Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Tulisan. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2019

Satu Kejadian


Satu kejadian, cukup satu kejadian untuk mengingatkan pada seseorang yang entah itu berbuat baik ke kita atau sebaliknya. Karna terbatasnya ingatan untuk menghapal setiap kata yang terangkai menjadi nama panggilan setiap orang yang berbeda beda, jadi kadang menjadi lupa saat ingin menyapa dan akhirnya di sapa duluan sama lawan bicara. Mungkin juga selain suatu kejadian, bisa juga hafal wajah tapi tidak untuk nama.

Nah, semacam ini sering saya rasakan saat berbagai teman kerja menyapa dan memanggil nama panggilan saya dan bahkan sampai ada yang mengajak untuk ngobrol. Dan itu sering membuat saya membatin “itu siapa ya? Kok tau nama saya?” – saya saja tidak tau itu siapa...

Sama halnya mengingat kejadian di waktu lampau yang masih menyisakan inti dari kejadian itu, dan teringat kembali di momen seperti ini (bulan puasa). Sebagai kegiatan untuk menambah ilmu tentang agama, biasanya orang tua mendaftarkan anak – anaknya ke TPA terdekat untuk belajar mengaji sejak dini. Ya, mumpung belum banyak kegiatan yang menyita waktu kecil selain hanya sekolah dan bermain kesana kesini nggak karuan. Yang menjadi imajinasi saya itu bakalan bepergian sama temen teman naik sepeda gowes ke pondok, menghabiskan waktu siang menjelang sore hingga bahkan sampai malam tiba. Dan waktu waktu itu nggak kerasa cepet banget, baru juga berangkat dengan tenaga yang masih full ku kayuh sepeda ontel jadul berbentuk jengki itu dengan cepat cepat karena waktu masuk pelajaran yang mepet, karena kadang harus lama menunggu temen temen lain pada siap siap. Intinya biar berangkatnya bisa bareng bareng, kalo di hukum karena telat kan juga bareng.

Jam masuk pelajaran sudah tiba dan tinggal menunggu ustadznya datang untuk mengajar, dan waktu satu jam selesai setelahnya istirahat untuk sholat dan dilanjutkan lagi satu jam setelah istirahat. Jadi kurang lebih memakan waktu 2 jam di pertengahan sore hari, bahkan bisa sampai 1 jam lebih nya untuk ngobrol tentang apapun (kalo nggak buru buru pulang). Hingga sampai sore tiba dan di perjalanan nggak sekuat kayuhan di banding waktu berangkat, lebih santai dan menikmati perjalanan sambil ngobrol kanan kiri. Hingga akhirnya melirik ada sebuah kebun yang ditanami buah sawo, berjejer sekitar 3 pohon sawo yang siap berbuah dan di musim itu lagi musim nya sawo berbuah. Karena sudah sering lalu lalang lewat jalur desa itu dan juga dengan kepolosan anak kecil, memberanikan diri walau dengan takut takut untuk menemui pemilik kebun dan meminta ijin untuk memetik buah sawo untuk dijadikan sebagai takjil berbuka puasa. Karena saking banyaknya pohon itu berbuah, sang pemilik pun nggak pikir panjang untuk mengijinkan kami mengambil buah sawo itu.

Rejeki anak sholeh.
Dan dengan satu kejadian itu, sampai sekarang saat melintasi jalan desa itu dan masih ada bentang tanah kosong (belum di bangun rumah) masih ada ingatan soal waktu lampau gowes ontel bersama teman teman sambil ketawa ketawa dan seakan bercanda dalam perjalanan.

Share:

Jumat, 10 Agustus 2018

Late Post - Less Post


Juli, entah bulan yang padet sama jadwal kegiatan sehari hari atau sebaliknya yang malah longgar sekali. Tapi entah kenapa pas buka blog postingan di bulan juli itu nihil tidak ada satupun postingan yang terpampang di wall blog. Bukan nggak sempet bikin, tapi emang nggak ada bahan yang berarti buat di pampang di wall, karena saya pun bukan seorang yang mahir buat cerita cerita, yang mahir kata menjadi kalimat yang berujung beberapa paragraf yang bisa dinikmati para pembaca ‘nyasar’ yang dermawan. Para pembaca yang dermawan meluangkan waktu untuk sekedar click postingan dan baca baca satu dua kalimat yang mungkin bisa membawa pada keadaan dimana bisa ‘merasakan’ keadaan penulis saat itu juga.

Dan sekarang pun sudah 10 hari melewati bulan ke-8 di tahun 2019 ini yang nggak tau bakal gimana nantinya, masih misteri. Jujur memang saya berprinsip kalopun nggak banyak posting, tapi setidaknya 1 postingan mewakili di tiap bulannya. Tapi ya, mau gimana lagi emang kepentok sama hal hal yang dibuat seakan akan sibukk. Nulis itu juga butuh niat, pikiran yang rileks dan yang lain. Malah saya pernah denger di sebuah cuplikan film yang disitu ….justru saat seperti ini akan melahirkan tulisan tulisan yang nantinya jadi mashur dan terkenal. Kata seperti ini berarti suasana hati yang lagi nggak tenang, habis di terpa rasa yang kurang mengenakkan, kekecewaan, putus asa. Memang betul jika suasana hati sangat berpengaruh sama tulisan yang dihasilkan, tapi nantinya tulisan itu jadi tulisan yang bersifat demikian, ada rasa campur aduk, galau, depresi.

Juli, bulan yang membuat saya harus merubah pola hidup, pola keseharian, pola tidur, pola makan dan aktivitas lain. Bulan yang bahkan saya pun mulai sedikit lupa sama hari, hanya teringat jadwal saya setiap harinya yang berpola 2-2-2. Shift. Ya, karena perubahan dari normal menjadi ‘nggak normal’. Yang teringat hanya setelah saya pulang pagi yang ke-2 berarti saya holiday. Dan waktu berjalan begitu saja sampai nantinya jadwal saya pulang kampung dan harus berlama lama di atas alat transportasi yang berjalan di atas tatanan besi memanjang, merasakan rasanya nggak nafsu makan, walaupun perut sudah bergejolak keroncongan, hanya sesekali diredakan dengan tenggukan air mineral. Merasakan dinginnya air conditioner yang membuat saya sampai menggigil nggak tentu, duduk bertekukkan lutut yang sesekali meluruskan kalo ada celah dengan yang lain.

Share:

Kamis, 10 Mei 2018

Kapan Wisuda?



Kapan wisuda, pertanyaan paling jleb nomor 2 setelah pertanyaan “kapan nikah”. Dan nambah jleb lagi karena begitu banyak orang orang merayakan dengan memposting topi wisuda alias toga di berbagai macam media social. Dan karena musim ini memang musim para mahasiswa tingkat akhir dan mahasiswa yang jadi wisudawan/ti menggelar kesibukannya. Kembali kalo ditanya “kapan wisuda?“ dengan tegas menjawab dengan jawaban datar – entah kapan, belum sempet dipikirkan. Bukan hanya masalah khayalan kalo bakal ngerasain di wisuda – memakai jas/pakaian lain yang sesuai dengan tema wisudaan dan banyak temen temen yang pada hadir memberikan berbagai buah tangan – bunga, coklat, kado dan apalah itu jenisnya dan nggak kalah seru nya ialah foto dengan berbagai macam gaya – gaya formal, bebas alay – padahal semua gaya itu sama aja kalo pas bergaya.

Sebenarnya kedua pertanyaan ini berbeda di yang mana lebih duluan. Kapan nikah, kalo udah ada calon dan udah nyiapin berbagai kebutuhan menjelang pernikahan itu tinggal deal dealan dengan waktu akad/resepsi. Ini terbukti beberapa temen saya seangkatan ‘kuliah’ yang udah nikah dulu sebelum wisuda. Paling deket kemarin ada temen saya jauh diluar pulau – tapi masih di Indonesia yang melangsungkan pernikahan – selamat ya. Ada juga yang udah sekitar 2 bulan yang lalu dan beberapa bulan yang lainnya. Ah, malah tambah jleb kalo nulis paragraph ini. Mungkin dalam pikiran dan pertimbangan mereka, melangsungkan akad di waktu yang tepat – dengan kesiapan itu nggak perlu ditunda tunda lagi. Dan itu lebih baik daripada hanya berkhayal soal wisuda yang entah kapan itu akan terwujud.

Kapan wisuda, ah entah kapan, dipikirkan saja belum. Bukan nggak mau memikirkan soal wisuda – persiapan wisuda tapi memikirkan masih ada beberapa semester lagi yang perlu dilalui untuk bisa sampai di tingkat wisuda saja masih belum terbayang. Selagi masih ada transfer nominal per bulan nya itu berarti tanda bahwa masih jadi calon wisudawan belum sah karena belum akad. Dan kalo nanya ke teman lain – kita masih berapa semester lagi? Itu saja udah malah temen yang jawab pun nggak tau berapa semester lagi.

Bukan mau iri atau dengki melihat mereka yang udah lulus, tapi hanya ngebatin dan elus dada “saya kapan ya” dan ngebayangin perjuangan jungkir balik untuk sampai ditingkat itu. Bersyukur untuk pencapaian saya sampai sekarang dan lebih bersyukur lagi dengan berbagai halang rintang, jungkir balik sana sini untuk sampai sekarang ini. Mungkin belum waktunya untuk saya alami proses wisuda ini, masih ada beberapa proses lagi yang perlu saya lalui dulu sebelum wisuda. Dan mungkin saya setuju dengan lagu nya salah satu penyanyi dangdut – indah pada waktunya. Akan indah pada waktu dan tempat yang tepat.

Share:

Kamis, 23 November 2017

Menolak Punah

Membahas soal hobi, hobi itu bisa dilihat dari sudut pandang yang sifatnya subjektif (masing masing orang). Karena tiap orang itu pasti beda beda minat dan bakatnya, kalo minat mungkin lebih ke arah kecenderungan terhadap sesuatu (yang membuat diri orang itu sendiri menjadi nyaman, enjoy ngejalaninnya). Kalo bakat emang udah ada di dalam diri masing masing orang tinggal di asah aja dengan keinginan untuk melakukan (minat).

Dulu pernah terlintas dalam pikiran pas masih kecil, saat mulai tau apa itu sepeda motor. Timbul keinginan untuk memiliki (nantinya) dengan tipe yang seperti apa yang di pengenin. Karena pikiran anak kecil, artinya ia menyimpulkan sesuatu itu dari seberapa banyak dia memandang/melihat (dalam hal ini tipe motor). Karena dulu belum banyak variasi dari berbagai motor, jadi kenalnya ya motor itu itu saja (merk, tampilan,) jadi dalam memori itu menyimpan apa yang selalu/sering dilihat oleh panca indra. Honda Astrea grand. Iya, motor itu menjadi salah satu yang saya ingin punya waktu kecil, dan motor itu juga dimiliki oleh paman saya, jadi semakin sering saya melihat motor itu dan semakin menjadi-jadi imajinasi saya tentang motor satu itu. Dari motor tampilan yang masih standar, trus sekilas lihat sedikit modif dan sampe full modif. Sampai sampai ada tugas seni rupa yang temanya itu tentang kendaraan bermotor, karena adanya motor astrea grand, yaudah itu aja yang langsung digambar di buku polos putih dan terlebih lagi belum ada teknologi yang gampang cari gambar kayak jaman now. Jadi gambar motor langsung bentuk fisik dari motor itu bukan dari gambar motor. Kebayang kan gimana gambarnya kalo objek gambarnya itu nyata (real).

Bukan hanya ingatan masa kecil saja saya menginginkan motor itu, tapi sampai sekarang saya masih ingin punya motor itu, dan alhamdulillah motor itu akhirnya saya punyai sekarang. Untuk alasan kenapa pilih motor itu yang simple aja, motor itu menurut saya enak diapain aja, mau tampilan standar, modif standar, dibikin balap, atau yang lainnya. Kalo dari mesin itu sudah pasti karena honda itu memang cukup bagus untuk mesin jangka panjang. Astrea grand. Motor yang bahkan keluar saat saya berumur 4 tahun itu sekarang masih saya pakai dan kalo dibilang untuk mesin itu masih cukup bagus. Dan terlebih lagi saya bukan orang yang terbiasa ngebut dalam berkendara, kalo pun ngebut itu nggak pernah sampe 100 km/jam. Lebih ke menikmati perjalanan berkendara, walaupun punggung pegel juga lama lama. Ahaaahaa. Tapi itu lah sensasinya berkendara. Cus yuk kita intip kondisi motor saya.

Awal beli motor itu dalam keadaan second (pasti) dan untuk tampilan nggak mungkin kinclong pasti ada cacatnya (body) dan motor itu juga dari pemiliknya yang dulu belum pernah diapa-apain (modif) dan artinya kondisinya masih standar tapi nggak ada body sayapnya. Jadi karena sudah menjadi hak milik saya, saya mau ubah tampilannya agar terkesan lebih ‘enak dipandang’ atau kekinian. Yuk ah, cus welah.....

Liat kondisi jari jari motor yang udah karat/nggak bersih lagi. Jadi nggak usah pikir panjang langsung aja beli jari jari yang udah chrome biar keliatan kinclong. Jari jari sudah kebeli dengan harga yang nggak begitu mahal 2 set depan belakang dipatok harga 120 ribu aja kalo plus pasang jadi kurang lebih habis 200 ribu. Setelah memakan waktu kurang lebih 45 menit dan sampe sampe saya ketiduran di bengkel karna nungguin selesai akhirnya terpasang juga jari jari depan dan belakang. Trus abis itu cuci steam dulu biar keliatan bedanya abis pasang jari jari.

lumayan, agak enak dipandang

Setelah beberapa kali mikir ulang mau diapain lagi, dan akhirnya kepikiran buat pasang cakram depan aja. Setelah berpanas panas belanja perabotan cakram dan aksesorisnya, akhirnya dieksekusi langsung dan motor bermalam dibengkel. Kurang lebih 2 hari ditahan di bengkel, selesai juga itu si item. Test drive pun nggak kelewatan, coba sana sini dan ternyata masih ada beberapa yang perlu dibenahin, sambil nunggu waktu libur jadi ya di pake aja dulu yang penting sudah aman untuk dikendarain. Safety ride. Nih rincian dari pasang cakram :

Cakram, caliper bawah dan cable = Rp. 260.000
Handle rem dan tabung oil =  Rp. 65.000
Tabung shockbreaker depan = Rp. 100.000
Tromol depan = Rp. 65.000
AS depan = Rp. 10.000
Jari jari depan = Rp. 30.000
Gear box speedometer & cable = Rp. 50.000
Biaya pasang total = Rp. 200.000
TOTAL = Rp. 780.000,-
*spare part pake supra

Kalo yang selanjutnya mungkin lebih ke aksesoris aja sih, kayak ganti kontak depan belakang karena udah kendor dan rawan jatuh pas berkendara. Sambil nunggu poles mesin dan part lainnya yang udah keliatan goresan/karatan.

Eemmhh… mungkin itu saja yang bisa saya share terkait ‘sedikit mewarnai’ motor tua satu ini. Kalo harga part yang di ganti itu mungkin beda wilayah beda harga, so itu harga di bengkel sekitar Cirebon ya.

Share:

Kamis, 09 Februari 2017

Belanja



Belanja, belanja merupakan aktivitas yang menjadi sebuah rutinitas yang terjadwal dalam hal ini kebutuhan pokok yang memang setiap bulannya habis dikonsumsi. Lain halnya kalo belanja yang menjadi keinginan, barang yang memang sudah dimiliki namun masih ingin punya lagi dengan alasan agar bisa berganti ganti dan nggak itu itu mulu. Kalo dilihat dari tempatnya, untuk sekarang ini memang cukup banyak tempat perbelanjaan yang menawarkan begitu banyak barang. Namun kadang memang perlu tenaga tambahan untuk bisa ke tempat itu, tapi masalah itu sudah nggak terlalu menjadi hal yang membuat ‘pusing’ karena tempat-tempat seperti itu sudah berdiri bangunan-bangunan kokoh yang berjejer. Ditambah lagi sekarang dipermudah dengan layanan belanja online, belanja offline aja udah bisa dijangkau lha ini malah ada belanja online, makin tambah ‘semangat’ aja nih belanja nya.

Belanja bukan hal yang buruk, hanya saja kalo belanjanya itu nggak terkontrol alias overdosis itu yang bisa bikin buruk dan lagi kondisi kantong yang lagi nggak bersahabat. Apalagi kalo kantong nya itu lagi seret, boro boro mikirin belanja buat makan aja kadang bisa di kesampingkan. Nah, yang seperti itu yang seharusnya di kontrol, terjadwal dan nggak terlalu semangat belanja.

Nah, ngomongin soal belanja kadang saya itu mikir orang belanja itu kayak orang yang terhipnotis. Kenapa nggak, soalnya pas belanja itu ngeliatnya barang yang bagus bagus, model yang keren, bahan yang menggiurkan dan serasa kalo pas belanja itu ke hipnotis. Seringkali saya temui barang yang hendak saya beli itu emang perlu saya beli, namun setelah keliling dan memilih model, bahan, kualitas jahitan (baju, celana, dll) saya menemui barang yang ‘sepertinya’ cocok buat sehari hari tapi itu pas masih ditempat pembelanjaan. Pas dirumah, setelah diliat liat dan di cek lagi timbul rasa ‘nyesel’ beli barang itu. Mulai bertanya tanya pada diri sendiri “kenapa saya beli ini?”, model nya nggak jelas gini?, bahan nya juga agak kurang? So, barang yang bagus diantara yang bagus di tempat belanja itu kadang malah berkebalikan sama pas udah dibeli. Jadi seakan akan saya ke hipnotis buat beli barang itu yang nggak mikir pantes nggak pas saya pake, ngerasa aneh nggak pas saya pakai nanti? Itu pertanyaan yang nggak terjawab di tempat belanja dan baru sadar pas di rumah dan udah terlanjur beli barang itu. Seakan akan barang itu pun bisa ngomong “beli saya, beli saya, beli saya” itu yang terjadi kalo barang nya bisa ngomong.

Itu kalo beli offline alias on the spot alias langsung beli ditempat, lain hal nya kalo beli online. Beli online itu memudahkan untuk tidak perlu pergi ke tempat belanja dan berdesak desakan dengan orang lain. Kalo online itu hanya perlu sabar yang ekstra, nungguin barang nyampe alamat yang bener, milih penjual yang udah pasti testimoninya dan sabar kalo nggak sesuai ekspektasi (yang diinginkan). Tingkat kekecewaan belanja online itu kadang lebih besar kalo dibandingkan dengan offline. Secara gitu barang yang mau dibeli cuman bisa liat photonya aja, baca keterangan aja tapi nggak bisa menilai secara fisik nya. 

Share:

Sabtu, 07 Januari 2017

Kereta Jawa

Saat ngerasa bosan sama hal yang udah biasa, mulai kepikiran sama hal yang lain yang ingin dicoba. Entah bakalan lebih baik atau malah sebaliknya, tapi tentu saja nggak ada salahnya dicoba. Ya itung-itung jadi pengalaman, kalo baik ya dilajutin kalo nggak baik ya tinggalin. Sama kayak saya yang baru pertama kali punya pengalaman ini, pengalaman yang sebelumnya cuman dengerin aja dari orang lain dan belum berani buat nyobain. Tapi perlu dicoba.

Kereta api itu salah satu alat transportasi darat yang ada di indonesia, selain juga ada bus dan kendaraan roda lainnya. Transportasi yang mungkin digemari beberapa orang yang istilahnya ‘akses ke stasiun’ cukup terjangkau/dekat, tapi kalo buat yang agak jauh juga masih ada rasa bimbang pilih salah satu transportasi ini. Kalo bagi saya yang agak jauh dari stasiun terdekat pun jadi pilihan sekunder buat perjalanan ke kampung. Menurut saya, enaknya kereta itu lebih cepet kalo dibandingkan dengan bus misal, lebih tepat waktu, jadi lebih seorang yang perlu planning sebelum melakukan segala hal karena untuk mendapatkan tiket kereta ini beda dengan bus. Kalo untuk kereta paling nggak 2 mingguan sebelum tanggal pemberangkatan (karena kalo seminggu nggak jamin bisa dapet, apalagi kurang dari seminggu). Trus waktu pemberangkatan dari stasiun cukup tepat waktu (pengalaman saya). Kalo dibandingkan dengan bus, pembelian tiket bisa seminggu sebelumnya dan itu dapet.

Baru sekitar sebulan yang lalu saya beranikan untuk nyobain naik kereta pas pulang kampung dan itu pertama kali saya naik kereta dengan jarak yang jauh, bukan hanya sekedar beda kota aja tapi juga beda propinsi. Dan apa yang saya dapatkan selama perjalanan saya menggapai pengalaman baru. Penampakan. Iya, penampakan kota yang biasanya hanya dipenuhi dengan kendaraan beroda yang lalu lalang sepanjang jalan tol, begitu banyak bangunan-bangunan tinggi, bangunan dengan masing-masing bertemakan “market” dan begitu ramainya traffic lamp. Ya, itu adalah penampakan saat berkendara dengan bus. Tapi lain hal penampakan saat berkendara menggunakan kereta api. Apa yang saya sebutkan diatas hanya sedikit yang saya liat, semua penampakan itu tergantikan dengan indahnya sisi lain ‘kota’ sepi dengan traffic lamp, sepi dengan “market”, sepi dengan panjangnya jalan tol dan itu tergantikan dengan hijaunya puluhan atau bahkan ratusan hektar sawah, bentangan awan di sepanjang luas nya sawah, begitu gelapnya sebuah terowongan.



Pagi. Iya, kalo nggak waktu pagi nggak mungkin saya bisa liat penampakan seperti itu. Ini sebuah keberuntungan atau bukan saya pun tak tau, saya hanya berestimasi dengan panjangnya perjalanan saya nanti, bukan nggak mungkin harus ngambil jadwal pemberangkatan di waktu pagi. Namun bisa dikatakan sebuah keberuntungan kalo saya bisa melihat indahnya penampakan itu. Dan mungkin nanti suatu saat saya akan kembali menggunakan jasa kereta api untuk transportasi saya saat pulang kampung.
Share:

Selasa, 01 November 2016

Kurang Piknik


Ada istilahnya itu “kurang piknik” yang meng-kode kan kalo orang itu butuh rekreasi alias jalan-jalan alias berlibur (dihari selain hari libur) atau sebutan kerennya itu hang out (bahasa jawa). Piknik ini dibutuhin karena itu merupakan kebutuhan jasmani/rohani yang sebisa mungkin di lakukan di waktu yang emang perlu planning yang bener bener mateng. Saat tubuh ngerasain pegel, capek, udah mager (males gerak), puyeng, pikirannya udah rada kacau (mikirin jernih itu udah kurang). Nah, rasa rasa itu adalah signal atau kode tubuh kita yang udah mulai ngerasa nggak nyaman dan harus segera mungkin kita itu paham signal itu dan bisa action/mencari obat nya dan salah satunya itu adalah piknik. Sebenarnya ada beberapa obat yang bisa sedikit mengobati (sementara) signal tubuh itu. Contohnya dengan pijat, urut, trus relaksasi dan lain sebagainya. Itu beberapa tindakan preventive agar tubuh nggak langsung nge-drop. Tapi walaupun demikian, masih perlunya ngeluangin waktu sibuk yang dimiliki buat piknik.

Sebenarnya piknik itu nggak usah cari yang jauh jauh, parameter kepuasan kan ada di diri sendiri jadi walaupun nggak jauh tempat rekreasinya tapi kalo emang diri udah ngerasa puas ya itu udah cukup. Intinya sih kalo menurut saya, cukup ngeluangin waktu sibuk yang dimiliki buat sekedar “senang senang” dan keluar dari kesibukan sehari-hari yang kadang membuat “penat” pikiran. Kenapa pikiran? Karena pikiran adalah controller seluruh tubuh, saat pikiran udah capek maka efeknya akan ke tubuh juga ikut ngerasain capek.

Jadi piknik itu bisa dikatakan kebutuhan rohani yang melibatkan hati dan pikiran dan secara tidak langsung berefek ke badan (jasmani). Saat kedua hal tersebut terpenuhi, maka dapat dikatakan kalo kebutuhan jasmaninya 50% terpenuhi. Dan kalo menurut saya, piknik itu sarana menjalin sebuah interaksi. Saat seseorang melakukan sebuah perjalanan (piknik) maka dia akan berinteraksi dengan orang lain yang sedang piknik juga di tempat itu. Dari interaksi itu kita bisa mendapatkan informasi yang nggak bakal dapetin kalo nggak piknik, saling berbagi rasa senang, tenang. Begitu banyak hal yang bakalan didapatkan, belajar banyak, lebih tau banyak. Namun, terkadang hal yang nggak diinginkan ialah justru muncul dari diri sendiri yang udah ngerasa bosen mau kemana-mana, udah terlanjur mager dan alasan alasan lainnya. Dan lebih berpikir “ah mungkin hari libur berikutnya aja lah”. Terkadang diri sendiri yang membatasi untuk memenuhi kebutuhan rohani&jasmani, padahal yang tau gimana dirinya ialah diri sendiri.

“Kurang PIKNIK Dapat Menyebabkan Stress, Capek, Badmood, Mikir yang aneh aneh yang berkepanjangan”.

Share:

Minggu, 11 September 2016

Move "ON"

Pindah itu hal yang biasa dan wajar dilakuin oleh beberapa orang yang emang ada suatu tuntutan yang mengharuskannya untuk pergi ke daerah yang baru buat si orangnya. Khususnya anak perantauan yang baru pertama kali merantau dan jauh dari suasana kampung halaman. Beberapa hal yang musti dicari agar lebih betah ditanah orang, mungkin ini salah satunya.
  • Tempat makan


Kalo yang satu ini sudah pasti dicari, kenapa? Karena untuk bisa betah di tanah perantauan pastinya harus nyari-nyari tempat makan yang sesuai selera lidah dan biasanya itu yang mirip-mirip sama rasa makanan di kampung halaman. Tapi buat anak kost biasanya itu cari warteg yang harganya agak ‘miring’ kalo dibandingin sama tempat makan lainnya. Jadi nggak heran kalo pengen nyobain tempat makan yang ada.
  • Kamar kost

Ini juga jadi pilihan yang penting harus dicari, karena lo mau tinggal dimana kalo nggak nyari kost apalagi nggak ada saudara di tempat yang saat ini mau lo tempatin. Kalopun ada saudara itu juga nggak terlalu lama tinggal bersama dengan mereka. Dengan alasan berbagai macam. Pindahan menjadi salah satu kegiatan untuk bisa nyesuaiin sama selera tempat kost yang mau ditinggalin. Mulai dari jarak antara kost dengan tempat kerja, kebersihan kamar kost itu, lingkungan yang bersahabat atau nggak dan pastinya harganya. Jadi nggak heran juga kalo suka pindah-pindah kost.
  • Teman
Iyap betul. Kalo mau betah di tanah orang, paling nggak punya temen yang bisa ngurangin rasa nggak betah lo saat di perantauan. Kamu bisa nanya-nanya ama temen lo itu gimana daerah tempat lo tinggal, rame nggak, orang sekitar ramah nggak dan macem-macem.
  • Gebetan/kenalan sama lawan jenis
Kalo ini sih optional, nggak harus (tergantung orang). Selain temen kadang ini juga menjadi alasan tingkat kebetahan orang di tanah perantauan. Baik temen atau pun ‘temen’ itu bisa aja ketemu di tempat kerja, tempat kost dan yang lain. Karena keseharian lo cuman di antara tempat kerja sama tempat kost.
  • Sering hubungin orang tua
Ini yang paling penting diantara yang penting. Lebih seringlah komunikasi sama orang tua (kalo merantau nggak bareng ortu), beri kabar ke beliau seintensif mungkin. Dengan kasih kabar kamu dan ortumu akan tenang dan ortumu pun nggak kepikiran nantinya karena nggak bisa monitor keseharian kamu. Peran orang tua itu sangat dibutuhkan, arahan dari beliau, dan terutama do’a mereka. Dan saran dari ortumu itu saran yang paling baik, paling bijak.

Itulah beberapa hal yang paling nggak dilakuin sama mayoritas anak perantauan yang intinya mencari tingkat kebetahan dan ketenangan diri saat berada di tanah orang yang serba baru. Hal itu menjadi hal yang nggak bisa terlepas gitu aja dari bagian orang rantau.
Share:

Minggu, 26 Juni 2016

Faktor U


Umur atau usia merupakan angka sebagai parameter kehidupan manusia yang terhitung dari lahir. Atau gampangnya lama waktu hidup. Tapi terkadang angka dari umur itu sebagai indikasi kedewasaan seseorang. Teori ini masih banyak pro dan kontranya, alasannya ialah karena kedewasaan itu diukur dari pola pikir dan tingkah laku seseorang bukan umur. Menurut pendapat dari temen temen saya seperti itu, dan mungkin mereka sudah pernah menjumpai orang yang berumur tapi pola pikirnya masih seperti anak anak atau sebaliknya.

Ngomong-ngomong, ngomongin soal umur atau usia begitu banyak pertanyaan atas umur. Perbincangan masalah umur itu nggak ada kadaluarsanya, selalu jadi yang topik perbincangan walaupun nggak langsung to the point dengan pertanyaan “umur kamu berapa?” tapi dengan pertanyaan yang dimodif kata-katanya yang tanpa sengaja menyinggung umur. Mulai dari bayi nggak ketinggalan kalo nanyain soal umur, nanyain soal umur menjadi topik buat keluarga, tetangga atau kerabat lain di moment silaturahmi. Saat si kecil beranjak dewasa, umur tetap menjadi bahan perbincangan, mulai ada pertanyaan “kapan masuk sekolah?” lho emang sekarang umur berapa?

Nah, jadi umur itu seperti nggak ada habisnya untuk dibahas walau yang ditanyain kadang ngerasa ndongkol. Sudah masuk sekolah menengah atas mulai di tanyain “sudah punya KTP?” karena saat masuk sekolah mengengah atas itu sudah hampir mendekati usia 17 tahun. Dan pembuatan KTP minimal seusia itu.  Tapi nggak sampai disitu aja bahasan umur jadi topik pembicaraan.

Setelah usia menginjak angka 20 itu udah beda lagi bahasannya, tidak terlalu formal tapi kadang “sedih” kalo diinget dan jadi spechless. Setelah lulus SMA dan pengen ngelanjutin buat kuliah, umur jadi topik pembicaraan itu udah nggak terlalu jadi topik utama paling paling cuman lulus tahun berapa?. Tapi kalo udah lulus kuliah dan masuk ke dunia kerja, umur jadi bahan pembicaraan awal perkenalan dengan orang lain. Mulai dari “kelahiran tahun berapa?” trus kemudian dibanding bandingin sama seniornya dan di komen “ah nggak terlalu jauh sama saya”. Dan yang paling bikin spechless itu kalo para senior nanyain “kapan nikah?” atau mau nikah umur berapa? kalo dijawab ntar ada pertanyaan lagi “emang udah ada calon? tambah spechless jadinya. Paling paling cuman bisa senyum "terpaksa" aja, padahal dalam hati juga bingung mau jawab apa. Dan kadang juga sebagai alasan saat lupa sesuatu padahal itu hal yang penting buat diinget tapi malah lupa. “biasa faktor U”

Share:

Minggu, 05 Juni 2016

Adaptasi

Adaptasi atau yang sering dikatakan penyesuian diri terhadap berbagai hal yang baru. Entah itu lingkungan, pekerjaan, orang-orang sekitar. Penyesuaian ini kadang agak berat buat memulainya, karena udah sempat ngerasain beradaptasi di satu lingkungan dan pengen lebih menyesuaikan sampe ketemu kata nyaman. Tapi nggak selamanya nyaman itu jadi pathokan, kalo udah nyaman kadang nggak mau nyobain hal baru lagi jadi kadang bisa membuat tidak ada perkembangan dan kemajuan.

Dan sekarang saya sedang ngalamin adaptasi itu dilingkungan yang baru. Saya harus bisa menyesuaikan dengan berbagai hal yang ada dilingkungan baru saya ini. Nah, dari situ saya harus belajar beradaptasi agar kedepannya saya bisa menggapai kata nyaman di lingkungan baru ini. Mungkin ini beberapa hal yang harus saya persiapkan dalam perjalanan saya belajar beradaptasi.
  • Hati dan pikiran


Ini yang paling penting, walaupun ada berbagai tuntutan yang mengharuskan saya pindah ke lingkungan baru ini, hal itu anggap aja sebagai batu loncatan saya untuk menuju sukses. Tak lepas dari hati dan pikiran saya yang harus saya tata dengan baik agar nantinya dapat berjalan lancar. Karena hati dan pikiran adalah pengontrol utama dari berbagai kegiatan yang nantinya harus saya lalui.
  • Berdo’a


Iya, hal ini juga nggak kalah pentingnya. Setelah menata hati dan pikiran, selanjutnya ialah berdo’a kepada Yang Maha Esa untuk menyerahkan segalanya kepada-Nya.
  • Tubuh/jasmani

Pastinya harus tetep terjaga kesehatannya, agar bisa beraktivitas dalam kondisi badan yang sehat.
  • Bahasa

Iya, kadang lingkungan baru itu juga berarti bahasa baru jadi harus sedikit belajar masalah bahasa yang ada dilingkungan itu. Belum apa-apa udah di tanya bisa bahasa khas sini nggak. Pertanyaan yang membuat saya terdiam.
  • Lingkungan pekerjaan

Bukan cuma lingkungan tempat tinggal, tapi juga lingkungan pekerjaan juga harus bisa menyesuaikan diri dengan itu.


Nah, itu beberapa hal yang biasa yang harus dipersiapkan memasuki lingkungan baru. Banyak belajar, belajar…
Share:

Minggu, 01 Mei 2016

Ekspresi Orang Ketawa

Ketawa adalah sebuah ekspresi alami seseorang yang terjadi jika ada pemicunya, biasanya pemicunya itu hal-hal yang lucu, aneh dan kadang nggak jelas. Kenapa nggak jelas juga masuk dalam kategori itu, kalo lucu itu udah pasti dan masuk akal. Tapi kalo aneh sama nggak jelas itu yang masih dipertanyakan. Nah, sekarang saya sedikit bahas mengenai tingkatan atau kadar hal-hal yang masuk dalam kategori bisa bikin ketawa. Selera humor, iya selera humor tiap orang itu beda-beda. Selera humor seseorang itu dipengaruhi oleh karakter si orang itu dan kesehariannya. Kalo karakter orang itu cuek, jutek itu biasanya perlu pemicu yang bener bener lucu agar si doi bisa ketawa, kalo nggak nyampe kadar lucunya dia nggak akan ketawa, walaupun ketawa itu cuman paling keceng senyum doang dan itu pun buat menghargai si pelucu. Nah, kalo karakter orangnya ramah, kalem, itu biasanya kadar lucunya di sedang sedang aja. Kadang kalo emang ceritanya itu lucu banget sekalipun buat tipe orang kayak gini dia cuman ketawa tapi dikit. Nah, kalo tipe karakter orang yang bebas aja, nyletuk kemana-mana itu biasanya kadar humornya tinggi. Hal yang nggak lucu pun kadang dia ketawa dan tipe inilah yang bisa ketawa kalo ada cerita yang dianggap aneh dan kadang nggak jelas.
Sudah, sudah…cukup intronya, ntar nggak ke topik utama udah bosen nggak mau baca karena intronya nggak menarik. Tapi belum tentu juga topik utamanya juga menarik. Ahahaa……

Saya akan sedikit membahas tentang cerita itu dipandang lucu oleh audien dan bisa dipahami dan menjadikan cerita itu menarik untuk dibahas dan yang penting adalah bisa bikin ketawa audien. Oke, langsung aja kalo gitu…check this out….

Dilihat dari ekspresi si audiennya, dari segi cerita yang dibawakan dan juga raut muka para audien…

Pertama, karena ceritanya itu bener bener lucu dan si pembawanya pinter memberikan pemahaman atas apa yang dia ceritakan dan terlebih lagi audiennya juga paham banget dengan ceritanya (alur). Kalo kasus kayak gini udah dapat dipastikan bakalan sempurna bikin leluconnya, bikin orang lain ketawa. Dan raut muka/ekspresi audien yang seperti ini biasanya udah dapat dipastikan kalo si audien itu pasti terbahak-bahak bahkan bisa aja dia perutnya sakit, atau bahkan nangis karena ketawa.

Kedua, ceritanya nggak nyambung. Iya, kadang orang yang bercerita itu membawakan cerita yang nggak nyambung alias nyeleneh, bahas apaan ceritanya kemana. Tapi bukan nggak berarti semua audien itu ngerasa nggak lucu ceritanya. Dan terkadang malah yang nggak nyambung itu yang lucu. Terkadang. Dan kalo diliat raut muka buat audien yang denger ceritanya seperti itu langsung bisa ketebak. Iya, mrengut/mengerutkan keningnya yang artinya dia bertanya-tanya dalam hati “itu maksudnya apa”.

Ketiga, si audiennya cuman ikut-ikutan. Nah, yang ini bisa aja terjadi dan nggak heran kalo terjadi. Saking nggak tau alur ceritanya, si audiennya itu cuman numpang ketawa padahal doi nggak tau apa apa. Daripada di cap nggak tau apa-apa mending ikut ketawa, yang penting nggak lebih keras dari audien yang ketawanya keras. Kalo yang satu ini biasanya cuman senyum-senyum nggak jelas, mau ketawa tapi nggak ngerti kalo diem aja ntar malah diolok-olok dibilang lola (loading lama). Jadi untuk menutupi ketidaktauannya dia cenderung akan senyum-senyum sendiri, padahal di hatinya itu pasti bilang “pada kenapa kok pada ketawa” dan “semoga gue nggak ditanyain ceritanya, kenapa pada ketawa”. Kadang ada juga yang tipe orangnya penasaran banget, jadi setelah dia nggak ketawa sendiri doi akan nanya ke temennya apa yang sebenarnya terjadi kenapa pada bisa ketawa kayak gitu. 

Share:

Sabtu, 27 Februari 2016

Modif onTheL


Modif, modif istilah orang kalo mau ngerubah sesuatu yang nantinya membuat dia (yang modif) jadi lebih seneng, sesuatu nya jadi lebih baik, enak dipandang dll. Ngomongin masalah modif, apa sebenarnya istilah modif ini? Kalo menurut KBBI, kata modif atau kata yang lebih bakunya itu modifikasi yang artinya pengubahan, mengubah, terjadi perubahan. Melakukan perubahan atas sesuatu yang ingin diubah dari segi estetika, kinerja, atau kenyamanan. Contohnya aja sepeda, sepeda motor atau yang lain, kadang modifikasi ini cenderung ke arah estetika, ingin mempercantik penampilannya agar terkesan lebih “wah” kalo diliat orang. Nah, saking tingginya kecenderungan itu kadang malah mengabaikan segi kenyamanan dan performanya, mungkin pas kita pake sepeda itu kita ngerasa enak-enak aja, enjoy aja karena itu sepeda sendiri, tapi lain halnya kalo sepeda itu dipinjem ama temen dan temen itu ngerasa ada yang kurang/gampangnya ga enak pas dipake walaupun emang sih sepeda itu bagus, cakep. Itulah yang terkadang diabaikan si pemilik sepeda, apa yang menurut kita bagus, baik itu belum tentu bagus dan baik juga buat orang lain.

Ngomongin soal modifikasi sepeda, saya beberapa bulan lalu punya sepeda yang nggak semua orang punya itu, apalagi buat kalangan saya (faktor umur) tapi beda cerita kalo kalangan yang lain. Intinya saya kurang ada temen yang sepemikiran dengan pilihan sepeda itu. Sepeda fixie namanya. Waktu mau beli sepeda itu saya sering cari-cari referensi agar nantinya nggak salah ngambil keputusan saat belinya. Saking banyaknya referensi, saya kembali dengan perhitungan budget yang saya keluarkan buat beli sepeda, dan pastinya memutuskan beli sepeda fixie itu, karena keterbatasan budget tentunya (masalah klasik). Nah, dari keterbatasan budget, mikir dengan budget segitu gimana caranya bisa dapet yang paling murah dari yang termurah, dan pilihannya jatuh pada fixie yang bener-bener baru (baru keluar dari gudang setelah selama 2 tahun nggak dipake). Tau sendiri lah gimana barangnya kalo dengan kondisi seperti itu, nggak perlu saya jelasin lagi. Nah, dari situ pasti saya harus modif, paling nggak saya benerin dulu agar semua berfungsi normal dan untuk estetikanya menyusul.
Penampakan saat baru keluar dari gudang
Nah, seperti itulah sepeda saya saat baru keluar dari gudang pemiliknya. Saat itu dengan kondisi yang benar-benar nggak bisa difungsikan, semuanya nggak fungsi, intinya nggak ready to use.


Modif #1
Untuk pertama kalinya saya merasakan dengan menaiki sepeda saya itu, dengan sedikit sentuhan estetikanya saya cukup pede buat nge-gowesnya.


Modif #2
Yang ini sih nggak terlalu keliatan perubahannya, sengaja seperti karena emang nggak terlalu banyak saya ubah dengan budget yang nggak berlebih juga. Hanya nyobain rem belakang (torpedo) yang berbeda dari saat sepeda pertama beli. Namun, itu nggak terlalu lama karena setelah berapa kali gowes ternyata ada kekurangan yang mengharuskan saya ganti dan balik lagi ke torpeda yang lama. Minusnya ini saat saya gowes, roda belakang terasa goyang-goyang, dan ternyata emang torpedonya yang sempeleng. Itulah alasan kenapa saya beralih ke rem lama.


Modif #3
Nah, setelah beralih ke rem lama ternyata ini juga ada minusnya. Saat itu saya temukan dari rem torpedonya yang nggak keset/pakem dan kejadian ini hampir membuat saya menabrak kendaraan yang didepan saya saat lampu merah. Alhasil untuk mengurangi kejadian yang tak terduga lagi, saya mensiasatinya dengan membeli rem tangan. Dan rem tangan itu saya pasang didepan, berharap ini mampu menanggulangi minus dari torpedonya.

 Nah, itu beberapa perubahan yang saya lakukan buat ngebikin sepeda saya berfungsi normal dan “sedikit” ada kesan estetikanya. Dari situ, saya awalnya emang terfokus pada segi estetikanya saja dan sedikit mengesampingkan yang lain (keselamatan, kenyamanan). Setelah didapat estetikanya, saya baru memikirkan masalah keselamatan.



Penampakan Terakhir




Share:

Senin, 15 Februari 2016

Persepsi atau Pendapat?


Persepsi atau gampangnya itu pendapat akan sesuatu (info) yang telah didapat. Atau juga mengungkapkan apa yang dilihat, berbagai informasi yang udah didapat dan menggambarkannya dalam sebuah tindakan (mengucapkan). Nah, persepsi ini sifatnya pribadi jadi tiap orang pasti beda walaupun nggak jauh bedanya, ada mirip-miripnya lah ama orang lain. Tapi intinya persepsi ini muncul dari diri kita, hati, pikiran dan ucapan/perilaku yang secara nalar merespon sebuah informasi yang didapat. Persepsi ini bisa beda karena salah satunya itu sudut pandang dari orang yang nerima info ini, nah dari situlah kemiripan persepsi antar orang bisa terjadi karena sudut pandang orang itu sama. Kasus yang biasanya itu bisa dari spontanitas atau juga karena udah terlalu biasa ngeliat karakter orang. Kalo yang spontanitas biasanya itu yang lebih jujur, soalnya spontanitas kan nggak pernah dibikin bikin, saking jujurnya malah kadang buat yang di kasih tau rada sakit hati. Kalo yang udah sering ngeliat itu bukan berarti ngeliat orang itu terus dan baru ngasih pendapat, tapi ini lebih ke arah si orang yang berpendapat itu udah cukup banyak informasi, referensi yang mirip dengan kasus serupa.

Trus apa hubungannya ama yang saya tulis? Nah, itu dia yang saya sendiri juga bingung. Jadi pernah saya sekali pasang dp di bbm saya, dan itu pun sekali-kalinya saya pasang photo macam itu dan sekalinya pasang ada aja yang coment dan bilang “mirip siapa gitu” dan “pernah ngerasain masa kelam juga kau”. Dan dua-duanya itu nggak saya pikir akan dibilang orang, kalo masalah komen “mirip siapa gitu” itu ngga terlalu saya pikir njlimet tapi bukan berarti saya suka dimirip miripin ama yang orang komen itu karena itu mustahil. Tapi kalo komen “pernah ngerasain masa kelam juga kau” itu yang bikin saya ke stun, gimana yak …hmm…..kalo di nggak’in kayaknya emang iya, tapi kalo di iya’in ntar malah kesannya saya orangnya ugal-ugalan…hhahhaa….komen kayak gitu keluar pas saya pasang DP bbm pas saya pernah dulu nggondrongin/manjangin rambut. Alasan kenapa saya manjangin rambut itu sebenernya cuman pengen aja, kan kapan lagi bisa ngeresain dan punya riwayat kalo dulu pernah gondrong. Dan cuman pas saya kuliah doang, karena pas sekolah dulu panjang dikit udah disuruh cukur dan ini kesempatan saya buat ngerasain rambut gondrong. Haha……

Mungkin bukan masa kelam tapi ada saatnya setiap orang itu pernah jatuh ke bawah dan ngerasain hal yang diluar nalar (bukan gila) cuman seperti kurang bersemangat buat ngapa-ngapain. Jadi hidup itu datar datar aja. Dan ciri yang pasti itu kalo ada yang ngajak ngobrol jawabnya cuman sekedarnya (karena maksain jawab). Sama kayak air laut yang pasang surut. Tapi itu adalah bukti bahwa dunia ini berputar, kadang diatas kadang dibawah. Saat diatas jangan pernah meremehkan segala hal, tapi saat dibawah jangan terus putus asa dan nggak bersemangat tapi justru pas di saat-saat seperti itulah yang memberi kita kesempatan untuk belajar, berbuat yang lebih baik.

Share:

Sabtu, 23 Januari 2016

Suka Duka Minoritas


Bersosialisasi itu penting, sama halnya kalo bergaul, berinteraksi dengan orang lain. Karena menurut ilmu, manusia itu adalah makhluk sosial atau istilahnya nggak bisa apa-apa tanpa bantuan orang lain. Pada dasarnya, sesuai dengan kata itu berarti untuk mendapatkan apa yang ingin kita capai, inginkan itu butuh bersosialisasi, komunikasi dan bergaul dengan orang lain.

Nah, dalam bersosialisasi ini terkadang terbentuk yang namanya sebuah kelompok yang berisikan anggota-anggota dan kelompok tersebut menyamakan persepsi, tujuan dan pemikiran. Namun terkadang ada aja hal yang nggak ingin terjadi malah terjadi dan hal itu bisa saja menghambat prosesnya. Terkadang ada yang terkucilkan, ada yang nggak bisa nerima pendapat satu sama lain dan lain-lain. Nah, ini beberapa suka duka jadi minoritas.

Sukanya…bisa belajar
Satu, belajar menumbuhkan rasa percaya diri dan yakin. Salah satu hikmah kalo jadi minoritas itu percaya dirinya diuji, konsisten juga di pertaruhkan. Tetap yakin dengan apa yang dilakukan dan itu benar. Karena ujian untuk tetap yakin dan konsisten itu berat banget, kadang ada aja yang bikin goyah, terpancing ama omongan orang lain yang belum tentu benar dan akhirnya memutuskan keputusan yang berlainan dengan hati nurani. Walaupun keyakinan itu salah, dia juga siap buat nerima dengan ikhlas segala konsekuensinya.

Dua, belajar gigih dan tegas. Nah, kalo yang ini biasanya yang menjadi beban berat orang minoritas. Selain menjaga konsistensi dengan pendapatnya, dia juga harus tegas dalam mengambil sebuah keputusan yang nggak mudah.

Tiga, belajar positive thinking. Iya, tetap konsisten dan tetap berpikir positif dalam melihat segala kejadian yang tak terduga yang mungkin akan muncul.

Nah, untuk dukanya…
Satu, ikut salah. Ini mungkin jadi yang paling biasa dan emang sebagian besar pasti seperti ini. Orang yang kurang yakin bahwa apa yang ia lakukan itu benar akan goyah saat kondisinya menjadi orang minoritas dan mengabaikan keyakinan dan malah ikut-ikutan dengan kebanyakan orang padahal belum tentu itu benar. Terkadang mindsetnya masih nyari aman, kalopun salah ada temennya ini.

Dua, jadi yang paling lemah. Dalam bersosialisasi dengan orang lain, terkadang dia malah terjebak dengan keadaan. Contohnya aja seorang perantau yang baru beberapa taun merantau dan pengen mencari teman dengan bersosialisasi dengan orang sekitar di perantauan itu. Namun, dalam suatu hari saat dia masuk dalam sebuah perkumpulan dia jadi lemah, lemah dalam arti karena nggak terlalu paham dengan bahasa dari masyarakat itu, sehingga dia pun memaksakan untuk mengerti walaupun hanya alur pembicaraannya aja. Karena kebiasaan berbahasa yang berbeda dari orang perantau itu, kebiasaan saat di tempat lahir dalam menggunakan bahasa daerah tempat lahir. Dan saat di perantauan, kebiasaa itu nggak cukup banyak yang menggunakan. Jadi dari situ dia jadi minoritas, namun dengan itu muncul keinginan buat belajar menyesuaikan dengan keadaan yang sekarang.


Terkadang kita masih memikirkan untuk tetap berada di zona aman, masih yang penting aman. Nah, karena hal itu kadang membuat diri sendiri menjadi down dan nggak mau jujur, percaya diri bahwa aku ini benar juga berkurang. Ikut suara terbanyak juga menjadi salah satu yang terkadang jadi alesan buat tetap aman, padahal hal itu nggak sejalan ama hati tapi tetap aja maksain buat “iya in”. Dan kalo lagi apes bisa-bisa malah ikut salah karena ikut suara terbanyak. 
Share:

Jumat, 25 Desember 2015

Kenangan Masa Kecil Part II


Ketiga, maen bolanya nggak karuan bener, cuman pengen jatoh jatohan doang. Nah, ini dampak karena maen saat hujan, alhasil nggak serius maen buat mencari keringet atau mencari kepuasan karena nantinya bisa menang. Tapi malah asyik jatoh jatohan karena lapangan yang licin. Jadi saat main pun nggak serius main, tapi asyik saat kita jatoh dan itu nggak bisa tergantikan dengan keasyikan maen yang lain. Itu yang menjadi momen paling menyenangkan dan nggak akan mudah hilang dari ingatan.

Keempat, skor yang dicetak nggak karuan banyaknya. Tujuan dari permainan bola itu salah satunya kemenangan, dan kemenangan itu dibuktikan dengan banyaknya skor yang didapat. Tapi berbeda dengan istilah kemenangan saat saya maen bola saat hujan. Karena saking gampangnya nyetak gol, alhasil skor yang didapatpun juga banyak. Istilahnya kalo di permainan yang saya lakukan ini digambarkan dengan satu kata yaitu nggak mungkin. Karena skornya itu bisa nyampe belasan, bukan cuman 2 : 1, 2 : 3 dan seterusnya.

Kelima, capeknya bukan karena serius main, tapi cuman ketawa dan teriak teriak nggak jelas. Kalo maen bola itu pasti capek karena lari-larian kesana kemari, lari saat menyerang dan kembali lagi saat bertahan. Tapi beda capeknya kalo maennya pas hujan. Karena saat hujan turun itu ngeganggu jalannya permainan, karena bola yang harusnya bergulir cepat saat ditendang tapi ini malah cuman bergulir berapa senti doang dari jarak kita saat nendang. Hal itu yang bikin capek, belum ditambah dengan ketawa dan juga kesel karena udah serius nendangnya malah cuman bergulir deket doang. Ditambah lagi kalo kita juga jatoh, dan jatohnya itu kadang yang bikin ketawa bagi yang nonton.

Keenam, nggak ada batasan pemain. Karena cuman nyari keringet, jadi nggak perlu ada peraturan yang lain kecuali peraturan kayak handball, pinalti, pelanggaran dll. Kalo masalah pemain yang musti main itu nggak ada batasnya, kalo mau main silahkan aja turun dan ikut main dilapangan. Beda banget ama yang di tipi, dengan lapangan yang gede banget tapi orangnya cuman 2 kesebelasan doang.

Ketujuh, pake bola seadanya. Nah, kalo main karena cuman nyari keringet jadi bola yang dipake pun cuman seadanya dan kadang-kadang beda hari beda bola. Kadang pake bola plastik hasil iuran, kadang bola yang dipake kempes, dan kalo lagi beruntung bisa main pake bola yang bener-bener bagus/nggak kempes.

Kedelapan, kalo belum adzan maghrib belum kelar. Nggak ada waktu yang mengikat, cuman ada waktu pas adzan maghrib berkumandang. Beda sama di tipi-tipi yang menentukan waktu 2X45 menit waktu normal. Kalo saya nggak berhenti kalo belum adzan maghrib, cuman yang disayangkan kalo mulainya udah terlalu sore, jadi kan cuman sebentas maen nya.

Kesembilan, dapet julukan kiper dansa. Nah, julukan yang saya dapet dari bermain sepak bola dulu. Karena saya nggak terlalu pinter dalam mengolah si kulit bundar, jadi saya ditugasnya buat jaga gawang jadi kiper. Menurut saya jadi kiper itu adalah pemain yang paling enak, karena boleh menggunakan tangan yang nggak semua pemain boleh gunain tangan itu. Karena akan dikenakan pelanggaran handball. Tugas satu-satunya dari kiper adalah menjaga agar bola nggak sampe masuk gawang. Jadi dengan pikiran masa kecil saya waktu itu ialah yang penting bola nggak masuk gawang saya, jadi saya bebas gimana cara menjaganya. Dan secara reflek, saat bola datang dan hampir masuk ke gawang, saya menghalalkan segala cara agar bisa nahan bola itu dengan berbagai macam gerakan yang nggak lazim. Dansa. Iya, dansa yang terlihat temen temen saya saat saya berusaha menahan bola. Dengan gerakan tangan dan kaki yang bersamaan ke kanan dan ke kiri seperti seorang yang sedang joget. Tapi dengan itu saya bisa menahan bola, dan sedikit bola yang masuk ke gawang saya.


Itulah beberapa hal unik dari kenangan waktu kecil saya. Kenangan yang nggak akan tergantikan oleh yang lain, bahkan dengan kecanggihan teknologi seperti sekarang ini. Kenangan yang sangat menyenangkan, nggak ada tandingannya dengan kesenangan karena ‘gadget’. Istilah untuk anak jaman dulu itu anak angin, tapi untuk anak jaman sekarang itu anak gadget. Anak angin nggak takut akan kesehatannya, tapi anak gadget takut kalo nggak ada gadget yang dipegangnya.
Share:

Kenangan Masa Kecil


Kenangan itu nggak gampang hilang gitu aja, akan terus teringat dalam otak yang bergiga-giga kapasitasnya. Namun hal itu nggak terus teringat, kadang pernah lupa karena nggak ada momen yang bisa mengingatkan lagi dan refresh otak dengan kejadian yang mirip dengan apa yang dulu pernah dilakukan. Ngomongin masalah kenangan, ada kata-kata seperti ini “ingatan itu adalah sesuatu yang hidup dalam hati” kata yang lagi-lagi saya dapatkan dari salah satu anime yang suka saya tonton. Jadi hati sama otak itu sama-sama merupakan anugerah yang sangat berharga, dengan kapasitas yang nggak bisa dibandingkan dengan memori dari perangkat elektronik sekalipun.

Nah, ngomongin masalah kenangan saya jadi pengen nularin kenangan masa kecil saya kedalam sebuah rangkaian kata yang terbentuk kalimat hingga mencapai paragraf. Dimulai dari waktu saya masih bersekolah SD atau bahkan masih SMP. Saya yang punya kebiasaan ‘olahraga’ di sore hari, karena pagi hingga siang hari saya belajar di bangku sekolah, dan saat hampir sore hari menjelang tanpa ada jadwal tertulis tapi hal itu saya lakukan cukup konsisten. Kenapa kata olahraga diatas saya kasih tanda petik? Karena saat saya masih umur segitu, istilah olahraga itu nggak harus ngelakuin apa yang dilakukan di televisi, tapi istilah olahraga menurut saya itu yang sekedar bergerak yang bervariasi dari jenis gerakannya, temponya. Dan olahraga ini adalah bermain sepak bola. Iya, sepak bola yang menjadi jadwal nggak tertulis tapi cukup konsisten saya lakukan tiap sore.



Main sepak bola itu hal yang wajar untuk orang yang berumur segitu, karena nggak ada permainan yang seasyik sepak bola. Dan bermain bola itu saya lihat adalah olahraga yang keren, cowo baget. Nah, kenangan yang akan saya tulis disini ngebahas kenangan saya maen bola. Tapi bukan permainan bola yang biasa, tapi “biasa”. Dan bermain bola yang “biasa” itu adalah bermain bola saat hujan turun. Itulah sebabnya saya tulis kata biasa saya pake ini tanda kutip. Soalnya kalo main bola pas nggak turun hujan, itu udah biasa dan emang biasa dilakuin pasti. Tapi beda kalo mainnya pas hujan turun, walau sering saya lihat di tipi kadang ada juga para pemain sepak bola yang main di waktu hujan, tapi kan mereka emang ada jadwal pertandingan dan itu musti dilakuin mereka, beda dengan saya yang kalo main pas pengen doang, nggak ada jadwalnya. Awalnya sih main seperti biasa pas hari nggak hujan, tapi pas hujan turun bukanya berhenti buat neduh malah dilanjutin ampe bener-bener nggak mau maen lagi. Nah, dari kenangan itu ada beberapa hal unik didalamnya, dan hal unik itu yang saya akan kupas disini.

Pertama, olahraga yang nggak nyari keringat. Iya, tujuan sebenarnya dari berolahraga itu kan nyari keringet, biarin badan kita keringetan kata orang-orang kalo kita sering keringetan pas olahraga itu tandanya sehat. Dan tujuan yang sebenarnya adalah pengen sehat. Kenapa yang saya tulis itu ‘olahraga yang nggak nyari keringet’? faktor pertama yang pasti adalah karena mainnya pas hujan turun, jadi secara nalar badan kita nggak bisa ngeluarin keringet karena hujan yang turun membasahi badan kita.


Kedua, anak kecil itu katanya anak angin. Wah, nggak tau saya dari mana istilah ini, tapi saya juga sering denger kata itu. Kalo menurut saya, istilah ini karena anak kecil yang terlalu aktif mengekspresikan diri tanpa ada ketakutan buat ngelakuin sesuatu. Nekat. Iya, istilah yang tepat buat anak-anak. Dan pas saya maen bola pas hujan dulu, itu saya nggak terlalu mempermasalahkan dampaknya. Karena main bola kan olahraga, jadi pasti akan sehat dan nggak mungkin sakit. Kata itu yang ngejudge saya nekat main bola saat hujan. Dan nggak mikirin kalo kehujanan lama itu bisa sakit, masuk angin. 
Share:

Senin, 14 Desember 2015

Nanya Itu Lumrah Part II

yosh, ini lanjutan dari postingan sebelumnya yang ngebahas Nanya Itu Lumrah. Langsung aja kalo gitu....

Nah, bahas soal kata ‘nggak semua pertanyaan harus dijawab’ itu lengkapnya seperti ini “jangan berharap semua pertanyaan itu musti dijawab”. Hal itu juga berlaku pas loe ladi PeDeKaTe ama lawan jenis loe lewat chatting, kalo langsung kan kadang atau malah pasti dijawab. Tapi beda kalo cuman lewat chatting. Kan jaman sekarang kan lebih gampang kalo mau PeDeKaTe, nggak perlu kirim surat suratan, nggak perlu ke wartel buat telepon dan nggak perlu yang lain. Karena jaman sekarang apa-apa udah gampang, kalo cuman mau “say… hai” cukup ketik di kolom pesan dan sekali klik udah nyampe. Tapi saking gampangnya itu, malah apa-apa juga ikut gampang, gampang betenya karena nggak kunjung dibales, gampang emosi karena cuman di read doang, gampang naik pitam karena signalnya kagak ada dan gampang yang lain. Nah, penyebab yang timbul itu salah satunya juga karena ‘pertanyaan ga selalu dijawab’. Awalnya udah pede saat say …hai dan dibales, tapi abis itu biar chattingan tetep lanjut, jurus nanya dikeluarkan mulai dari ‘kamu lagi ngapain? Gimana kabarnya? Dan sampe akhirnya pertanyaan yang terakhir nggak dibales, padahal kan itu ada tanda tanyanya, tapi kenapa nggak dibales? Emosi lagi, kesel lagi karena cuman di read doang. Nah, sebenarnya teknologi canggih itu belum tentu bisa membuat kita jadi terbantu akan hal itu. Tapi malah sebaliknya karena teknologi yang terlalu canggih malah bikin emosi, kesel, marah marah nggak jelas. Contohnya aja teknologi chatting, awalnya teknologi ini cuman ngasih tau kalo dengan tanda centang, dan itu buat yang make nggak terlalu mempermasalahkan selama dibales oleh lawan bicara. Tapi makin canggih lagi itu dibedain, antara pesan yang terkirim dan terbaca dan itu mungkin yang bikin kesel, emosi. Kenapa? Karena dengan perbedaan itu malah menjadikan berubahnya persepsi dengan lawan bicara.


Tapi nggak semua jawaban itu musti harus dengan suara. Baru-baru ini saya baca quote di medsos, dan quotenya itu ‘silent is an answer too’. Nah, dari kata itu brarti bukan cuman kalo jawab itu harus dengan suara, bisa aja yang ditanya itu diem aja, atau dijawab dalam hati atau cuman komat kamit doang atau juga dengan body language. Kalo jawabannya diem aja ini biasanya terjadi kalo ada orang yang hendak ngelamar calon pasangannya dan pas ditanya si cewe ini cuman diem aja dan biasanya diem aja itu berarti jawabannya iya. 

Hei…
Apa kabarmu jauh disana
Tiba-tiba teringat cerita yang pernah
Kita upayakan
Ku pikir aku berhasil melupakanmu
Berani-beraniya kenangan itu datang tersenyum
Meskipun jalan kita tak bertemu
Tapi tetapi indah bagiku
Semoga juga bagimu
Kau tau aku merelakanmu
Aku cuma rindu
Aku cuma rindu
Itu saja

The Rain - Gagal Bersembunyi
Share:

Kamis, 10 Desember 2015

Nanya Itu Lumrah


Manusia itu adalah makhluk yang suka nanya. Karena manusia dibekali dengan pikiran yang tidak semua makhluk punya itu. Dan manusia itu punya rasa penasaran akan sesuatu, baik itu cuman iseng pengen tau atau emang bener-bener nggak tau dan pengen nanyain. Kayak pepatah mengatakan “malu bertanya, sesat dijalan”. Jadi intinya jangan malu buat nanya, biar nggak tersesat. Dan pepatah ini gampangnya diibaratkan kayak orang yang lagi pergi ke suatu tempat dan tempat itu bener-bener masih asing buat si orang yang hendak pergi. Kalo orangnya diam aja alias pengen nyelonong aja dan coba-coba buat milih jalan sendiri, alhasil dia akan susah menemukan yang dituju walaupun nantinya dia bakalan nemuin itu tempatnya, tapi beda kalo orang itu nanya ke orang sekitar buat petunjuk jalan. Tapi tergantung juga orang yang ditemuin buat ditanyain jalannya, karena ada tipe-tipe orang yang kadang malah ‘nyesatin’ alias orang yang nanya atau orang yang ditanya yang nggak tau maksudnya.

Okeh, balik lagi ke rasa penasaran. Rasa penasaran orang itu beda-beda, ada tipe orang yang penasaran banget ama sesuatu, ada yang cuman penasaran diawal dan setelah itu dia cuek dan ada juga nggak penasaran sama sekali alias masa bodo. Tapi kalo yang saya denger kalo rasa penasaran itu tergantung dari umur si orangnya. Orang yang umurnya masih remaja katanya rasa penasarannya lagi tinggi-tingginya, kalo ketemu apa-apa pengennya nyobain, nanyain ampe detail. Nah, kalo orang yang umurnya udah agak dewasa itu udah berkurang rasa penasarannya, dia cenderung memilih-milih kalo dia ngerasa penasaran akan sesuatu itu bisa menguntungkan buat dirinya, maka dia akan kejar itu, tapi kalo malah ngerugiin dirinya maka dia cuek aja. Dan yang terakhir itu orang yang nggak tau mau disebut apa, remaja atau dewasa nggak tau. Dan itu orang jaman sekarang yang nyebutin penarasan itu dengan kepo. Dan orang macam ini nggak bisa bedain antara dia beneran nanya karena nggak tau dan pengen tau karena peduli dan juga yang nggak bener-bener nanya alias cuman mau mancing dan tebak-tebakan gimana jawabannya. Saking nggak tau bedanya, kadang pas nanya malah dijawab ‘ih.. kepo deh’ kan nggak jelas.

Nah, ngomongin masalah nanya, pertanyaan. Saya jadi inget something yang ada kaitannya ama pertanyaan. Dan itu saya dapatkan dari serial anime yang sering saya tonton. Disitu terjadi perbincangan yang harusnya bertarung karena mereka adalah musuh. Dan disalah satu adegan yang mengharuskan buat ngomong sesuatu dan salah satu yang diucapin itu adalah ‘nggak semua pertanyaan harus dijawab’. Nah, kalo di anime sih ga apa-apa kayak gitu juga karena untuk membangun cerita, tapi kalo didunia nyata kan nggak mungkin seperti itu. Pasti tambah masalah yang ada. Coba aja, saat temen loe nanya ke loe dengan pertanyaan yang emang sebenarnya dia pengen tau jawabannya menurut loe dan loe jawab seperti itu, yang ada loe malah di bilang yang nggak nggak ama temen loe dan itu masih mending kalo cuman temen. Nah, gimana kalo yang nanya itu orang yang mau interview in loe yang sedang cari kerjaan. Dan saat si bapaknya nanya-nanya ke loe sebuah pertanyaan dan awalnya loe jawab sesuai pertanyaannya dan tiba-tiba disalah satu pertanyaan beliau loe jawab kayak gitu. Yang ada malah loe nggak lolos tes. Haha….jangan ditiru, ini cuman candaan dan masalah percaya nggak percaya masalah itu, balik lagi ke pribadi masing-masing gimana menyikapinya. Kalo saya sih jawab sesuai dengan apa yang kita tau, apa yang ditanyain.

Share:

Senin, 30 November 2015

Nulis itu Miras


Nulis itu miras (mikir keras) karena nggak gampang tapi nggak terlalu susah juga. Kalo cuman sekedar nulis, ngetik kata di laptop mah gampang, cuman yang susahnya gimana caranya kata itu jadi kalimat yang bisa berurutan dan nggak ngaco kemana-mana. Itu yang jadi Pe-eR. Saya yang nggak bisa terlalu serius sama alur ceritanya, cuman yang penting nulis apa yang pengen saya tulis doang. Mungkin nggak kayak orang-orang diluar sana yang begitu lihai dalam ngerangkai kalimat yang begitu indahnya dan menjadikan sebuah cerita yang sekali orang baca itu udah tau apa isi cerita itu. Sampai-sampai ada beberapa yang nulis sebuah tips-tips buat pemula (khusus nulis) ampe gimana caranya biar bisa nentuin alur cerita yang ditulis itu. Jadi kalo hasil tulisan itu bisa “kena” si pembacanya. Dari dulu ampe sekarang sih emang nggak pernah, hmm… apa belum pernah atau apa, apa,..apa *gelut diotak, tulisan saya satupun yang alur ceritanya dapet, kena, dan bagus. Namanya juga belajar, ya salah dikit ngga apa-apa *tapi dikit yak dan nggak keterusan. Ah sudah sudah.


Sama aja kayak gambar. Baik itu gambar vektor, design atau typhography. Nge-gambar itu juga miras (dalam hal ini design). Butuh ide, konsep, apa maksud gambar itu dan bla bla bla. Kalo saya sendiri yang suka ama sebuah karya desain, saya itu cuman sekedar gambar, gambar logo, brand atau apalah itu yang sampai-sampai nggak tau kenapa gambar saya harus kayak gitu, apa maknanya. Nah, itu yang sampai sekarang saya nggak tau kenapa, karena menurut saya cuman sekedar pengen aja gambar kayak gitu. Jadi cuman nyalurin pikiran/apa yang ada diotak ke dalam sebuah gambar dan karena pada saat itu juga otak saya nggak mikirin pesan apa yang pengen saya sampaikan lewat gambar itu. Jadi kalo diibaratkan ‘gambar itu harus ada nyawanya’ dan kalo gambar-gambar saya itu kadang ada yang nggak ada nyawanya. Dan nyawanya disini maksudnya ada pesan tersirat dari gambar itu, pesan buat si penerima atau pesan buat yang bikin sendiri. Mungkin karena efek belajar saya yang otodidak gambar, sekedar gambar kalo pengen gambar, dan sekedar nge-gambar kalo lagi pengen gambar tanpa ada tujuan tertentu, cuman sekedar ngisi wasting time yang terlalu banyak. Dan karena cuma iseng, jadi nggak ada target harus bisa ngasilin berapa karya. Dan karena juga nyari ide itu susah, nggak setiap saat dapet. 
Share:

Kamis, 19 November 2015

Penggoda


Sesuatu yang sifatnya masih baru itu biasanya ada rasa sendiri, mulai dari rasa pengen ngerasain lagi, rasa pengen dibetah-betahin terus dan kadang malah pengen disimpen aja biar keliatan tetep baru. Baik itu barang yang bisa dinikmatinya cuman secara fisik alias visual dan ada juga yang secara rohani alias dengan perasaan*sedikit baper. Contohnya aja sepatu baru, sekalinya pake rasanya pengen nggak mau dilepas, tapi juga pengen sekali aja pakenya terus disimpen. Dan kadang-kadang ada juga nggak beneran dipake (buat aktivitas) tapi cuman nyobain biar tau gimana keliatannya (bagus nggaknya), abis itu malah nggak dipake pake karena masih sayang kalo mau dipake buat sehari-hari dan alasan lain karena sepatu yang lama masih keliatan masih bagus. Kalo itu mendingan simpen aja dilemari kaca trus dikunci, nah kuncinya trus buang. Nah, kalo kayak gitu tinggal pantengin aja terus sepatunya ampe bener-bener bosen. Hahaha....

Itu semua sih wajar-wajar aja, selama tingkat kewajaran itu nggak keterlaluan. Saya juga seperti itu, kadang pas punya barang baru itu nggak pengen di pake, karena nggak mau kotor dan barang yang lama masih layak. Ya sekedar alasan klasik aja sih. Nah, sama kayak barang yang satu ini, kalo dibilang barang baru sih nggak baru yak, orang dilihat aja udah keliatan kotornya. Tapi bukan karena barang baru (abis beli) tapi barang yang baru saya miliki aja sih. Abis dikasih dari pak lek, dan emang dirumahnya udah nggak kepake (kalo kepake mah nggak mungkin dikasih) alias udah beli yang baru (paman saya).

TiPi. Iya, televisi yang saya maksud disini. Jadi saya baru dikasih tv dari paman saya ini, dan awalnya saya nggak mau buru-buru dipake karena saya belum beli antena. Tapi berhubung udah rada bosen ama neng lepi, jadi cobain aja pake itu tv nya. Dan setelah saya pergi ke tempat yang jual antena, cuman sekedar nanya-nanya harga ternyata emang mahal, 65 ribu (setelah saya tawar nyampe saya tinggal pergi) tapi saya nggak langsung beli itu antenanya, saya nyamperin paman saya yang deket kosan dan nanya ke dia biasanya harga antena itu berapa. Dan dia bilang sekitar 45 ribu tapi belum siap pasang alias harus ngerakit dulu. Dan antena yang saya tanyain itu seharga 65 ribu itu udah siap pasang, tinggal modal bambu kalo mau dipasang diluar rumah. Terus paman saya itu juga nyaranin buat nanya lagi ke tempat jual antena tapi bukan yang pertama saya tanyain, misalkan kalo beli sendiri-sendiri, beli antena, dan beli kabel trus tinggal dirakit nanti, itu selisihnya berapa, lebih mahal mana, kalo cuman beda dikit mending sekalian beli yang tinggal pasang (ga perlu ngerakit). Tapi nyampe beberapa hari saya nggak nanyain itu. Karena saya emang lagi nggak ada budget buat beli anten dulu.

Akhirnya, dengan bermodalkan internet saya iseng aja nulis di kolom search google dengan keyword “bikin antena dalam sendiri” dan itu muncul cukup banyak, tapi sama aja dari beberapa sumber yang muncul setelah saya ketik keyword itu. Dan katanya disitu hanya bermodalkan bahan-bahan seadanya, nggak perlu modal banyak. Abis selesai baca tutorial itu, saya langsung pergi ke toko antena juga tapi bukan mau beli antena, tapi cuman beli kabel satu meter sama jack (colokan) buat yang ke tv. Terus karena di tutorial itu pake bahan plat aluminium, jadi saya hubungi temen yang kebetulan jual bahan itu. Yowis, semua bahan udah di pasang tinggal ngerakit jadi antena dalamnya. Tapi pada kenyataanya saya nggak sama persis ngelakuinnya, cuman sekedarnya saya aja dan pada kenyataannya saya cuman gantungin kabel tv itu ke plat aluminiumnya dan plat aluminium itu cuman saya senderkan ke papan yang ada ditembok.

Nah, gara-gara tv itu saya jadi ketagihan buat nonton tv terus dan kadang suka males mau ngapa-ngapain lagi, bahkan yang biasanya buka tutup laptop sekarang jadi pencet tv. Walaupun gambarnya cuman sekedarnya dan cuman beberapa channel yang bener-bener enak diliat.   

Share:

About Me

Seorang Mahasiswa Teknik Kimia, suka hal hal simple, minimalis, seorang plegmatis.

Terbaru

Popular Posts

Arsip

Diberdayakan oleh Blogger.