Kamis, 23 November 2017

Menolak Punah

Membahas soal hobi, hobi itu bisa dilihat dari sudut pandang yang sifatnya subjektif (masing masing orang). Karena tiap orang itu pasti beda beda minat dan bakatnya, kalo minat mungkin lebih ke arah kecenderungan terhadap sesuatu (yang membuat diri orang itu sendiri menjadi nyaman, enjoy ngejalaninnya). Kalo bakat emang udah ada di dalam diri masing masing orang tinggal di asah aja dengan keinginan untuk melakukan (minat).

Dulu pernah terlintas dalam pikiran pas masih kecil, saat mulai tau apa itu sepeda motor. Timbul keinginan untuk memiliki (nantinya) dengan tipe yang seperti apa yang di pengenin. Karena pikiran anak kecil, artinya ia menyimpulkan sesuatu itu dari seberapa banyak dia memandang/melihat (dalam hal ini tipe motor). Karena dulu belum banyak variasi dari berbagai motor, jadi kenalnya ya motor itu itu saja (merk, tampilan,) jadi dalam memori itu menyimpan apa yang selalu/sering dilihat oleh panca indra. Honda Astrea grand. Iya, motor itu menjadi salah satu yang saya ingin punya waktu kecil, dan motor itu juga dimiliki oleh paman saya, jadi semakin sering saya melihat motor itu dan semakin menjadi-jadi imajinasi saya tentang motor satu itu. Dari motor tampilan yang masih standar, trus sekilas lihat sedikit modif dan sampe full modif. Sampai sampai ada tugas seni rupa yang temanya itu tentang kendaraan bermotor, karena adanya motor astrea grand, yaudah itu aja yang langsung digambar di buku polos putih dan terlebih lagi belum ada teknologi yang gampang cari gambar kayak jaman now. Jadi gambar motor langsung bentuk fisik dari motor itu bukan dari gambar motor. Kebayang kan gimana gambarnya kalo objek gambarnya itu nyata (real).

Bukan hanya ingatan masa kecil saja saya menginginkan motor itu, tapi sampai sekarang saya masih ingin punya motor itu, dan alhamdulillah motor itu akhirnya saya punyai sekarang. Untuk alasan kenapa pilih motor itu yang simple aja, motor itu menurut saya enak diapain aja, mau tampilan standar, modif standar, dibikin balap, atau yang lainnya. Kalo dari mesin itu sudah pasti karena honda itu memang cukup bagus untuk mesin jangka panjang. Astrea grand. Motor yang bahkan keluar saat saya berumur 4 tahun itu sekarang masih saya pakai dan kalo dibilang untuk mesin itu masih cukup bagus. Dan terlebih lagi saya bukan orang yang terbiasa ngebut dalam berkendara, kalo pun ngebut itu nggak pernah sampe 100 km/jam. Lebih ke menikmati perjalanan berkendara, walaupun punggung pegel juga lama lama. Ahaaahaa. Tapi itu lah sensasinya berkendara. Cus yuk kita intip kondisi motor saya.

Awal beli motor itu dalam keadaan second (pasti) dan untuk tampilan nggak mungkin kinclong pasti ada cacatnya (body) dan motor itu juga dari pemiliknya yang dulu belum pernah diapa-apain (modif) dan artinya kondisinya masih standar tapi nggak ada body sayapnya. Jadi karena sudah menjadi hak milik saya, saya mau ubah tampilannya agar terkesan lebih ‘enak dipandang’ atau kekinian. Yuk ah, cus welah.....

Liat kondisi jari jari motor yang udah karat/nggak bersih lagi. Jadi nggak usah pikir panjang langsung aja beli jari jari yang udah chrome biar keliatan kinclong. Jari jari sudah kebeli dengan harga yang nggak begitu mahal 2 set depan belakang dipatok harga 120 ribu aja kalo plus pasang jadi kurang lebih habis 200 ribu. Setelah memakan waktu kurang lebih 45 menit dan sampe sampe saya ketiduran di bengkel karna nungguin selesai akhirnya terpasang juga jari jari depan dan belakang. Trus abis itu cuci steam dulu biar keliatan bedanya abis pasang jari jari.

lumayan, agak enak dipandang

Setelah beberapa kali mikir ulang mau diapain lagi, dan akhirnya kepikiran buat pasang cakram depan aja. Setelah berpanas panas belanja perabotan cakram dan aksesorisnya, akhirnya dieksekusi langsung dan motor bermalam dibengkel. Kurang lebih 2 hari ditahan di bengkel, selesai juga itu si item. Test drive pun nggak kelewatan, coba sana sini dan ternyata masih ada beberapa yang perlu dibenahin, sambil nunggu waktu libur jadi ya di pake aja dulu yang penting sudah aman untuk dikendarain. Safety ride. Nih rincian dari pasang cakram :

Cakram, caliper bawah dan cable = Rp. 260.000
Handle rem dan tabung oil =  Rp. 65.000
Tabung shockbreaker depan = Rp. 100.000
Tromol depan = Rp. 65.000
AS depan = Rp. 10.000
Jari jari depan = Rp. 30.000
Gear box speedometer & cable = Rp. 50.000
Biaya pasang total = Rp. 200.000
TOTAL = Rp. 780.000,-
*spare part pake supra

Kalo yang selanjutnya mungkin lebih ke aksesoris aja sih, kayak ganti kontak depan belakang karena udah kendor dan rawan jatuh pas berkendara. Sambil nunggu poles mesin dan part lainnya yang udah keliatan goresan/karatan.

Eemmhh… mungkin itu saja yang bisa saya share terkait ‘sedikit mewarnai’ motor tua satu ini. Kalo harga part yang di ganti itu mungkin beda wilayah beda harga, so itu harga di bengkel sekitar Cirebon ya.

Share:

Minggu, 29 Oktober 2017

Musik Senam

Senam, udah pada tau kan apa itu senam. Yaitu salah satu olahraga dengan menggerakkan seluruh anggota tubuh sesuai dengan irama musik. Senam ini merupakan olahraga yang cukup digemari di kalangan dari yang muda sampai yang tua (bukan lansia), bahkan sampai ada beberapa membentuk kelompok senam. Nah, dalam olahraga senam ini biasanya di pimpin oleh satu atau bahkan bisa 3 orang yang berada di depan barisan untuk memimpin gerakan senam itu. Dan kegiatan kelompok senam ini biasanya dilakukan di area yang cukup luas karena begitu banyaknya anggota yang ikut. Bisa di lapangan/alun alun kota/kabupaten, bisa juga di area teras pusat belanja.

Nah, menyinggung masalah irama musik dalam senam, ternyata memang nggak bisa asal dalam memilih lagu pengiring senam, baik itu musik bernuasa melo, pop, atau bahkan dangdut/reggae. Intinya sih bisa di sesuaikan dengan setiap gerakan dalam senam. Dan lagi senam itu merupakan olahraga yang terstruktur gerakannya, ada pemanasan atau peregangan, inti dan pendinginan.

Saat pemanasan atau peregangan bertujuan untuk mestabilkan gerakan tubuh sebelum masuk ke gerakan inti, agar tubuh nggak ‘kaget’ dan tentu saja mengurangi terjadinya cidera dalam olahraga. Nah dalam pemanasan irama musik sudah dimulai di mainkan, yang saya tau dan sedikit pengamatan biasanya musik yang digunakan itu musik yang sedikit bersifat memacu gairah gerak badan yang awalnya masih belum bergerak jadi lebih terpacu untuk menggerakkan badan. Biasanya dalam tahap ini irama musik yang dipakai itu musik yang beraliran pop.  Dan setelah sudah dirasa ‘panas’ bisa dinaikkan beat nya menjadi aliran musik dangdut yang memang agak lebih terpacu gerakkannya. Bisa juga menggunakan aliran musik rap yang agak agak cepat beat nya. Pernah saya mendengar sepintas lagu yang di putar untuk mengiringi gerakan senam dan lagu itu memang nggak asing buat jaman now karena memang lagu itu sempat hits belakangan ini. Sebut saja Despacito. Nah, lagu itu kan memiliki tempo yang cukup cepat tapi juga bisa mengobarkan semangat dan ditambah lagi dengan gerakan dari senam yang memang di sesuaikan dengan irama musik. Gerakan yang tepat itu nggak lepas dari sang instruktur senam, karena memang dia yang memimpin jalannya senam. Tak banyak juga irama musik dalam senam itu diambil dari lagu lagu band tanah air tentu saja dengan penyesuaian sebelumnya.


Setelah tahap diatas, untuk cooling down atau pendinginan biasanya gerakan senam itu lebih sedikit pelan dan tidak terpatah patah. Nah, saat pendinginan ini irama musik yang pas untuk mengiringi gerakan biasanya menggunakan musik yang agak agak melo, galau dan sejenisnya. Tapi musik dalam senam ini nggak semua pure seperti musik yang sebenarnya dengan kata lain ada beberapa revisi atau cover dengan sedikit menyesuaikan dengan gerakan yang dipakai dalam senam. 
Share:

Sabtu, 21 Oktober 2017

I Fu Mie

Kuliner, sekarang sudah menjadi sebuah wisata yang bisa dibilang ‘wajib’ kalo pas pergi pergi. Karena wisata kuliner itu hubungannya sama perut, kalo nggak makan kan nanti jadi masalah. Dan kenapa menjadi sebuah tujuan wisata, karena sifatnya yang limited edition dan hanya bisa ditemukan di tempat itu saja dan tentu saja menjadi yang ‘khas’ di daerah tersebut. Sebut saja salah satunya kota udang dengan tahu gejrot, empal gentong dan nasi jamblangnya yang memang hanya ada di Cirebon (walaupun sekarang sudah bisa ditemukan di kota kota besar) mungkin orang Cirebon lagi merantau ke luar kota untuk mencari nafkah yang lebih baik. Dan ada juga di kota hujan dengan soto mie nya dan kota lainnya.

Nah, ngomongin soal kota hujan alias bogor. Beberapa minggu kemarin tepatnya akhir bulan kemarin saya dapat tugas dari kantor untuk melakukan training yang mengharuskan untuk pergi ke kota hujan itu. Bagi saya yang cukup lama merantau disana nggak terlalu khawatir untuk mencari beberapa menu makanan untuk keseharian saya nanti disana. Awal keberangkatan saya dari kota udang sekitar jam 9 pagi dan menempuh perjalanan kurang lebih 3 jam untuk sampai di stasiun Gambir. Dari gambir saya harus melanjutkan perjalanan dengan memakan waktu kurang lebih 1 jam an untuk bisa sampai di Bogor. Nah, sampai di Bogor nggak lengkap rasanya kalo nggak nyicipin soto mie nya. Berhubung waktu itu saya juga belum makan siang, dan terlebih lagi saya orang yang suka makanan yang berkuah salah satunya soto. Walaupun sudah beberapa kali nyicipin soto mie tapi rasanya pengen nyicipin lagi dengan tempat makan yang berbeda tentunya.

Saya beserta temen kerja saya (sebut saja bos kuliner) yang training disana selama seminggu. Dan selama seminggu kedepan saya bakalan bareng bareng buat cari makan nya. Mungkin saya yang nantinya menyesuaikan menu makan si bos kuliner ini, ya mungkin karena kebiasaan makan yang berbeda dari kami. Setelah sekitar 2 hari makan dengan menu yang sama (sebut saja nasi goreng) akhirnya bos kuliner ngajakin buat nyobain menu makan yang beda dan juga karena udah hari ke-4 saya disana dan hari ke-5 nya itu langsung pulang lagi ke Cirebon. Nasi goreng, kenapa makannya cuman nasi goreng? Ya, karena akses untuk cari makannya yang mudah (karena posisi malam hari dan dekat dengan penginapannya) dan terlebih lagi menu makan yang selain itu aksesnya jauh dan kadang malas untuk perginya. Awalnya sih cuman wacana kalo pengen makan diluar kan ngepasin malam terakhir di Citeureup, tapi pas coba pastiin ke temen yang lain (berhubung kedatangan temen 1 lagi) akhirnya jadi juga cari makan diluar Citeureup. Dan untuk akses ke tempat makan, coba pesan transportasi online yang ready disitu, setelah dapat trus gas menuju tempat makan.

Ked*i kita. Iya, tempat makan destinasi kuliner kita malam itu dan itu juga karena bos kuliner yang kasih recommended. Tapi waktu mendekati malam yang mungkin juga bakalan tutup tempatnya (karena posisi di dalam mall) jadi ngikutin jadwal buka-tutup mall. Pas sampe disana memang sudah banyak berkurang orang yang lalu lalang di dalam mall, kedai itu juga sudah menampakkan suasana yang sepi, dan pesanan kami menjadi orang ke-2 terakhir yang pesan makan. Tapi yang terakhir menjadi tamu yang meninggalkan tempat makan. Biar nggak kemaleman, langsung saja kita pesen menu makanannya. I fu mie. Nggak tau makanan seperti apa itu, tapi yang pasti itu sudah recommended bos kuliner (karena dia pasti pernah makan makanan satu itu). Awalnya saya mau makan yang bisa pake nasi, macam ayam goreng/bakar. Tapi temen saya yang satunya lagi juga pesen mie itu, jadi yaudah aja pesen 3 aja untuk mie itu toh saya itu juga posisi di bayarin, jadi aja ngikut welah. Free. Iya, karena suatu alasan yang nggak bisa saya tulis disini alasan kenapa saya dapet free makan malam. Tapi yang pasti saya mempunyai temen temen yang super baiknya.


I fu mie. Menu makanan yang di hidangkan dalam kondisi masih panas (kayak ada hot platenya, tapi bukan). Untuk secara fisik, sama seperti mie mie biasa, cuman dia agak kering pas dihindangkan sebelum di balurin oleh kuah kental dan berbagai sayur & rempah rempah. Untuk rasa, sebagaimana saya baru pertama ngerasain overall itu makanan yang enak, gurih. 
Share:

Sabtu, 23 September 2017

Sabtu eui

Sabtu minggu kemarin itu rasanya beda kalo dibandingkan dengan weekend lain (tentu saja sebelumnya). Karena biasanya di hari libur weekend pasti ada salah satu hari yang bakalan dapat jatah piket jaga pabrik. Jadi seakan akan sudah nggak ngerasa lagi kalo hari libur lagi. Entah sabtu atau minggu pasti ada jatah piket jaga pabrik. Menurut saya, kalo piket di hari sabtu itu lebih enak dibandingkan dengan hari minggu. Karena kan hari jumatnya masih masuk kerja, dan kalo sabtu masuk kan nggak ke potong libur dulu jadi masih terbiasa masuk kerja. Beda kalo jatah piket hari minggu, karena udah keselingan satu hari jadi rasanya agak gimana gitu kalo masuk lagi setelah keselingan hari libur. Tapi setelah saya cerita ke temen, menurut dia malah enakan hari minggu masuk dibandingkan hari sabtu, soalnya untuk persiapan dan bahan untuk meeting di hari keesokan harinya. Ya, itu lah pendapat masing-masing, bisa di bilang bagus ya untuk beberapa orang saja, begitu juga dengan sebaliknya.

Betewe, agak menyimpang dari topik yang saya mau tulis. Tapi nggak apa apa, untuk nostalgia saja. So, lanjut aja dulu. Weekend kemarin itu bedanya sama weekend sebelumnya itu karena cuman ada acara di bogor (nikahan temen kuliah) *trus saya kapan nikah? *baper. Halah, jadi ngelantur kemana mana kan. Okelah, dilanjut lagi aja. Iya, jadi sabtu kemarin itu ada acara nikahan temen dan saya sengaja menyempatkan diri untuk menghadiri undangannya, lagian nggak bentrok juga sama jadwal weekend minggu itu. Nah, untuk perjalanan saya berangkat menggunakan angkutan kereta api yang jadwalnya sudah pasti tapi harus muter-muter ke Jakarta dulu baru transit ke bogor. Sebenarnya ada sih bus yang langsung ke bogor, tapi pengalaman sebelumnya malah sampe bogor itu siang. Kan niatnya mau liat pas akadnya dan jadwal akad itu jam 10 an. Kalo ikut  pengalaman yang naik bus baru nyampe bogor jam ½ 11 an, pasti kan telat. Dan sekarang saya coba naik kereta yang jadwalnya pagi tapi apalah daya saya seorang penumpang. Keretanya nggak telat, cuman perjalanan pake taksi nya yang macet di jalan tol. Huft. Kebayang kan kalo naik bus, dan ternyata jalan tol nya juga macet. Pas berangkat menuju bogor itu rasanya nggak ada greget greget nya, main kesana ya main aja toh pas libur ini. Tapi beda pas pulang dari bogor.


Nah, pas balik cirebon, masih sama menggunakan angkutan umum kereta api dari St. Gambir – St. Cirebon. Balik dari bogor sengaja ambil jadwal kereta yang pagi hari (jam 9) biar nggak terlalu malam sampe cirebonnya, lagian paman ternyata juga ada acara hari minggu paginya. So, nggak lama lama juga saya nginepnya. Dari bogor nyambung kereta dari commuter line ke St. Gambir. Di St. Gambir pas keretanya baru nyampe dan langsung berangkat jam 9 itu, lihat nomer duduk dan tinggal nikmatin aja perjalanan balik. Baru sadar kalo ternyata pilih nomernya salah, jadi aja bertolak belakang dengan laju kereta alias keretanya jalan mundur. Nah, tapi anehnya nggak kerasa puyeng (biasanya kalo berlawanan arah itu kadang bikin puyeng). Selagi coba nikmatin perjalanan pulang, eh di kereta di putarin lagunya nidji yang jadi sountrack film 5cm. Jadi ke inget adegan adegan yang pas lagu itu diputar. Dan jadi serasa ikut dalam pemutaran film nya, cuman yang membedakan suasana kereta di film itu diambil pemandangan luarnya bentangan berhektar hektar tumbuhan (sawah), tapi kalo saya pemandangan tingginya gedung gedung di Jakarta. “Negeri ini indah Tuhan, bantu kami menjaganya” kata Zafran – Kutipan dialog film 5cm. 
Share:

Senin, 18 September 2017

Cung - Nok nya Cirebon

Masih membahas sedikit tentang kota Udang. Jika sebelumnya saya bahas wisata alam dan kulinernya, maka bahasan saya kali ini agak berbeda yaitu tentang budaya masyarakatnya. Panggilan orang, umumnya berbeda di tiap daerahnya, kebanyakan dengan menggunakan singkatan biar lebih gampang untuk memanggilnya, kalo dari daerah saya (jawa) itu panggilan untuk anak laki-laki biasanya di panggil dengan ‘le’ dan untuk perempuannya dengan ‘nduk’. Hal ini tentu saja berbeda di tiap daerahnya. Begitu juga untuk Cirebon yang saat ini sedang saya tempatin. Langsung saja kalo gitu.

Cung. Iya, saat mendengar kata itu yang terbayang di pikiran saya itu singkatan dari kata mancung. Karena saat saya mendengar ini dari bibi saya yang memanggil anaknya dengan panggilan itu. Dan saudara saya ini emang hidungnya mancung, jadi di pikiran saya ya itu mungkin panggilan unik dari ibu ke anaknya. Tapi setelah mendengar orang lain yang hendak memanggil anak laki-laki juga menggunakan panggilan itu. Dan ternyata bayangan saya akan kata ‘cung’ itu bukanlah berasal dari mancung, melainkan kacung. Malah tambah aneh saya mendengarnya, karena kata kacung itu kan ibarat pembantu *maaf, jadi masa iya seperti itu. Tapi memang seperti itu panggilan untuk anak laki-laki di Cirebon, kebayangkan kalo nggak disingkat, terlalu mainstream manggil orang dengan full kata kacung. Jadi paling diambil akhiran saja jadi tinggal ‘cung’nya saja. Contoh kalimat pake bahasa cirebon, cung, arep meng endi cung? artinya itu nak, mau kemana nak?

Nok. Nah, yang diatas itu panggilan untuk anak laki-laki. Untuk anak perempuan tentu saja ada. Panggilannya itu ‘nok’ singkatnya. Nok itu singkatan dari denok untuk panggilan anak perempuan. Jadi kalo ada anak perempuan disini kalo dipanggil biasanya dengan kata nok, kalo tidak dipanggil dengan namanya.

Tapi memang betul seperti itu, dan setelah saya konfirmasi ke temen yang asli Cirebon ternyata memang betul untuk panggilan laki-laki itu cung (kacung) dan perempuan itu nok (denok). Ya, untuk memperjelas aja sih, takutnya saya saja yang seperti ‘sok tau’ gitu, jadi nggak ada salahnya dikonfirmasi.


Saya pikir panggilan itu bakalan sama dengan kalo pas lagi di daerah sunda, yang bisa dipanggil ujang dan teteh (kalo nggak salah) kan Cirebon masuk ke provinsi jawa barat, jadi pikir saya menganut Bahasa sunda juga. Tapi Cirebon itu agak unik memang, karena di perbatasan Jawa Tengah – Barat jadi disini ada 2 bahasa, bisa Bahasa jawa, bisa juga sunda dan 1 bahasa daerah yang cuman ada di Cirebon (setau saya) yaitu Bahasa Cirebon itu sendiri. Hampir mirip dengan Bahasa jawa, tapi tidak sepenuhnya sama persis ada beberapa yang beda. Dan kalo saya dengar perbincangan dengan orang asli Cirebon itu kadang saya bingung untuk nangkep pembicaraannya, karena memang kosa kata nya yang berbeda. Kalo untuk logat seperti logat orang jawa, hanya kosa kata yang berbeda. Dan pas iseng nanya ke temen itu pas sekolah ada pelajaran muatan lokal yang disitu diajarin Bahasa daerah yakni jawa dan sunda. Mungkin karena diperbatasan ya, jadi pelajaran Bahasa daerah juga ada dua. Mantap.
Share:

About Me

Seorang Mahasiswa Teknik Kimia, suka hal hal simple, minimalis, seorang plegmatis.

Terbaru

Popular Posts

Arsip

Diberdayakan oleh Blogger.