Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label Pengalaman. Tampilkan semua postingan

Sabtu, 04 Mei 2019

Satu Kejadian


Satu kejadian, cukup satu kejadian untuk mengingatkan pada seseorang yang entah itu berbuat baik ke kita atau sebaliknya. Karna terbatasnya ingatan untuk menghapal setiap kata yang terangkai menjadi nama panggilan setiap orang yang berbeda beda, jadi kadang menjadi lupa saat ingin menyapa dan akhirnya di sapa duluan sama lawan bicara. Mungkin juga selain suatu kejadian, bisa juga hafal wajah tapi tidak untuk nama.

Nah, semacam ini sering saya rasakan saat berbagai teman kerja menyapa dan memanggil nama panggilan saya dan bahkan sampai ada yang mengajak untuk ngobrol. Dan itu sering membuat saya membatin “itu siapa ya? Kok tau nama saya?” – saya saja tidak tau itu siapa...

Sama halnya mengingat kejadian di waktu lampau yang masih menyisakan inti dari kejadian itu, dan teringat kembali di momen seperti ini (bulan puasa). Sebagai kegiatan untuk menambah ilmu tentang agama, biasanya orang tua mendaftarkan anak – anaknya ke TPA terdekat untuk belajar mengaji sejak dini. Ya, mumpung belum banyak kegiatan yang menyita waktu kecil selain hanya sekolah dan bermain kesana kesini nggak karuan. Yang menjadi imajinasi saya itu bakalan bepergian sama temen teman naik sepeda gowes ke pondok, menghabiskan waktu siang menjelang sore hingga bahkan sampai malam tiba. Dan waktu waktu itu nggak kerasa cepet banget, baru juga berangkat dengan tenaga yang masih full ku kayuh sepeda ontel jadul berbentuk jengki itu dengan cepat cepat karena waktu masuk pelajaran yang mepet, karena kadang harus lama menunggu temen temen lain pada siap siap. Intinya biar berangkatnya bisa bareng bareng, kalo di hukum karena telat kan juga bareng.

Jam masuk pelajaran sudah tiba dan tinggal menunggu ustadznya datang untuk mengajar, dan waktu satu jam selesai setelahnya istirahat untuk sholat dan dilanjutkan lagi satu jam setelah istirahat. Jadi kurang lebih memakan waktu 2 jam di pertengahan sore hari, bahkan bisa sampai 1 jam lebih nya untuk ngobrol tentang apapun (kalo nggak buru buru pulang). Hingga sampai sore tiba dan di perjalanan nggak sekuat kayuhan di banding waktu berangkat, lebih santai dan menikmati perjalanan sambil ngobrol kanan kiri. Hingga akhirnya melirik ada sebuah kebun yang ditanami buah sawo, berjejer sekitar 3 pohon sawo yang siap berbuah dan di musim itu lagi musim nya sawo berbuah. Karena sudah sering lalu lalang lewat jalur desa itu dan juga dengan kepolosan anak kecil, memberanikan diri walau dengan takut takut untuk menemui pemilik kebun dan meminta ijin untuk memetik buah sawo untuk dijadikan sebagai takjil berbuka puasa. Karena saking banyaknya pohon itu berbuah, sang pemilik pun nggak pikir panjang untuk mengijinkan kami mengambil buah sawo itu.

Rejeki anak sholeh.
Dan dengan satu kejadian itu, sampai sekarang saat melintasi jalan desa itu dan masih ada bentang tanah kosong (belum di bangun rumah) masih ada ingatan soal waktu lampau gowes ontel bersama teman teman sambil ketawa ketawa dan seakan bercanda dalam perjalanan.

Share:

Rabu, 13 Maret 2019

Kesasar yang Berfaedah


Pernah kesasar atau Tersesat? Karena tempat/daerah baru di kunjungi atau malah sebenarnya udah tau daerah tersebut? Jika memang tersesat karena baru pertama kali kunjungan itu wajar, tapi kalo sebaliknya itu nggak wajar. Tapi bisa juga daerah udah pernah di kunjungi tapi karena udah terlalu lama tidak berkunjung lagi itu bisa di bilang sedikit wajar kalo nyasar. Tapi kalo nyasar yang menyenangkan, apakah bakalan terjadi? Ya, saya juga tidak tau pasti kalo seperti itu kasusnya. Cuman kebanyakan kalo kesasar itu menjadi image yang buruk alias tidak menyenangkan, lha wong kesasar nggak tau arah mana mana dan bingung mau ngapain/ngelakuin sesuatu kok menyenangkan. Piye?

Bukan niat bukan juga kesempatan, tapi serendipity atau menemukan sesuatu yang berharga secara tidak sengaja akan menjadi hal yang menyenangkan dan bisa jadi pengalaman baik dalam hidup. Kalo jaman sekarang biasa orang sebut di luar ekspektasi atau angan angan dan terjadi begitu saja.

Nah, hal itu terjadi pada saya sekitar 3 tahun silam. Waktu itu sedang ingin bepergian ke salah satu destinasi Kota Bandung dengan bermodalkan transportasi umum. Tapi bukan sampe di tujuan tapi malah ke destinasi yang lain yang nggak pernah terbayang bakalan kesitu. Karena menggunakan transportasi umum jadi perlu transit beberapa transporter untuk sampe di tujuan. Dan untuk pergi di pool transporter itu perlu jalan kaki dulu beberapa ratus meter. Awal transit, turun dari bus lalu cari cari informasi untuk naik kendaraan berikutnya dengan menembus keramaian pedagang bak pasar malam yang sering jualan pakaian sampe perkakas lain. Nah, setelah itu malah tembus dan ketemu sama tempat bernama Gasibu, begitulah julukan warga sekitar menamai tempat itu. Gasibu ini merupakan tempat dengan visual seperti alun alun kota yang membentang rumput pendek yang hijau dan ada beberapa ornamen di rumputnya dan biasanya warga sekitar memanfaatkan moment pas CFD (Car Free Day) di hari libur. Cuaca cukup menyengat karena pas hampir tengah hari dan di tambah lahan luas yang membentang jauh dari pepohonan menjadikan saya melirik dan jalan ke pinggir.

Yang berikutnya kesasar melewati salah satu monumen yang ada di Bandung yakni monumen perjuangan. Tempat ini juga tidak jauh dari lokasi gasibu itu, dan entah memang area nya tertutup atau memang sedang ditutup untuk wisatawan. Karena saat itu saya harus memutar lokasi untuk mencari pintu masuk, tapi sayang tidak bisa lebih dekat dengan monumen itu karena terhalang pagar yang mengelilinginya. Dengan meninggalkan KTP, saya bisa masuk area untuk umum dan pasti diluar pagar monumen. Lumayan, intinya sempat melihat salah satu monumen yang ada di kota itu.
Monumen Perjuangan
Dan yang terakhir yang nggak di sangka juga, ketemu salah satu ikon kota bandung juga. Gedung sate. Ya, awalnya masih kurang pede kalo itu beneran gedung sate atau hanya gedung dalam kota, tapi setelah melihat lebih dekat bangunan itu ternyata memang gedung sate yang ada di depan mata. Cukup ramai pengunjung di area gedung yang silih berganti untuk mendapatkan momen atau angle yang pas untuk diabadikan lewat kamera. Dan lalu lalang kendaraan dan para pejalan kaki pun ikut menyumbang sedikit crowded lokasi itu. Ya, tentunya saya juga nggak mau kalah untuk mengabadikan momen dengan kamera walaupun cuman kamera ponsel.
Gedung Sate
Dan di akhir perjalanan pulang terlintas depan mata kendaraan yang cukup langka untuk di kendarain di kota itu. Bus tingkat. Ya, bus yang hanya beroperasi di beberapa kota ini salah satunya beroperasi di kota Kembang. Berharap bisa naik dan berkeliling menggunakan bus itu ke tempat tempat destinasi kota Kembang.

Share:

Selasa, 12 Februari 2019

Mandi Air di Air Terjun Kali


Beda schedule beda eksekusi. Mungkin itulah istilah yang pas untuk planning akhir tahun kemarin saat ingin mengisi waktu luang cuti akhir tahun. Saat schedule sendiri ingin solo bacpacker ke sisi lain dari Yogyakarta alias daerah Kaliurang tapi apalah daya kena nego dan iming iming pergi bersama backpacker ke pantai kebumen. Daripada sendirian lebih baik bareng bareng dan pergi ke pantai pula, kalo ke kaliurang jauh dari pantai (pesisir gunung) tapi kalo ke kebumen cukup pergi ke pantai. Dan apalah daya hasil iming imingnya berhasil mengedurkan niatan saya untuk solo backpacker. Padahal kalo dilihat apa yang sering saya lakuin, bukan sekali dua kali saya ber solo backpacker ke beberapa tempat (walau cuman 3 tempat sih) tapi karena biar agak rame dalam perjalanan akhirnya negoisasi dengan diri pun luntur dan meng iya kan ajakan temen.
Secuil dari postingan kemarin, ada beberapa hal yang saya lakuin selama 3D2N di Kebumen. Salah satunya mandi di bawah jatuhnya Air Terjun Kali. Sesuai dengan nama air terjun ini yang terbayang ialah air terjun yang memiliki beberapa kucuran air yang turun dan berurutan sampai tempat yang landai/datar. Terbayang juga akses menuju air terjun ini yang bakalan naik turun mengikuti jalan setapak yang terbentuk akibat pijakan kaki para pencari nafkah dengan berkebun. Dan itu memang benar adanya. Akses jalan motor yang mulai berubah dari jalan aspal ke jalan cor coran setengah yang menyisakan gap/space tengah untuk tanah. Bukan hanya berubahnya jenis jalan tapi juga berubahnya ukuran dari jalan tersebut, dari jalan yang bisa di akses untuk persimpangan mobil dengan mobil, mobil dengan motor hingga motor dengan motor saja. Dan tidak kalah seru nya ialah mulai berjumpa dengan suasana hutan yang rindang dan sejuk bahkan beberapa kali berpapasan dengan udara dingin.

Dengan bermodalkan fitur smartphone ditangan perjalanan dimulai. Sesampainya titik koordinat yang di tunjukan fitur tersebut, ternyata agak ragu kalo memang ini tempatnya. Karena wana wisata ini belum ada yang mengelola, fasilitas petunjuk arah, pintu masuk, tiket dan lahan parkir belum semuanya tersedia hanya saja memanfaatkan space lahan kosong milik warga sekitar untuk tempat parkir dan untuk tiket dan pintu masuk sama sekali tidak ada, yang perlu dilakukan ialah berkomunikasi dengan warga sekitar sebagai petunjuk arah darimana dan kemana arah menuju air terjun itu. Cukup simple petunjuk yang di kasihkan oleh orang warga, “ lewat jalan ini (sambil menunjuk jalan setapak yang menurun) sampai nanti ketemu aliran sungai dan ikuti terus aliran sungai itu menuju muaranya/hulu nya, nanti akan ketemu air terjun itu “. Tak mau berlama lama untuk meng iyakan instruksi itu. Memang benar adanya “cukup mengikuti jalan aliran sungai sampai ketemu air terjun”. Aliran sungai itu memang dangkal dan jalan nya berbatu padas jadi hati hati kalo melangkah – licin.

Saat sampai di lokasi, tempat mandi yang sepi entah karena waktu yang memang lagi sepi (weekday) atau memang belum banyak pengunjung luar desa setempat yang pergi kesini. Tapi bayangan saya cukup terbantahkan dengan adanya sisa bungkus plastik jajanan dan botol minum yang bergeletakan di atas batu batuan padas itu. Dan ini adalah kesempatan yang bagus untuk bisa mandi sepuasnya di situ karena sekitar sepi sekali, hanya sesekali melihat orang lewat daerah itu untuk pergi berkebun.

Air terjun dengan tinggi yang hanya sekitar 4 - 5 meter ini memiliki 2 ruang untuk mandi yakni bagian bawah dan atas karena air terjun ini terbentuk 2 aliran hanya saja yang bisa di pakai untuk mandi hanya bagian atasnya saja, karena setelah aliran yang di bawahnya menyisakan kolam yang dangkal. Untuk kedalaman kolam air terjun ini hanya sekitar 2 meter, air yang tervisualkan warna hijau ini menjadikan air tersebut jernih dan di dukung pula dengan batu padas menjadikan kolam air terjun layak untuk menyegarkan badan dengan berendam di sana. Tapi yang perlu di perhatikan ialah safety nya, karena batu padas jadi lebih licin dibanding dengan batu lain. Oleh karena itu perlu hati hati membuat pijakan kali.

Share:

Senin, 29 Oktober 2018

Jalan Bambu Hutan Mangrove


Taman Hutan Mangrove, salah satu taman mangrove yang ada di Jakarta, daerah Pluit – Jakarta Utara Pantai Indah Kapuk tepatnya. Sebuah taman mangrove yang di kelola dan di budidayakan oleh pemerintah daerah yang menjadi salah satu destinasi wisata pas liburan ataupun bukan liburan.


Bermula dari iseng dengan melihat lihat postingan di media sosial tentang destinasi ini. Dari hasil jepretan dan sedikit edit tentu saja menarik perhatian siapapun, termasuk saya yang penasaran untuk pergi menjelajahi wisata itu. Coba kontak temen temen yang ada di jakarta, cari info dan ‘cari temen main’ biar bisa di ajak ngobrol saat udah disana. Tapi dari semua teman yang ada di Jakarta, semuanya bilang ‘nggak mau’ dengan berbagai alasan yang sifatnya menolak ajakan saya. Yah, itulah problematikanya. Tapi bukan karena itu saya nggak jadi pergi tapi karena itu juga saya merubah dan buat schedule lagi. Cari cari waktu luang dan tentu saja bukan weekend yang pasti padet banget area ibukota. Tapi jadi sepi banget kalo weekday di taman mangrove ini. Cukup luangkan waktu sehari untuk melakukan perjalanan Cirebon – Jakarta bolak balik. Start pagi hari dan pulang malam hari.

Akses menuju taman ini cukup mudah (pake aplikasi ojek online) dan ribet kalo naik transportasi umum karena tentu saja nggak sekali dua kali ganti kendaraan umum. Jadi saya pilih yang cukup mudah saja, bermodalkan 25 ribu sudah sampai di depan gerbang. Dan nambah 25 ribu lagi untuk tiket masuk. Sekedar info, untuk tiket masuk yang sudah di beli jangan langsung dibuang dan perlu disimpan sebentar karena sebelum masuk area mangrove tiket masuk di cek ulang oleh petugas. Dan dilarang membawa kamera tambahan (selain kamera bawaan dari HP) kalo tetep mau bawa juga nanti kena charge (bayar untuk biaya kamera). Selain itu juga nggak perlu bawa makanan, karena di dalam tersedia berbagai macam makanan dan minuman (nggak usah khawatir).

Saat masuk area disambut dengan stand makanan & minuman dan penginapan. Setelah itu para wisatawan bebas memilih area mana yang mau di kunjungi (tentu ada petunjuknya). Yang menariknya ada pendopo yang berdiri megah disana sebagai pusat untuk berkumpulnya kegiatan/event (kalo ada). Setelah itu bisa menjajaki jalan berbambu dan berkayu yang mengeluarkan suara kreket..kreket setelah kita injak. Dan memang akses untuk menikmati hutan mangrove itu melalui jalan/jembatan bambu. Entah mau menikmati pohon mangrove atau berburu spot tempat yang instragam able (jaman now).


Cukup memakan waktu 2 jam untuk sekedar jalan jalan, dan ambil beberapa foto di beberapa latar belakang spot. Jeleknya untuk pelancong sendiri itu nggak ada yang bisa di mintain foto kalo lagi pengen yang nggak selfie (seluruh badan atau yang candid). Tapi semua itu sirna karena ada salah seorang dari pemerintah daerah melancong kesitu juga untuk mengobati rasa isengnya. Jadi, saling ganti gantian foto saja. Setelah dirasa cukup, waktu untuk kembali dan melanjutkan perjalanan. Dan saya sangat beruntung ketemu sama dari pemda ini, karena beliau bersedia berbagi tumpangan karena memang searah sama tujuan saya. Uang 25 ribu masih tertata rapi di dalam saku karena jadi nebengers.

Ya setidaknya sudah terobati rasa penasaran akan tempat itu. Kalo nanti memang pengen main kesana lagi juga ayo aja.

Share:

Selasa, 24 April 2018

Candi Cetho


Peninggalan sejarah, merupakan bukti bahwa ada kehidupan sebelum sekarang. Terbukti dengan benda benda peninggalan yang masih bisa di nikmati sampai sekarang. Entah benda itu sebelumnya sudah nampak begitu saja atau perlu di cari cari lebih dalam dengan mempelajari sejarah itu sendiri. Candi. Salah satu peninggalan sejarah yang masih bisa dinikmati hingga sampai saat ini. Bukti nyatanya ialah candi Borobudur, prambanan dan berbagai candi yang mungkin nggak belum terlalu dikenal kalangan sekarang. Sebenarnya cukup banyak juga nampak candi candi kecil – tak segede candi Borobudur yang mulai menarik perhatian – tujuan wisata. Candi Cetho – salah satunya.

Candi Cetho, salah satu candi yang terletak di kaki Gunung Lawu ini merupakan destinasi yang nggak kalah sama destinasi lainnya – kebun teh, air terjun dll. Malahan menurut saya ini letaknya lebih tinggi dibanding dengan destinasi lainnya, dan itu bisa menjadi daya tarik karena view yang di tampilkan lebih bagus. Dataran tinggi – iya, memang seperti itu, jalur yang nanjak di tambah berkelok, naik motor itu serasa ‘setelah nge-rem karena belokan dan di waktu yang sama itu juga harus nge-gas lagi karena tanjakan’ mungkin itulah gambaran dari jalur menuju Candi Cetho. Selain view yang bagus – kalo cuaca nya cerah tapi juga hawa dingin yang bisa di rasakan disana, hembusan angin, eloknya bentangan bukit hijau nan indah teratur. Oh, iya selain kebun teh masyarakat disana juga menanam daun bawang di ladang mereka – ini terlihat di sekitar area candi. Kalo kebun teh lebih ke jalur menuju candi, tapi kalo di sekitar candi tanaman yang bisa dijumpai itu daun bawang.
Setelah lelah memegang rem plus gas di waktu yang sama dan cukup lama, akhirnya tiba juga di tekape. Tiket masuk dengan harga yang terjangkau – 7rb rupiah saja langsung di arahkan untuk memakai kain kotak kotak hitam putih layaknya pengunjung candi di borobudur/prambanan (kalo nggak salah). Dan prosedur itu menjadi sah untuk menjelajah naik ke candinya, tentu saja dengan naik tangga yang masih alami – batu alam. Satu dua anak tangga memasuki gerbang demi gerbang sampai di atas (puncak). Setelah dicukup lelah (navigator) jadi diputuskan untuk turun beberapa anak tangga lagi sampai kira kira beberapa jepretan wefie dihasilkan. Sempat juga ‘diteriakin’ sama petugas sana, gara gara duduk di salah satu pendopo/rumah gitu, tapi ternyata setelah ketemu petugasnya itu bukan kita yang di teriakin, tapi pengunjung lain yang mencoba naik ke pagar di puncak gerbang nya. Padahal kan duduk di situ itu nggak masalah, jadi itu salah sasaran aja sih – kita aja yang ngerasa salah.

Kurang lebih memakan waktu 1 – 2 jam disana, akhirnya kita memutuskan untuk turun dan pulang – cuaca juga mendung. Dalam perjalanan turun sempet juga pengen mampir di salah satu warung tongkrongan untuk menikmati teh anget dan kalo ada juga yang anget anget lainnya. So, diputuskan untuk mampir sebentar – karena dia udah laper. Dan di warung itu disajikan teh yang ada di sekitar kebun – hasil panen, bukan teh yang lain. Seruputan pertama serasa hangat di badan, tapi seruputan berikutnya sudah nggak terasa hangat nya – efek dari angin yang berhembus di sekitar warung sampe sampe membuat badan juga dingin. Perut sudah terisi, waktu nya untuk menembus rintikan hujan yang menimpa selama perjalanan pulang. Oh, iya setelah makan minum tadi, kita langsung pulang tapi nggak jauh dari tempat makan ternyata hujan mulai turun dan memaksa kita untuk tetap melanjutkan perjalanan dengan menerobos hujan yang deras pletok pletok pletok – mengenai tubuh.

Diakhir menuju rumah, belum lengkap kalo nggak makan nasi – orang indonesia. Jadi kita putuskan untuk mampir di salah satu tempat makan ayam goreng – ayam & bebek goreng kremes mang Anto. Biar nggak terlalu kosong perutnya dan bisa menyebabkan masuk angin, jadi mampir ke tempat makan dulu. Ayam goreng kremes disitu untuk rasa – eem, lumayan tapi yang menjadi perhatian saya itu sambal bawangnya. Ini yang menurut saya menjadi seger menikmati ayam goreng kremes disitu. Sambal bawang dengan cabe rawit hijau stabilo ditambah dengan bawang putih yang beraroma menjadi paduan sambal yang seger, nyegrak, bikin melek tapi juga bikin nambah suapan nasi dan ayam nya.

Share:

Kamis, 14 Desember 2017

NgaYogyakarto

Yogyakarta, kalo denger kata itu udah kebayang alun alun kidul nya, malioboronya, gudegnya dan angkringannya, serasa udah pengen aja main main kesana. Ya itu hanya sebatas angan angan di beberapa bulan yang lalu, tapi angan angan itu terkabul tepat di akhir bulan November lalu. Ya, akhir bulan silam saya coba main main kesana walaupun banyak berita yang mengabarkan beberapa daerah di kota itu sedang mengalami bencana banjir, tapi nggak menyurutkan niat saya untuk sekedar berjelajah kesana.

Awalnya sih dari pengajuan cuti di akhir bulan 11 ini, pas ngajuin awalnya agak berat big boss untuk mengijinkan, tapi setelah beberapa pengajuan opini/reason akhirnya luluh juga beliau untuk ijinin saya cuti 2 hari. Setelah lega dapat acc dari big boss, cus langsung pesen tiket kereta pulang-pergi. Tiket kereta aman, waktunya prepare perkakas yang mau dibawa, dan setelah semuanya aman, pagi tepat jam 8.00 meninggalkan kost untuk ke stasiun, dan jam 9.20 am kereta Fajar Utama Jogjakarta berangkat dari Cirebon. Perjalanan kurang lebih memakan waktu 6,5 jam dan tepat di jam 2.39 pm siang menjelang sore suara cewek di dalam kereta menyuarakan “ladies & gentleman, in a few minute the train fajar utama yogyakarta will be arrive in the last destination stasiun” yang berarti tepat akan tiba di jogja. Keluar stasiun langsung looking for hotel untuk menginap 2 malam di sana. Setelah udah dapat penginapan coba sejenak istirahat sebentar sambil menunggu tenggelamnya matahari yang nantinya saya berencana untuk berjelajah sebentar di sepanjang jalan malioboro karena penginapan di dekat malioboro tapi rencana hanya sebatas rencana, tidak bisa menyalahkan sang pemberi rencana karena cuaca sore-malam itu sedang turun hujan. Akhirnya saya istirahat saja di penginapan untuk menyiapkan tenaga besok paginya.

Pagi pagi mulai prepare untuk mencoba menyimbangi beberapa spot destination yang sedang hits jaman now. Planning ini juga sebenarnya melibatkan kenalan saya yang sedang kuliah di situ, tapi mereka kepentok sama jadwal kuliah. Ya, itu tidak jadi masalah ataupun mengurungkan niat untuk tetap pergi kesana. Tebing breksi, tujuan wisata di hari itu. Dengan mencoba menggunakan tranportasi umum/trans jogja ke halte terdekat dengan tujuan wisata. Akses yang jauh halte akhirnya saya naik ojek menuju tebing breksi. Cuaca saat itu terlihat mendung, dan di tebing breksi terasa dingin/sejuk sampai akhirnya ba’da dhuhur hujan pun turun. Sempat terjebak hujan di tempat pangkalan ojek, saya pun melanjutkan perjalanan pulang. Kurang lebih sejam menikmati hawa dari ketinggian dan memandang/memanjakan mata dengan apa yang telah diberikan oleh-Nya. Paling enak emang bareng temen, segerombolan anak anak main/traveler lain, tapi nggak apa apa hanya sendiri sudah cukup untuk mengobati rasa penasaran dan pengen liat realnya photo photo yang di posting banyak orang. Ada planning juga ke suatu tempat dengan ketinggian yang cukup bagus menikmati panorama dari puncak bukit becici daerah imogiri, bantul. Tapi dengan adanya berita bencana banjir di daerah itu, jadi rencana saya cancel aja.
Tebing Breksi

Planning malamnya mencoba jelajah di sepanjang jalan malioboro dengan skuat dari uii itu, karena waktu saya ada rencana pergi ke jogja itu ya ngabarin mereka, mungkin saja bisa jadi tour guide jogja saya. Jelajah malam di mulai dari menikmati angkringan di salah satu jalan dekat stasiun jogja, sempat ngerasain juga apa itu kopi joss yang denger denger itu memang menjadi ikon dari angkringan itu. Bentuk fisiknya sih kopi item biasa, cuman ditambahin bongkahan kecil arang di masukin di dalam kopi itu, mungkin fungsinya biar tetep anget kopi nya. Nah setelah sudah ngerasa kenyang, kembali ke jalan jalan di sepanjang jalan malioboro sampai akhirnya nemuin pentas seni angklung show (pertunjukan angklung) yang hanya bisa saya saksikan lewat youtube, tapi waktu itu sekitar jam 21.00 angklung show dimulai. Selama sejam menikmati show itu, dan air hujan mulai jatuh rintik rintik dan setelah para skuat pamit pulang saya pun nggak lama kemudian saya juga kembali ke penginapan. Keesokan harinya masih ada planning lagi sebelum pulang ke Cirebon. Sebagai tanda terimakasih dan pengen ngerasain salah satu tempat makan yang cukup rame di jogja. House of raminten. Tapi yang saya samperin bareng skuat itu The waroeng of raminten. Kalo nama sih mirip mirip lah ada ramintennya, tapi untuk menu makanan nggak tau. Tapi di waroeng itu menyajika makanan yang kurang lebih masakan jawa. Dan perjalanan menjelajah jogja saya tutup di waroeng of raminten itu. 
Angklung Show

Share:

Kamis, 24 Agustus 2017

Seklumit Cirebon

Merantau, bukan lagi hal yang luar biasa untuk jaman sekarang, malah terkadang banyak yang berpikir malah keinginan untuk merantau sudah menggebu-gebu. Terlihat dari data statistik untuk setiap tahunnya dalam musim setelah lebaran yang menunjukkan peningkatan jumlah penduduk di kota-kota besar dan menurunnya jumlah penduduk di desa-desa. Hal ini berarti menunjukkan penduduk desa cenderung ingin merantau untuk memperbaiki ‘kehidupan’ mereka. Sama hal nya saya juga yang nggak bisa lepas dari istilah merantau, karena dalam kurun waktu 5 tahun sudah pindah ke 2 kota. Jadi merantau untuk jaman sekarang itu sudah biasa.

Nah, merantau tentu saja menjadi hal yang baru untuk tempat baru. Baik itu diri sendiri, tempat tinggal, dan tentu saja lingkungan yang berbeda dibandingkan dengan waktu masih di desa. Seperti pepatah bilang “kalo mau ngerasa nyaman sama lingkungan, maka dekatilah lingkungan itu sendiri” (pepatah sendiri). Jadi istilah nya ialah kalo mau survive/bertahan mau nggak mau harus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Cirebon. Kota kedua saya destinasi merantau dalam 5 tahun terakhir, karena memang kerja saya disitu jadi pasti saya akan tinggal di situ. Cirebon, kota yang sering di sebut dengan kota udang, ada juga disebut kota wali. Nah, karena baru di kota ini dan juga belum tau persis apa maksud dari sebutan kota itu. Tapi yang saya tau untuk sebutan Kota Wali itu karena di kota ini terdapat salah satu makam wali songo yaitu makam Sunan Gunung Jati. Kalo untuk sebutan kota Udang, saya nggak tau persis history nya. Karena saya nggak mau sok tau jadi mending saya tidak bahas disini.

Kembali ke kata pepatah diatas, “…dekatilah lingkungan” nah dari situ kan secara tersirat untuk bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, mulai dari lingkungan tempat tinggal, tempat kerja sampe ke destinasi destinasi wisata yang ada di kota ini. Bisa mulai dengan tempat wisata, wisata kuliner yang khas di Cirebon. Nah, dari situ sedikit sedikit mulai melebarkan sayap untuk hunting ke tempat wisata dan kulinernya.

Sekitar seminggu lalu saya sempatkan diri untuk mengobati penasaran saya untuk menyambangi tempat wisata yang satu ini. Wisata Pantai Kejawanan. Iya, satu satunya pantai yang ada di Kota Cirebon (setau saya) yang banyak info dari temen kalo pantai ini kurang bagus untuk di jadikan destinasi. Tapi ada juga yang meyangkut pautkan dengan mitos mitos nya. Karena penasaran pengen kesana, akhirnya kesampean juga untuk pergi kesana karena tertarik untuk menikmati golden time sunset. Karena setelah cari-cari info tentang tempat itu, emang banyak yang merekomendasikan pas waktu terbenamnya matahari, karena menikmati udara di pantai itu enaknya di pagi hari atau sore hari (sunrise/sunset) dan semilir angin pantai berhembus begitu sejuk. Karena nggak mungkin pagi hari, jadi saya kesana pada sore hari saat udara nggak terlalu panas dengan sinar matahari dan menikmati sore hari di pantai. Untuk khasnya pantai Kejawanan ini nggak terlalu jauh beda dengan pantai pantai pada umumnya yang menghadirkan pasir pantai yang lembut tapi berwarna hitam, dan ada begitu banyak perahu yang berlabuh dan dapat dilihat di sekeliling pantai mulai dari kapal pengangkut material, perahu nelayan, perahu polisi pantai (mungkin), perahu emergency dan perahu karet yang bisa disewa oleh pengunjung yang ingin sedikit bermain air di pantai itu. Oh iya, perahu nelayan juga bisa di sewa untuk kita yang ingin berkeliling disekitar pantai dengan sedikit agak ke tengah laut dengan uang sewa yang terbilang murah, 5 ribu rupiah.
Dokumentasi Pribadi salah satu perahu masyarakat sekitar

Nah, setelah memakan waktu kurang lebih sejam perjalanan, akhirnya saya sampai di tempat tujuan yang ternyata masih cukup tinggi matahari di ufuk barat dan paling tidak harus menunggu sampai kurang lebih sejam lagi hingga akhirnya saya ngerasa cukup untuk menikmati sunset di pantai itu. Saya disana nggak terjun ke pantainya untuk menikmati pasir pantai karena kondisi saat itu laut lagi pasang, jadi oleh orang sekitar sering disebut banjir. Dan uniknya lagi dari pantai ini, ada bentangan jalan batu yang membentang sampai agak ke tengah laut. Tapi iya itu karena pas hari itu lagi pasang, jadi untuk jalan bebatuan itu agak sedikit terendam air laut tapi masih dibisa diakses. Hati hati saat melangkah, karena itu jalan batu dan kena air jadi agak licin untuk di pijak. Nggak banyak saya mengambil photo untuk sunset nya, tapi cukup diam sejenak menikmati udara semilir, memanjakan mata dengan melihat segala bentuk nikmat-Nya dan mengucap syukur atas apa yang telah saya terima saat itu atau hal yang telah lalu.
Dokumentasi Pribadi bentangan jalan batu

Setelah satu jam saya disitu, saya putuskan untuk beranjak pulang karena saya nggak mau kalo nanti menjelang maghrib masih di dalam perjalanan. Perjalanan pulang nggak selama saat berangkat, mungkin karena sudah mulai terbiasa dan hafal jalan menuju pulang dan ternyata memang pas pulang itu nggak sampe sejam perjalanan. 

Beberapa hasil jepretan pas sunset :)




Sekian.

Share:

Minggu, 20 Agustus 2017

Semarang *lagi

 Dokumentasi Pribadi Umbul Sidomukti

Setelah menyambangi ibukota jawa tengah di bagian kotanya, dan ternyata emang masih penasaran untuk kembali lagi menyambangi kota itu tapi untuk bagian agak jauh dari kota nya. Entah kenapa masih penasaran sama kota itu, sampai sampai senior saya bertanya “ngapain lagi ke semarang? Seneng amat kayaknya”. Mungkin emang seneng, sekalian searah sama pulang kampung, kan nggak ada salahnya mampir semalam dan main seharian sebelum pulang (menurut saya) tapi mungkin emang ada faktor lain yang mengapa saya ingin pergi ke sana. Okelah, nggak usah dibahas sampai panjang lebar, cukup segitu saja dan langsung to the point.

Nah, keinginan untuk menapaki kota semarang yang begitu banyak tempat tempat wisata yang bagus buat dikunjungi, rasa penasaran saya bukan lagi pergi pergi ke bagian kota nya, melainkan ke kabupaten Semarang nya yang denger denger nggak kalah bagusnya wisata di sana. Jadwal keberangkatan dari cirebon tetep sama dengan jadwal sebelumnya, berangkat siang dan langsung mencari beberapa tempat yang bisa buat menginap semalam. Baru keesokan harinya pergi ke tempat tujuan. Karena ada rencana pulang Sukoharjo, jadi nggak usah terlalu lama saya bermain main di Semarang, cukup untuk di tempat yang membuat saya penasaran itu.

Hal ini entah kebetulan atau nggak dengan rencana saya buat main kembali ke semarang. Saya dapat kenalan orang asli semarang, dan setelah kontak kontakan dengan doi dan sedikit bahas tempat yang rencana saya datangi itu, dan doi bilang untuk akses nggak terlalu jauh sama tempatnya. Yaudah, makin mendekati hari H saya pergi, saya intens kontak dia untuk info rencana saya ke dia dan dia memang pada hari itu juga lagi nggak ada kegiatan alias ada waktu luang yang nantinya saya minta bantuan ke doi buat jadi ‘guide’ tour selama saya kesana. Dan doi juga nggak keberatan, itu yang menjadikan saya semakin yakin kalo rencana saya pergi kesana terlaksana.

Umbul Sidomukti. Iya tempat wisata itu yang menjadi tujuan saya pergi ke Kabupaten Semarang. Tempat dengan nuansa alam yang berada di dataran tinggi dan pasti jauh dari padetnya kota Semarang. Nuansa alam yang sejuk, bahkan hawa cukup dingin di siang bolong, benar benar membuat mata saya begitu lama untuk berkedip, dengan hati mengucapkan syukur entah untuk keberapa kalinya. Memanjakan mata yang nantinya menjadikan sebuah memori dalam otak saya yang telah di desain oleh-Nya begitu besar ukuran nya, bergiga giga atau bahkan ber tera tera kapasitasnya.

Tak lepas dari para squad (4 orang) UND*P yang bersedia untuk meluangkan waktunya hanya untuk menjadi ‘guide’ temen main ke sana walau kenyataanya cuman ber3 dan yang satu lagi ada kegiatan yang membuatnya tidak bisa gabung dengan saya dan yang lain. Tapi bukan menjadi halangan bagi yang lainnya untuk tetap mendukung saya dan bergabung bersama sama main ke umbul. Awalnya memang seperti ada kendala dari si dia karena mungkin di waktu lalu mereka sudah pernah kesana dan memang akses nya cukup sulit (jalan menanjak) tapi karena niat mereka untuk bersedia saya ajak main ke situ jadi mereka berusaha untuk tetap pergi kesana. Saya ucapkan terimakasih buat semuanya, nggak ada kata lain selain kata itu dan permohonan maaf saya yang mungkin sedikit ‘memaksa’ kalian untuk tetap pergi ke umbul.

Akses dari Tembalang menuju kesana, kami putuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi (motor). Dengan menempuh kurang lebih 1 jam perjalanan hingga akhirnya sampai ditempat Umbul Sidomukti. Karena waktu berangkat yang terbilang agak siang (jam 11 siang) jadi ditambah satu jam perjalanan tepat di siang bolong (waktu Ungaran). Tapi seperti saya singgung diatas, suasana disana itu hawanya nggak kayak siang bolong, itu karena udaranya memang dingin, sejuk. Setelah membayar tiket masuk dan berjalan beberapa anak tangga turun hingga sampai di spot yang memang orang rame disitu. Sambil berjalan dan sedikit memandang mandang sekitar, kami putuskan untuk istirahat sejenak di gazebo (tempat teduh) untuk mengurangi dan melupakan gimana rasanya perjalanan ke tempat ini. Sembari istirahat, dan sedikit ngobrol kesana kemari hingga nggak tau apa yang dibahas dalam obrolan itu, kami pun putuskan untuk mulai memanjakan lebih lama di spot yang telah tersedia. Dan tentu saja mengabadikannya dalam sebuah jepretan kamera yang nantinya menjadi kenangan, cerita, sekaligus bukti kalo kita sudah pernah kesana. Nggak lama-lama kami memanjakan mata disitu, karena salah satu dari kita ada acara di jam 4 sore dan mengharuskan kita untuk turun dan melanjutkan perjalanan kembali ke Tembalang. Sambil menaiki anak tangga yang sekarang jadi tanjakan, kami putuskan untuk mampir dan mengisi perut kita masing masing.

Setelah cukup banyak berkurang kampas rem gegara jalannya yang turunan, kami pun mampir di sebuah warung bakso yang menurut doi cukup enak disitu. Warung Bakso Pak Mitro. Iya warung bakso itu menjadi tujuan kita makan siang dengan menu yang tentunya Bakso. Setelah beberapa menit mengunyah dan menyeruput es teh manis kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Tembalang. Dalam perjalanan saya dikasih tau untuk menemani saya menunggu jadwal kereta yang masih cukup lama (jam 10 malam) para squad itu mengajak saya untuk pergi ke tempat yang ternyata menjadi desitinasi saya kalo main ke Semarang. Puri Maerokoco. Iya, tempat itu juga salah satu tempat yang cukup populer di Semarang dan timing kesana itu pas banget menjelang matahari terbenam. Sunset. Iya, momentum yang memang pas untuk mengakhiri perjalanan di tempat yang bagus untuk menikmati sunset (tapi sayang agak sedikit mendung).

Puri Maerokoco, tempat wisata yang didalamnya ada beberapa spot yang dinamakan Taman Mini Jateng yang dimana taman itu di persembahkan tempat beberapa kabupaten/kota yang ada di Jawa Tengah dan tentunya dengan icon icon tiap tempatnya. Mulai dari kabupaten/kota yang paling dekat dengan perbatasan Jatim-Jateng yaitu Karanganyar, hingga kabupaten/kota yang dekat dengan perbatasan Jateng-Jabar yaitu Tegal-Brebes. Maerokoco itu sendiri ialah taman air yang disekelilingnya ada tumbuhan bakau yang dikelola oleh pihak setempat hingga menjadikan sebuah Tempat Wisata. Berdiam diri sambil ngobrol ngalor ngidul sampe akhirnya matahari terbenam, nggak kerasa sudah malam mulai menyambut. Setelah menunaikan kewajiban, dilanjutkan lagi jalan jalan di kawasan taman mini jateng karena doi penasaran banget tempatnya nggak ada di situ. Tapi setelah dicari cari akhirnya ketemu juga tempat itu dan doi akhirnya seneng juga, tadinya mau protes kalo tempatnya nggak ada (aneh aneh aja nih orang). Karena dirasa sudah ketemu, akhirnya kita memutuskan untuk memulai perjalanan pulang. Baru mau keluar gerbang utama, ternyata memang ada spot yang bertuliskan Kabupaten Sukoharjo dengan simbol rumah joglo dan tentu saja Patung Jamu icon nya Kabupaten Sukoharjo. Sempat berhenti dan terdiam sejenak memandang tempat itu. Tapi setelah dirasa cukup, kita pun melanjutkan perjalanan pulang.
Dokumentasi Pribadi Puri Maerokoco


Kurang lebih 45 menit dari Puri Maerokoco, kita sampai di Stasiun Kereta Semarang Tawang yang nantinya saya sendiri melanjutkan perjalanan pulang menggunakan kereta api (tentu saja). Istirahat sejenak, dan akhirnya para squad UND*P itu pamit untuk pulang juga. Nggak ada kata selain terimakasih yang bisa saya sampaikan ke mereka atas waktunya, meluangkan waktu di saat saat lagi ‘mulai sibuk’ dan mohon maaf kalo ‘agak’ memaksa. Sampai ketemu di lain kesempatan. Terimakasih.
Share:

Minggu, 02 Juli 2017

nge-Trip neng Semarang

Semarang, ibukota Jawa Tengah yang menjadi salah satu dari 5 kota besar lainnya di Indonesia. Salah satu kota yang cukup terkenal beberapa spot tujuan wisata religi maupun yang bukan religi. Mulai dari wisata Lawang sewu, Masjid Agung Jawa Tengah, Simpang Lima dll. Namun masih ada beberapa wisata yang lain yang jauh dari pusat kota Semarang. Apalagi kita lahir di jaman sekarang yang mudah sekali mendapatkan info terupdate dari berbagai media, salah satunya yang paling besar yaitu media social. Media social menjadi pusat info yang menarik yang menampilkan berbagai macam informasi salah satunya tempat wisata.

Kalo menengok lagi ke catatan seharisemarang, yang saya sambangi hanya di beberapa spot tempat wisata di daerah pusat kota. Kalo untuk mengobati rasa penasaran itu udah cukup, tapi entah kenapa keinginan untuk menyambangi ke kota itu terasa ingin pergi. Pernah juga ngomong didalam hati, “sekarang di daerah kota dulu, nanti baru ke tempat tempat yang agak jauh dari kota dengan melihat panorama alam yang siap disajikan kapan saja”. Itu saya bicara dalam hati pas saya hendak meninggalkan kota Semarang dan kembali ke kota Udang. Rasanya masih ingin melanjutkan perjalanan alias ngetrip di sana.

Oke, 

Pukul 10.35 jadwal kereta Ciremai yang akan membawa saya ke kota Semarang pun berangkat dari stasiun Cirebon. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam hingga sampai stasiun tujuan Semarang Tawang. Setelah turun dari kereta, waktu menunjukkan pukul 2 siang dan saya belum makan siang. Setelah keluar dari pintu keluar stasiun saya mencari cari tempat makan yang ada disekitar stasiun. Warung soto. Iya, warung soto yang saya hampiri dan menjadi menu makan siang saya. Setelah makan siang, saya langsung ke tempat penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya, letaknya juga tidak terlalu jauh dari stasiun Semarang Tawang itu. Sengaja saya cari penginapan yang dekat dekat stasiun saja, biar akses pulang perginya gampang. Untuk penginapan juga lumayan dan cukup buat saya sendiri dan mengingat juga cuman semalam saja saya nginepnya, jadi nggak usah terlalu ‘wah’. Bermalam di penginapan itu cukup buat saya meredakan lelah awal perjalanan dan terlebih lagi untuk mempersiapkan keesokan harinya.

List tujuan perjalanan sudah tertulis jelas, tinggal pelaksanaannya saja alias action. Pagi, bangun dan siap siap, beres beres barang biar nggak tertinggal di penginapan. Pukul 07.30 keluar kamar sembari ngasih kunci kamar ke resepsionisnya dan check out. Tanpa menunggu lama, dengan bermodalkan smartphone akhirnya saya putuskan untuk menggunakan jasa antar jemput online (G*jek) untuk bepergian saya. Tujuan pertama waktu itu ya ke Lawang Sewu. Mumpung masih pagi dengan udara yang sepoi sepoi menyambut saya di sepanjang jalur kota Semarang hingga akhirnya sampai di lokasi. Awalnya saya agak ragu buat masuk, soalnya dengan jam segitu untuk wisata apa sudah dibuka atau masih tutup. Tapi sampai tempat itu memang baru beberapa orang saja yang datang, tapi selang 30 menitan sudah banyak rombongan yang bermunculan. Nggak salah saya pilih waktu pagi agar tidak terlalu ramai. Sekedar keliling tiap tempat dan tak lupa juga mengabadikanya. Menelusuri tiap pintu yang terpampang sepanjang bangunan itu. Dan sempat terdiam di tempat nonton karena waktu itu pas ditayangin film pendek tentang sejarah Lawang Sewu dan beberapa tentang semarang. Film pendek yang dikemas dalam layar ukuran 30 inchi an itu masih menampilkan layar yang hitam putih, suara yang tak terlalu terdengar (buat saya) tapi ada beberapa narasi dengan tulisan tempo doeloe.
Dokumentasi tampak depan Bangunan Lawang Sewu

Tujuan berikutnya ialah menyambangi Masjid Agung Jawa Tengah. Nggak jauh dari lokasi Lawang Sewu dan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Berhubung masih pagi dan perut juga belum sempat diisi pas di Lawang Sewu, akhirnya saya putuskan untuk makan di warung soto daerah lokasi masjid itu. Dan terlebih lagi sambil menunggu waktu hingga masuk sholat dhuhur, karena niat saya memang untuk sekalian sholat berjamaah di masjid itu. Dan untuk kesekian kalinya, setelah beberapa pengambilan gambar akhirnya waktu sholat dhuhur telah tiba. Setelah selesai sholat, masih penasaran untuk mengambil gambar di daerah situ. Tempat itu juga cukup ramai, banyak sekali rombongan bis bis wisata keluar masuk, benar benar event wisata religi. Sampai waktu menunjukkan hampir pukul 2 siang, rombongan bis itu nggak kunjung berkurang juga. Silih berganti. Kerasa sudah cukup puas dengan masjid, akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan ke tempat wisata berikutnya. Dan sebelumnya tetep makan siang dulu. Ehehheh J

Dokumentasi Masjid Agung Jawa Tengah

Masih dengan bermodalnya angkutan online, saya menyimbangi ke tujuan berikutnya. Kota Lama – Taman Srigunting. Iya, tempat terakhir yang saya singgahi sebelum kembali ke kota udang. Hanya untuk sekedar menenangkan/istirahat sambil merasakan hawa ‘hampir’ sore hari. Memanjakan mata memandang sekeliling salah satu taman kota yang ternyata cukup rame juga. Berhubung sudah cukup lama duduk berdiam diri, saya putuskan untuk keliling sepanjang jalan Kota Lama yang menampilkan bangunan-bangunan tua yang mungkin masih tersisa di masa yang lalu. Nggak terlalu banyak saya ambil photo di sekitar kota, tapi hanya memanjakan mata dan menjadi sebuah memori.

Selepas dari taman itu, berakhir pula trip saya menyambangi ibukota Jawa Tengah itu. Sambil nanya nanya letak stasiun ke orang sekitar taman, ternyata cuman beberapa kilometer saja dari taman. So, saya buat jalan jalan sore menuju stasiun. Oh iya, “ Thank You and see you on the next Trip”


Share:

Senin, 24 April 2017

Kacang 'Dewa'


Kacang dewa, sebutan untuk kacang kedelai yang sering saya dan teman teman beli saat masih kuliah kelas karyawan dulu. Entah sudah berapa tahun yang lalu hal itu nggak lagi terasa gimana kita menantikan kacang kedelai itu, saat tanda bel istirahat (adzan maghrib berkumandang) langsung bareng bareng nyamperin warung yang kami anggap sebagai “kantin kampus” (tentu sehabis sholat maghrib) dan mencari makanan atau yang lain demi kita gunakan sebagai ‘pengganjal perut’. Untuk sebutan kacang dewa itu nggak tau persisnya gimana dan kenapa dikasih sebutan itu, mungkin karena emang emergency atau emang nggak ada yang lain atau entah apa lah itu. Jadi seakan akan cuman itu sang penyelamat perut disaat emergency. Apa sebuah anugerah karena masih ada makanan itu dan emang harga nya yang juga miring. Kalo nggak lupa waktu itu harga kacang itu 1000 rupiah, cukup lah dengan beli beberapa bungkus bisa tahan cukup lama. Selain untuk pengganjal perut, fungsi lain dari kacang ini ialah untuk merusak rasa kantuk yang menghampiri di saat jam kuliah kedua yang kadang sampe cukup malam.

Kalo untuk rasa dari kacang ini ialah gurih dan sedikit asin, tapi yang paling nggak enak itu bikin seret alias jadi ngerasa haus. Dan kalo udah haus tapi air minum yang dibawa/dibeli udah habis, disitu kadang saya merasa sedih. Baik dari harga yang terjangkau, ukuran dari bungkusan kacang ini cuman sekitar 5 cm jadi masih bisa beli beberapa bungkus dan cukup di masukin ke kantong.


Nah, entah udah berapa lama saya nggak ketemu kacang yang satu ini, karena udah nggak kuliah lagi dan emang saya sekarang lagi bukan di kota yang sama dengan pas kuliah, alias udah merantau ke kota lain. Kota udang. Ya, cirebon yang sekarang menjadi kota tempat tinggal saya sekarang. Nah, di sini juga ternyata saya mendapatkan kembali kacang kedelai itu. Dengan ukuran dan rasa yang masih sama dengan pas kuliah dulu (rasa asin dan gurih nya kacang itu) masih melekat di dalam balutan plastik ukuran 5 cm. 
Share:

Selasa, 21 Maret 2017

Cidro


Saat masih jaman sekolah ada salah satu mata pelajaran yang namanya Muatan Lokal. Mata pelajaran itu saya dapat dari pas waktu masuk SD sampe SMA, mata pelajaran muatan lokal ini isinya mata pelajaran Bahasa Jawa. Mungkin karena saya berasal dari jawa tengah jadi ada mata pelajaran khusus bahasa jawa, tapi pas ketemu temen yang daerah jawa barat itu juga ada mata pelajaran Bahasa Sunda. Nah, saya pikir itu memang seperti mata pelajaran khusus untuk daerah jawa (untuk tetap melestarikan bahasa lokal).

Pas waktu SD ada tugas atau dalam hal ini sih bisa dibilang ujian praktek (karena moment pemberian tugas itu pas di ujian) untuk menembangkan satu tembang di depan kelas (individu). Tembang ini ialah sebuah lagu yang dinyayikan menggunakan bahasa jawa, isi atau maksud dari tembang ini biasanya berisi ajakan, nasehat dan lain-lain. Dan tembang ini juga bersyair seperti hal nya pantun, saling berkaitan maksud tiap bait nya. Nah, setelah beranjak ke SMP kalo nggak salah tidak ada ujian untuk menembangkan sebuah lagu berbahasa jawa (sedikit lupa). Tapi kalo pas waktu SMA ada juga tugas untuk menyayikan lagu bertema campursari (sedikit modern) yang tentunya menggunakan bahasa jawa. Ada sebuah lagu yang saya sendiri nggak tau kenapa atau alasan apa kok sampe pilih lagu itu. Judul lagunya itu Cidro dari Didi Kempot. Tau kan siapa Didi Kempot? Untuk lebih jelasnya silahkan kepo in siapa itu Didi Kempot. Oke, saya singgung sedikit tentang siapa itu Didi Kempot, Didi Kempot itu merupakan salah satu penyanyi yang berasal dari jawa tengah, tepatnya di kota Solo. Nah, mas Didi ini bermusik dengan menggunakan bahasa Jawa (pastinya) dan mas Didi ini terkenal untuk kalangan lagu jawa. Mungkin dengan aliran musik sedikit keroncong yak, tapi saya nggak tau pastinya.

Oke, kembali tugas menyanyikan lagu berbahasa jawa. Alasan kenapa saya ambil salah satu lagunya mas Didi ini, yang pertama karena lagu-lagu mas Didi ini cukup familiar di telinga (pas didengerin) dan untuk bahasa saya cukup mahir berbahasa jawa (karena asli jawa tengah). Dan untuk menghafal satu lagu ini cukup gampang (sudah familiar) jadi lebih PeDe saat nanti tampil di depan kelas (hapal). Nah, alasan kenapa saya milih lagu mas Didi yang berjudul Cidro ini yang saya nggak tau pasti alasannya. Kalo untuk lirik itu cukup gampang dihapalin, kalo nada lagu ini cukup melo yak, kalo untuk makna lagunya saya waktu itu nggak kepikiran sampe kesitu (makna lagu). Nah, tapi setelah saya denger-dengerin lagu itu beberapa saat setelah selesai maju ke depan kelas nyanyi, liriknya itu memang seperti mengisyaratkan bahwa seseorang di lagu itu sedang patah hati karena alasan beda derajat (misal kaya dan miskin). Dan itu seakan-akan mengisyaratkan itu di beberapa lirik lagu nya.

Wis sak mestine, ati iki nelongso (sudah semestinya, hati ini sedih)
Wong sing tak tresnani, mblenjani janji (orang yang saya cintai, ingkari janji)
Opo ora eling, naliko semono (apa tidak ingat, pas waktu dulu)
Kebak kembang wangi jroning dodo (bagai bunga wangi didalam dada)
Kepiye maneh, iki pancen nasibku (gimana lagi, ini memang nasibku)
Kudu nandang loro, koyo mengkene (harus merasakan sakit, seperti ini)
Remuk ati iki yen eling janjine (hancur hati ini jika ingat janjinya,)
 ora ngiro jebul lamis wae (tidak taunya cuma bohong belaka)
Gek opo salah awakku ini (trus apa salah saya ini)
kowe nganti tego mblenjani janji (kamu sampai tega ingkari janji)
Opo mergo kahanan uripku ini, (apa karena keadaan hidupku ini)
 mlarat bondo seje karo uripmu (miskin harta, berbeda dengan hidupmu)
Aku nelongso mergo kebacut tresno (aku nelangsa karena terlanjur cinta)
ora ngiro saiki kowe cidro (tak kukira sekarang kamu ingkar)

Itu lirik lagu dari Cidro dari mas Didi, jadi bisa dibayangin kan kira-kira apa maksud dari lagu itu.
Nah, kalo menurut berita (info) yang saya sempet denger bahwa lagu yang didengerin itu menggambarkan apa yang sedang dirasakan. Kalo memang lagi happy biasanya dengerin lagu-lagu yang temanya happy juga, bergitu juga kalo misalkan sebaliknya. Nah, tapi beda dengan saya pas waktu milih lagu itu saya nggak sedang dalam status “berhubungan” atau bahasa kerennya itu menjalin asmara dengan cewek. Alias saya waktu itu lagi single. Kalo memang info yang dari dapat seperti diatas itu seharusnya saya dalam posisi nggak lagi single, tapi kenyatannya lagi single. Nah, ini yang aneh memang, itu yang saya rasakan juga waktu setelah saya selesai menyanyikan lagu itu dan setelah saya dengerin beberapa kali lagu itu. Dan sampe sekarang kadang saya masih kepikiran kenapa saya pilih judul lagu itu??


Share:

Selasa, 21 Februari 2017

Piknik

Pada tanggal 20 November 2016 akhirnya saya bisa piknik ‘bersama’ yang seharusnya terjadwal di 2 minggu sebelumnya tapi tertunda karena beberapa hal yaitu kurang paham sama rules nya. Setelah diberi kesempatan seminggu setelahnya ternyata malah gantian miscommunication yang terjadi saya dikabarin kalo nama saya terdaftar untuk berangkat di tanggal 13 November, ternyata nggak paham lagi dan tertunda keberangkatannya. Setelah 2 kali tertunda, ternyata saya dapat kesempatan lagi untuk bisa ngerasain piknik bersama. Emang kalo rejeki nggak kemana, nggak tau saya bisa dikatakan beruntung atau nggak, yang pasti saya akhirnya bisa berangkat piknik di tanggal 20 November itu. Nggak tau apa yang menjadi dasar mengapa saya bisa seberuntung itu, mungkin kalo orang lain hak untuk ikut sudah hangus alias nggak bisa ikut lagi dan harus nunggu tahun depan. Karena nggak paham juga mengapa saya bisa demikian, so positive thinking aja lah dan say alhamdulillah.

Pukul 06.00 harus sudah di posisi (pabrik) iya, karena ini event piknik bersama seluruh karyawan+keluarga (bagi yang udah berkeluarga) kalo belum yaa..ah sudahlah. Terjadwal seperti itu dan untuk persiapan agar nanti dalam perjalanan nggak terlalu memakan waktu yang panjang, jadi pas di tempat tujuan (wisata) bisa lebih quality time deh. Awalnya ragu buat ikut setelah mendengar beberapa cerita dari temen yang lain yang udah duluan berangkat, tapi di lain hal saya udah sebegitu di beri kesempatan yang berulang-ulang, merasa iba/nggak enak kalo nggak berangkat. Sebenarnya udah kebayang gimana nanti, secara gitu ini untuk anggota keluarga karyawan dan yang belum berkeluarga itu pasti nggak banyak jadi gimana nanti saya disana, trus gimana saya bisa berbaur dengan yang lain dan gimana gimana gimana…(tak berujung). Tapi dengan mencoba untuk mempersiapkan itu semua dan mencoba untuk membuat diri sendiri enjoy pas disana nanti, akhirnya saya putuskan untuk berangkat saja.

Setelah sampai di lingkungan pabrik dan melihat-lihat bus nomer berapa yang bakalan saya naikin, akhirnya saya naik dan mencari nomer kursi yang tertera di tiket itu. Selang beberapa waktu sang kordinator bus mulai mengabsen sebari memberikan menu sarapan untuk para penumpang. Satu-satu di panggiil oleh bapak itu, dan tiba saya dipanggil dengan cukup lantang “bapak nur amin dan keluarga” seperti itulah bunyi dari panggilan bapak kordinator itu. Dan cukup membuat rame di dalam bus dengan gurauan dari salah satu penumpang yang terdengar “belum berkeluarga, masih bujang”. Ya, seperti itulah gurauan dari bapak penumpang yang memang cukup akrab dengan saya kalo di pabrik. Saya tersenyum sebari mengambil menu sarapan yang dikasih oleh bapak koordinator itu dan kembali ke tempat duduk saya. Setelah kurang lebih memakan waktu 4 jam, akhirnya saya dan rombongan sampai di pintu masuk temapt wisata. Setelah muter-muter untuk mencari tempat parkir, saya dan rombongan pun turun untuk bareng-bareng jalan menuju tempat wisata yang tidak terlalu jauh dengan tempat parkir bus. Sebari membawa nasi kotak untuk bekal makan siang, saya dan sekumpulan bujang pun berjalan bersama ke tempat tujuan.

Gelanggang samudera, iya itulah tempat tujuan piknik bersama tahun ini. Entah itu tujuan piknik tiap tahunnya atau bukan, yang pasti buat saya itu baru pertama. Kalo denger dari senior sih emang nggak jauh-jauh dari ancol sih, palingan ya di gelanggang samudera/samudera atlantis. Ya tapi itu nggak masalah kok, lagian kan ini dari anggaran perusahaan, jadi yang ini mah gratis dan yang penting ada keinginan untuk berangkat aja. Lanjuut…

Dan setelah masuk di pintu utama wisata yang pertama kali di cari ialah papan pengumunan guna untuk mencari jadwal pertunjukan berlangsung. Pertunjukan ini biasanya emang terjadwal dalam satu hari di tiap jam berapanya, makanya biar bisa nonton semua pertunjukan jadi lah nyari yang sesuai dengan waktu mulainya pertunjukan. Abis dapet selebaran jadwal pertunjukan, giliran mencari arah/rute yang menunjukan dimana pertunjukan itu berlangsung. Pertunjukan yang saya ikuti dalam wisata itu yaitu..
  •  Pertunjukan singa laut. Karena pertunjukan ini terjadwal di awal waktu dan pas dengan waktu kita tiba di situ, so pertunjukan pertama yang saya ikuti. Seperti biasa, sebelum puncak pertunjukan pasti ada intro nya (pengawal). Mulai dari pertunjukan berang-berang dan beberapa binatang lain, barulah abis itu pertunjukan singa laut nya dimulai.

Singa laut show
  • Lumba-lumba. Iya, pertunjukan selanjutnya kalo sesuai dengan jadwal yang saya terima. Disitu disuguhi dengan berbagai macam aksi dari si lumba lumba.

Dolphin show
  • Under water. Entah itu istilah biar yang dateng itu membayangkan kalo pertunjukan ini bakalan ‘wah’, tapi itu justru sebaliknya. Sebenarnya itu menyuguhkan para penari yang menari di dalam air yang di batasi dengan seperti kolam (untuk menyaksikan).

Under water show

  • Stuntman. Pertunjukan yang menurut saya ini menjadi pertunjukan yang menegangkan, disana disuguhkan para stuntman yang beraksi dengan mengambil tema ‘pirate’ alias bajak laut yang ingin mencuri benda pusaka.
  • Cinema 4D. Dalam bayangan saya ‘wah bakalan menyaksikan film action yang bisa nembus ke badan dengan sensasi seperti ikut dalam film itu’, tapi ternyata cuplikan film bertema education yang ditampilkan. Ya mungkin emang penontonnya bukan remaja, melainkan para keluarga. Tapi overall saya cukup terhibur.
Setelah melihat berbagai macam pertunjukan, waktu nya kita pergi ke tempat wisata yang satu lagi. Melihat berbagai jenis ikan yang ada di air tawar/air laut. Berkeliling ke sana kemari untuk melihat satu jenis ke jenis yang lain dari makhluk hidup beringsang. Sambil jeprat jepret ambil gambar sampe sampe bingung ambil gambar apa lagi.

Sebagai kesimpulan, untuk event ini buat saya cukup menyenangkan karena hanya butuh satu kata ‘mau’. Iya, yang penting ada kemauan untuk berangkat karena event ini tidak ada charge lagi (kecuali beli merchandise). Overall saya menikmatinya, cukup menyenangkan, wisata ini memang pas banget buat education dan itu cocok karena event keluarga (anak-anak) dan untuk yang masih melajang menurut saya cukup menghibur dan menikmati event ini. 
Share:

Sabtu, 07 Januari 2017

Kereta Jawa

Saat ngerasa bosan sama hal yang udah biasa, mulai kepikiran sama hal yang lain yang ingin dicoba. Entah bakalan lebih baik atau malah sebaliknya, tapi tentu saja nggak ada salahnya dicoba. Ya itung-itung jadi pengalaman, kalo baik ya dilajutin kalo nggak baik ya tinggalin. Sama kayak saya yang baru pertama kali punya pengalaman ini, pengalaman yang sebelumnya cuman dengerin aja dari orang lain dan belum berani buat nyobain. Tapi perlu dicoba.

Kereta api itu salah satu alat transportasi darat yang ada di indonesia, selain juga ada bus dan kendaraan roda lainnya. Transportasi yang mungkin digemari beberapa orang yang istilahnya ‘akses ke stasiun’ cukup terjangkau/dekat, tapi kalo buat yang agak jauh juga masih ada rasa bimbang pilih salah satu transportasi ini. Kalo bagi saya yang agak jauh dari stasiun terdekat pun jadi pilihan sekunder buat perjalanan ke kampung. Menurut saya, enaknya kereta itu lebih cepet kalo dibandingkan dengan bus misal, lebih tepat waktu, jadi lebih seorang yang perlu planning sebelum melakukan segala hal karena untuk mendapatkan tiket kereta ini beda dengan bus. Kalo untuk kereta paling nggak 2 mingguan sebelum tanggal pemberangkatan (karena kalo seminggu nggak jamin bisa dapet, apalagi kurang dari seminggu). Trus waktu pemberangkatan dari stasiun cukup tepat waktu (pengalaman saya). Kalo dibandingkan dengan bus, pembelian tiket bisa seminggu sebelumnya dan itu dapet.

Baru sekitar sebulan yang lalu saya beranikan untuk nyobain naik kereta pas pulang kampung dan itu pertama kali saya naik kereta dengan jarak yang jauh, bukan hanya sekedar beda kota aja tapi juga beda propinsi. Dan apa yang saya dapatkan selama perjalanan saya menggapai pengalaman baru. Penampakan. Iya, penampakan kota yang biasanya hanya dipenuhi dengan kendaraan beroda yang lalu lalang sepanjang jalan tol, begitu banyak bangunan-bangunan tinggi, bangunan dengan masing-masing bertemakan “market” dan begitu ramainya traffic lamp. Ya, itu adalah penampakan saat berkendara dengan bus. Tapi lain hal penampakan saat berkendara menggunakan kereta api. Apa yang saya sebutkan diatas hanya sedikit yang saya liat, semua penampakan itu tergantikan dengan indahnya sisi lain ‘kota’ sepi dengan traffic lamp, sepi dengan “market”, sepi dengan panjangnya jalan tol dan itu tergantikan dengan hijaunya puluhan atau bahkan ratusan hektar sawah, bentangan awan di sepanjang luas nya sawah, begitu gelapnya sebuah terowongan.



Pagi. Iya, kalo nggak waktu pagi nggak mungkin saya bisa liat penampakan seperti itu. Ini sebuah keberuntungan atau bukan saya pun tak tau, saya hanya berestimasi dengan panjangnya perjalanan saya nanti, bukan nggak mungkin harus ngambil jadwal pemberangkatan di waktu pagi. Namun bisa dikatakan sebuah keberuntungan kalo saya bisa melihat indahnya penampakan itu. Dan mungkin nanti suatu saat saya akan kembali menggunakan jasa kereta api untuk transportasi saya saat pulang kampung.
Share:

Minggu, 23 Oktober 2016

Pangkas Rambut Recommended


Jasa itu perbuatan yang baik, berguna dan bernilai bagi orang lain. Atau suatu perbuatan memberikan segala sesuatu yang diperlukan orang lain, sebagai wujud layanan, servis. Perbuatan ini kadang ada nilai finansial nya dan ada juga yang nggak ada nilai finansialnya. Sebagai contoh yang ada nilai finansialnya itu kayak abang tukang pangkas rambut. Si abang ini membantu kita dengan memberikan sesuatu yang kita butuhkan, dalam hal ini kita butuh untuk merapikan rambut. Dengan pelayanan yang ramah, dan memberikan apa yang diinginkan oleh si orang yang potong rambut disitu.

Nah, ada beberapa yang emang saya nantikan saat pergi ke tukang pangkas rambut.

Pertama, buat ngerapihin rambut saya yang emang udah nggak karuan berantakannya, udah gondrong dan pasti udah suruh buruan potong oleh kanjeng mami (pas ketemu). Karena dengan rambut yang rapih itu bisa menambah kegantengan saya naik jadi 10%. Kan jadi terkesan cowo yang rapih, sopan, baik dan lain lain. Kalo misalkan rambut nggak dirapihin terkesan cowo yang urak-urakan, dan sebaliknya dengan yang sebelumnya. Tapi nggak semua hasil dari tukang potong rambut itu saya suka, puas dengan hasilnya. Tapi ada beberapa yang kadang saya nggak ngerasa puas dengan hasilnya, padahal model yang saya inginkan selalu sama saat saya potong rambut. Tapi kenapa dari beberapa kali potong rambut itu kadang masih ngerasa nggak puas. Makanya, saya kadang masih nyari-nyari tempat potong rambut yang pas buat langganan dan itu harus saya cari dan coba satu per satu. Pernah saya temui tempat cukur yang bagus banget (menurut saya) sesuai dengan hasil yang saya inginkan. Pangkas rambut garut. Iya, pangkas rambut yang satu ini emang bagus buat model model anak muda. Pernah saya denger ada beberapa tempat cukur yang bagus buat dijadiin langganan yang sesuai sama style orang. Kalo style anak muda, tempat cukur garut yang pas. Tapi saya nggak bisa bedain mana yang cukur garut dan mana cukur yang bukan garut meski itu udah ditulisin “pangkas rambut garut”.

Kedua, dengan hasil yang memuaskan dan tentu saja bisa naikin tingkat kegantengan 10%, yang berikutnya yang paling ditunggu tunggu juga ialah layanan pijat gratis. Iya, setelah selesai di pangkas rambutnya, anda akan diberikan layanan pijat gratis (tapi nggak semua tempat pangkas rambut memberikan layanan ini). Nah, disamping kepuasan dari hasil potong rambutnya, layanan yang satu ini juga saya nantikan. Maka dari itu saya sering pindah pindah tempat potong rambut. Kalo hasilnya bagus trus dapet pijat gratis kan tambah enak (langsung recommended). Menurut saya, meski cuman sebentar pijatannya tapi lumayan buat ngeringanin pegel badan. Kadang ada tempat potong rambut yang nawarin dulu mau dipijat atau nggak tapi ada juga yang langsung si abang cukurnya ambil minyak urut dan ngolesin ke bagian yang mau dipijat (bahu, leher dan kepala).

Nah, itu cuplikan pengalaman saya saat searching tempat potong rambut yang bagus (sesuai sama kriteria diatas) buat saya jadikan langganan.

Share:

Minggu, 11 September 2016

Move "ON"

Pindah itu hal yang biasa dan wajar dilakuin oleh beberapa orang yang emang ada suatu tuntutan yang mengharuskannya untuk pergi ke daerah yang baru buat si orangnya. Khususnya anak perantauan yang baru pertama kali merantau dan jauh dari suasana kampung halaman. Beberapa hal yang musti dicari agar lebih betah ditanah orang, mungkin ini salah satunya.
  • Tempat makan


Kalo yang satu ini sudah pasti dicari, kenapa? Karena untuk bisa betah di tanah perantauan pastinya harus nyari-nyari tempat makan yang sesuai selera lidah dan biasanya itu yang mirip-mirip sama rasa makanan di kampung halaman. Tapi buat anak kost biasanya itu cari warteg yang harganya agak ‘miring’ kalo dibandingin sama tempat makan lainnya. Jadi nggak heran kalo pengen nyobain tempat makan yang ada.
  • Kamar kost

Ini juga jadi pilihan yang penting harus dicari, karena lo mau tinggal dimana kalo nggak nyari kost apalagi nggak ada saudara di tempat yang saat ini mau lo tempatin. Kalopun ada saudara itu juga nggak terlalu lama tinggal bersama dengan mereka. Dengan alasan berbagai macam. Pindahan menjadi salah satu kegiatan untuk bisa nyesuaiin sama selera tempat kost yang mau ditinggalin. Mulai dari jarak antara kost dengan tempat kerja, kebersihan kamar kost itu, lingkungan yang bersahabat atau nggak dan pastinya harganya. Jadi nggak heran juga kalo suka pindah-pindah kost.
  • Teman
Iyap betul. Kalo mau betah di tanah orang, paling nggak punya temen yang bisa ngurangin rasa nggak betah lo saat di perantauan. Kamu bisa nanya-nanya ama temen lo itu gimana daerah tempat lo tinggal, rame nggak, orang sekitar ramah nggak dan macem-macem.
  • Gebetan/kenalan sama lawan jenis
Kalo ini sih optional, nggak harus (tergantung orang). Selain temen kadang ini juga menjadi alasan tingkat kebetahan orang di tanah perantauan. Baik temen atau pun ‘temen’ itu bisa aja ketemu di tempat kerja, tempat kost dan yang lain. Karena keseharian lo cuman di antara tempat kerja sama tempat kost.
  • Sering hubungin orang tua
Ini yang paling penting diantara yang penting. Lebih seringlah komunikasi sama orang tua (kalo merantau nggak bareng ortu), beri kabar ke beliau seintensif mungkin. Dengan kasih kabar kamu dan ortumu akan tenang dan ortumu pun nggak kepikiran nantinya karena nggak bisa monitor keseharian kamu. Peran orang tua itu sangat dibutuhkan, arahan dari beliau, dan terutama do’a mereka. Dan saran dari ortumu itu saran yang paling baik, paling bijak.

Itulah beberapa hal yang paling nggak dilakuin sama mayoritas anak perantauan yang intinya mencari tingkat kebetahan dan ketenangan diri saat berada di tanah orang yang serba baru. Hal itu menjadi hal yang nggak bisa terlepas gitu aja dari bagian orang rantau.
Share:

About Me

Seorang Mahasiswa Teknik Kimia, suka hal hal simple, minimalis, seorang plegmatis.

Terbaru

Popular Posts

Arsip

Diberdayakan oleh Blogger.