatin penasaran. Iya, saya sendiri yang traveling cuman sehari semalam. Berangkat pagi pulang sore di hari berikutnya. Tujuan saya yaitu menyimbangi kota Semarang yang emang entah kenapa saya penasaran dengan kota itu, lagian akses dari cirebon juga cuman memakan waktu 3 – 4 jam perjalanan menggunakan kereta api. Sama halnya dengan kalo mau ke jakarta dengan waktu tempuh hampir sama.

Awalnya memang saya sudah planning kan untuk ke Semarang sebelumnya, kan perlu adanya Plan, Do, Check, and Action. Saya planning kan dulu waktu berangkat agar tidak bentrok dengan jadwal saya kerja (dan nggak boleh ambil cuti) harus benar benar free di hari itu. Planning awal di hari yang ada tanggal merahnya, kan pasti jadwal libur kerja nambah satu hari, tapi itu ternyata nggak bisa saya lakukan karena bentrok dengan kegiatan lain. Oke, mulai planning kembali dan langsung eksekusi di waktu weekend. 3 hari sebelum pemberangkatan sudah harus pesan tiket kereta buat pulang perginya, dan itu sudah saya dapatkan, tinggal menyusun list tempat mana saja yang nantinya saya singgahi di waktu yang singkat itu. List oke, tinggal nunggu hari H pemberangkatan saja. Selain prepare apa saja yang perlu dibawa dan nggak perlu dibawa. Karena mungkin saya cowo jadi nggak terlalu ribet/banyak barang yang perlu dibawa.


So, untuk traveling sehari semalam di kota yang baru pertama kali dituju itu sebuah kenekatan yang parah. Gimana nggak nekat, waktu yang dibutuhkan cuman sehari semalam, mau dapat apa coba kalo nggak cuman dapat capek nya doang. Banyak yang berpendapat seperti itu ke saya saat saya mencari info dari temen temen, ya tapi saya balas dengan senyum aja. Tapi sedikit beradu argumen kalo emang ‘seneng’ itu nggak kerasa capek nya, tapi kalo cuman dibayangin ya kerasa banget capek nya. 
Share:

Senin, 24 April 2017

Kacang 'Dewa'


Kacang dewa, sebutan untuk kacang kedelai yang sering saya dan teman teman beli saat masih kuliah kelas karyawan dulu. Entah sudah berapa tahun yang lalu hal itu nggak lagi terasa gimana kita menantikan kacang kedelai itu, saat tanda bel istirahat (adzan maghrib berkumandang) langsung bareng bareng nyamperin warung yang kami anggap sebagai “kantin kampus” (tentu sehabis sholat maghrib) dan mencari makanan atau yang lain demi kita gunakan sebagai ‘pengganjal perut’. Untuk sebutan kacang dewa itu nggak tau persisnya gimana dan kenapa dikasih sebutan itu, mungkin karena emang emergency atau emang nggak ada yang lain atau entah apa lah itu. Jadi seakan akan cuman itu sang penyelamat perut disaat emergency. Apa sebuah anugerah karena masih ada makanan itu dan emang harga nya yang juga miring. Kalo nggak lupa waktu itu harga kacang itu 1000 rupiah, cukup lah dengan beli beberapa bungkus bisa tahan cukup lama. Selain untuk pengganjal perut, fungsi lain dari kacang ini ialah untuk merusak rasa kantuk yang menghampiri di saat jam kuliah kedua yang kadang sampe cukup malam.

Kalo untuk rasa dari kacang ini ialah gurih dan sedikit asin, tapi yang paling nggak enak itu bikin seret alias jadi ngerasa haus. Dan kalo udah haus tapi air minum yang dibawa/dibeli udah habis, disitu kadang saya merasa sedih. Baik dari harga yang terjangkau, ukuran dari bungkusan kacang ini cuman sekitar 5 cm jadi masih bisa beli beberapa bungkus dan cukup di masukin ke kantong.


Nah, entah udah berapa lama saya nggak ketemu kacang yang satu ini, karena udah nggak kuliah lagi dan emang saya sekarang lagi bukan di kota yang sama dengan pas kuliah, alias udah merantau ke kota lain. Kota udang. Ya, cirebon yang sekarang menjadi kota tempat tinggal saya sekarang. Nah, di sini juga ternyata saya mendapatkan kembali kacang kedelai itu. Dengan ukuran dan rasa yang masih sama dengan pas kuliah dulu (rasa asin dan gurih nya kacang itu) masih melekat di dalam balutan plastik ukuran 5 cm. 
Share:

Selasa, 21 Maret 2017

Cidro


Saat masih jaman sekolah ada salah satu mata pelajaran yang namanya Muatan Lokal. Mata pelajaran itu saya dapat dari pas waktu masuk SD sampe SMA, mata pelajaran muatan lokal ini isinya mata pelajaran Bahasa Jawa. Mungkin karena saya berasal dari jawa tengah jadi ada mata pelajaran khusus bahasa jawa, tapi pas ketemu temen yang daerah jawa barat itu juga ada mata pelajaran Bahasa Sunda. Nah, saya pikir itu memang seperti mata pelajaran khusus untuk daerah jawa (untuk tetap melestarikan bahasa lokal).

Pas waktu SD ada tugas atau dalam hal ini sih bisa dibilang ujian praktek (karena moment pemberian tugas itu pas di ujian) untuk menembangkan satu tembang di depan kelas (individu). Tembang ini ialah sebuah lagu yang dinyayikan menggunakan bahasa jawa, isi atau maksud dari tembang ini biasanya berisi ajakan, nasehat dan lain-lain. Dan tembang ini juga bersyair seperti hal nya pantun, saling berkaitan maksud tiap bait nya. Nah, setelah beranjak ke SMP kalo nggak salah tidak ada ujian untuk menembangkan sebuah lagu berbahasa jawa (sedikit lupa). Tapi kalo pas waktu SMA ada juga tugas untuk menyayikan lagu bertema campursari (sedikit modern) yang tentunya menggunakan bahasa jawa. Ada sebuah lagu yang saya sendiri nggak tau kenapa atau alasan apa kok sampe pilih lagu itu. Judul lagunya itu Cidro dari Didi Kempot. Tau kan siapa Didi Kempot? Untuk lebih jelasnya silahkan kepo in siapa itu Didi Kempot. Oke, saya singgung sedikit tentang siapa itu Didi Kempot, Didi Kempot itu merupakan salah satu penyanyi yang berasal dari jawa tengah, tepatnya di kota Solo. Nah, mas Didi ini bermusik dengan menggunakan bahasa Jawa (pastinya) dan mas Didi ini terkenal untuk kalangan lagu jawa. Mungkin dengan aliran musik sedikit keroncong yak, tapi saya nggak tau pastinya.

Oke, kembali tugas menyanyikan lagu berbahasa jawa. Alasan kenapa saya ambil salah satu lagunya mas Didi ini, yang pertama karena lagu-lagu mas Didi ini cukup familiar di telinga (pas didengerin) dan untuk bahasa saya cukup mahir berbahasa jawa (karena asli jawa tengah). Dan untuk menghafal satu lagu ini cukup gampang (sudah familiar) jadi lebih PeDe saat nanti tampil di depan kelas (hapal). Nah, alasan kenapa saya milih lagu mas Didi yang berjudul Cidro ini yang saya nggak tau pasti alasannya. Kalo untuk lirik itu cukup gampang dihapalin, kalo nada lagu ini cukup melo yak, kalo untuk makna lagunya saya waktu itu nggak kepikiran sampe kesitu (makna lagu). Nah, tapi setelah saya denger-dengerin lagu itu beberapa saat setelah selesai maju ke depan kelas nyanyi, liriknya itu memang seperti mengisyaratkan bahwa seseorang di lagu itu sedang patah hati karena alasan beda derajat (misal kaya dan miskin). Dan itu seakan-akan mengisyaratkan itu di beberapa lirik lagu nya.

Wis sak mestine, ati iki nelongso (sudah semestinya, hati ini sedih)
Wong sing tak tresnani, mblenjani janji (orang yang saya cintai, ingkari janji)
Opo ora eling, naliko semono (apa tidak ingat, pas waktu dulu)
Kebak kembang wangi jroning dodo (bagai bunga wangi didalam dada)
Kepiye maneh, iki pancen nasibku (gimana lagi, ini memang nasibku)
Kudu nandang loro, koyo mengkene (harus merasakan sakit, seperti ini)
Remuk ati iki yen eling janjine (hancur hati ini jika ingat janjinya,)
 ora ngiro jebul lamis wae (tidak taunya cuma bohong belaka)
Gek opo salah awakku ini (trus apa salah saya ini)
kowe nganti tego mblenjani janji (kamu sampai tega ingkari janji)
Opo mergo kahanan uripku ini, (apa karena keadaan hidupku ini)
 mlarat bondo seje karo uripmu (miskin harta, berbeda dengan hidupmu)
Aku nelongso mergo kebacut tresno (aku nelangsa karena terlanjur cinta)
ora ngiro saiki kowe cidro (tak kukira sekarang kamu ingkar)

Itu lirik lagu dari Cidro dari mas Didi, jadi bisa dibayangin kan kira-kira apa maksud dari lagu itu.
Nah, kalo menurut berita (info) yang saya sempet denger bahwa lagu yang didengerin itu menggambarkan apa yang sedang dirasakan. Kalo memang lagi happy biasanya dengerin lagu-lagu yang temanya happy juga, bergitu juga kalo misalkan sebaliknya. Nah, tapi beda dengan saya pas waktu milih lagu itu saya nggak sedang dalam status “berhubungan” atau bahasa kerennya itu menjalin asmara dengan cewek. Alias saya waktu itu lagi single. Kalo memang info yang dari dapat seperti diatas itu seharusnya saya dalam posisi nggak lagi single, tapi kenyatannya lagi single. Nah, ini yang aneh memang, itu yang saya rasakan juga waktu setelah saya selesai menyanyikan lagu itu dan setelah saya dengerin beberapa kali lagu itu. Dan sampe sekarang kadang saya masih kepikiran kenapa saya pilih judul lagu itu??


Share:

Selasa, 21 Februari 2017

Piknik

Pada tanggal 20 November 2016 akhirnya saya bisa piknik ‘bersama’ yang seharusnya terjadwal di 2 minggu sebelumnya tapi tertunda karena beberapa hal yaitu kurang paham sama rules nya. Setelah diberi kesempatan seminggu setelahnya ternyata malah gantian miscommunication yang terjadi saya dikabarin kalo nama saya terdaftar untuk berangkat di tanggal 13 November, ternyata nggak paham lagi dan tertunda keberangkatannya. Setelah 2 kali tertunda, ternyata saya dapat kesempatan lagi untuk bisa ngerasain piknik bersama. Emang kalo rejeki nggak kemana, nggak tau saya bisa dikatakan beruntung atau nggak, yang pasti saya akhirnya bisa berangkat piknik di tanggal 20 November itu. Nggak tau apa yang menjadi dasar mengapa saya bisa seberuntung itu, mungkin kalo orang lain hak untuk ikut sudah hangus alias nggak bisa ikut lagi dan harus nunggu tahun depan. Karena nggak paham juga mengapa saya bisa demikian, so positive thinking aja lah dan say alhamdulillah.

Pukul 06.00 harus sudah di posisi (pabrik) iya, karena ini event piknik bersama seluruh karyawan+keluarga (bagi yang udah berkeluarga) kalo belum yaa..ah sudahlah. Terjadwal seperti itu dan untuk persiapan agar nanti dalam perjalanan nggak terlalu memakan waktu yang panjang, jadi pas di tempat tujuan (wisata) bisa lebih quality time deh. Awalnya ragu buat ikut setelah mendengar beberapa cerita dari temen yang lain yang udah duluan berangkat, tapi di lain hal saya udah sebegitu di beri kesempatan yang berulang-ulang, merasa iba/nggak enak kalo nggak berangkat. Sebenarnya udah kebayang gimana nanti, secara gitu ini untuk anggota keluarga karyawan dan yang belum berkeluarga itu pasti nggak banyak jadi gimana nanti saya disana, trus gimana saya bisa berbaur dengan yang lain dan gimana gimana gimana…(tak berujung). Tapi dengan mencoba untuk mempersiapkan itu semua dan mencoba untuk membuat diri sendiri enjoy pas disana nanti, akhirnya saya putuskan untuk berangkat saja.

Setelah sampai di lingkungan pabrik dan melihat-lihat bus nomer berapa yang bakalan saya naikin, akhirnya saya naik dan mencari nomer kursi yang tertera di tiket itu. Selang beberapa waktu sang kordinator bus mulai mengabsen sebari memberikan menu sarapan untuk para penumpang. Satu-satu di panggiil oleh bapak itu, dan tiba saya dipanggil dengan cukup lantang “bapak nur amin dan keluarga” seperti itulah bunyi dari panggilan bapak kordinator itu. Dan cukup membuat rame di dalam bus dengan gurauan dari salah satu penumpang yang terdengar “belum berkeluarga, masih bujang”. Ya, seperti itulah gurauan dari bapak penumpang yang memang cukup akrab dengan saya kalo di pabrik. Saya tersenyum sebari mengambil menu sarapan yang dikasih oleh bapak koordinator itu dan kembali ke tempat duduk saya. Setelah kurang lebih memakan waktu 4 jam, akhirnya saya dan rombongan sampai di pintu masuk temapt wisata. Setelah muter-muter untuk mencari tempat parkir, saya dan rombongan pun turun untuk bareng-bareng jalan menuju tempat wisata yang tidak terlalu jauh dengan tempat parkir bus. Sebari membawa nasi kotak untuk bekal makan siang, saya dan sekumpulan bujang pun berjalan bersama ke tempat tujuan.

Gelanggang samudera, iya itulah tempat tujuan piknik bersama tahun ini. Entah itu tujuan piknik tiap tahunnya atau bukan, yang pasti buat saya itu baru pertama. Kalo denger dari senior sih emang nggak jauh-jauh dari ancol sih, palingan ya di gelanggang samudera/samudera atlantis. Ya tapi itu nggak masalah kok, lagian kan ini dari anggaran perusahaan, jadi yang ini mah gratis dan yang penting ada keinginan untuk berangkat aja. Lanjuut…

Dan setelah masuk di pintu utama wisata yang pertama kali di cari ialah papan pengumunan guna untuk mencari jadwal pertunjukan berlangsung. Pertunjukan ini biasanya emang terjadwal dalam satu hari di tiap jam berapanya, makanya biar bisa nonton semua pertunjukan jadi lah nyari yang sesuai dengan waktu mulainya pertunjukan. Abis dapet selebaran jadwal pertunjukan, giliran mencari arah/rute yang menunjukan dimana pertunjukan itu berlangsung. Pertunjukan yang saya ikuti dalam wisata itu yaitu..
  •  Pertunjukan singa laut. Karena pertunjukan ini terjadwal di awal waktu dan pas dengan waktu kita tiba di situ, so pertunjukan pertama yang saya ikuti. Seperti biasa, sebelum puncak pertunjukan pasti ada intro nya (pengawal). Mulai dari pertunjukan berang-berang dan beberapa binatang lain, barulah abis itu pertunjukan singa laut nya dimulai.

Singa laut show
  • Lumba-lumba. Iya, pertunjukan selanjutnya kalo sesuai dengan jadwal yang saya terima. Disitu disuguhi dengan berbagai macam aksi dari si lumba lumba.

Dolphin show
  • Under water. Entah itu istilah biar yang dateng itu membayangkan kalo pertunjukan ini bakalan ‘wah’, tapi itu justru sebaliknya. Sebenarnya itu menyuguhkan para penari yang menari di dalam air yang di batasi dengan seperti kolam (untuk menyaksikan).

Under water show

  • Stuntman. Pertunjukan yang menurut saya ini menjadi pertunjukan yang menegangkan, disana disuguhkan para stuntman yang beraksi dengan mengambil tema ‘pirate’ alias bajak laut yang ingin mencuri benda pusaka.
  • Cinema 4D. Dalam bayangan saya ‘wah bakalan menyaksikan film action yang bisa nembus ke badan dengan sensasi seperti ikut dalam film itu’, tapi ternyata cuplikan film bertema education yang ditampilkan. Ya mungkin emang penontonnya bukan remaja, melainkan para keluarga. Tapi overall saya cukup terhibur.
Setelah melihat berbagai macam pertunjukan, waktu nya kita pergi ke tempat wisata yang satu lagi. Melihat berbagai jenis ikan yang ada di air tawar/air laut. Berkeliling ke sana kemari untuk melihat satu jenis ke jenis yang lain dari makhluk hidup beringsang. Sambil jeprat jepret ambil gambar sampe sampe bingung ambil gambar apa lagi.

Sebagai kesimpulan, untuk event ini buat saya cukup menyenangkan karena hanya butuh satu kata ‘mau’. Iya, yang penting ada kemauan untuk berangkat karena event ini tidak ada charge lagi (kecuali beli merchandise). Overall saya menikmatinya, cukup menyenangkan, wisata ini memang pas banget buat education dan itu cocok karena event keluarga (anak-anak) dan untuk yang masih melajang menurut saya cukup menghibur dan menikmati event ini. 
Share:

Kamis, 09 Februari 2017

Belanja



Belanja, belanja merupakan aktivitas yang menjadi sebuah rutinitas yang terjadwal dalam hal ini kebutuhan pokok yang memang setiap bulannya habis dikonsumsi. Lain halnya kalo belanja yang menjadi keinginan, barang yang memang sudah dimiliki namun masih ingin punya lagi dengan alasan agar bisa berganti ganti dan nggak itu itu mulu. Kalo dilihat dari tempatnya, untuk sekarang ini memang cukup banyak tempat perbelanjaan yang menawarkan begitu banyak barang. Namun kadang memang perlu tenaga tambahan untuk bisa ke tempat itu, tapi masalah itu sudah nggak terlalu menjadi hal yang membuat ‘pusing’ karena tempat-tempat seperti itu sudah berdiri bangunan-bangunan kokoh yang berjejer. Ditambah lagi sekarang dipermudah dengan layanan belanja online, belanja offline aja udah bisa dijangkau lha ini malah ada belanja online, makin tambah ‘semangat’ aja nih belanja nya.

Belanja bukan hal yang buruk, hanya saja kalo belanjanya itu nggak terkontrol alias overdosis itu yang bisa bikin buruk dan lagi kondisi kantong yang lagi nggak bersahabat. Apalagi kalo kantong nya itu lagi seret, boro boro mikirin belanja buat makan aja kadang bisa di kesampingkan. Nah, yang seperti itu yang seharusnya di kontrol, terjadwal dan nggak terlalu semangat belanja.

Nah, ngomongin soal belanja kadang saya itu mikir orang belanja itu kayak orang yang terhipnotis. Kenapa nggak, soalnya pas belanja itu ngeliatnya barang yang bagus bagus, model yang keren, bahan yang menggiurkan dan serasa kalo pas belanja itu ke hipnotis. Seringkali saya temui barang yang hendak saya beli itu emang perlu saya beli, namun setelah keliling dan memilih model, bahan, kualitas jahitan (baju, celana, dll) saya menemui barang yang ‘sepertinya’ cocok buat sehari hari tapi itu pas masih ditempat pembelanjaan. Pas dirumah, setelah diliat liat dan di cek lagi timbul rasa ‘nyesel’ beli barang itu. Mulai bertanya tanya pada diri sendiri “kenapa saya beli ini?”, model nya nggak jelas gini?, bahan nya juga agak kurang? So, barang yang bagus diantara yang bagus di tempat belanja itu kadang malah berkebalikan sama pas udah dibeli. Jadi seakan akan saya ke hipnotis buat beli barang itu yang nggak mikir pantes nggak pas saya pake, ngerasa aneh nggak pas saya pakai nanti? Itu pertanyaan yang nggak terjawab di tempat belanja dan baru sadar pas di rumah dan udah terlanjur beli barang itu. Seakan akan barang itu pun bisa ngomong “beli saya, beli saya, beli saya” itu yang terjadi kalo barang nya bisa ngomong.

Itu kalo beli offline alias on the spot alias langsung beli ditempat, lain hal nya kalo beli online. Beli online itu memudahkan untuk tidak perlu pergi ke tempat belanja dan berdesak desakan dengan orang lain. Kalo online itu hanya perlu sabar yang ekstra, nungguin barang nyampe alamat yang bener, milih penjual yang udah pasti testimoninya dan sabar kalo nggak sesuai ekspektasi (yang diinginkan). Tingkat kekecewaan belanja online itu kadang lebih besar kalo dibandingkan dengan offline. Secara gitu barang yang mau dibeli cuman bisa liat photonya aja, baca keterangan aja tapi nggak bisa menilai secara fisik nya. 

Share:

About Me

Seorang Mahasiswa Teknik Kimia, suka hal hal simple, minimalis, seorang plegmatis.

Terbaru

Popular Posts

Arsip

Diberdayakan oleh Blogger.