Jumat, 08 September 2017

Mie Koclok - Cirebon

Kuliner, proses olahan berupa makanan yang sering menjadi target kalo pas lagi liburan/berwisata di kota/daerah tertentu, bisa juga menjadi ciri khas dari kota tersebut. Karena tiap kota/daerah itu punya beberapa olahan makanan yang memang hanya di produksi di daerah itu saja sampai akhirnya menjadi makanan khas daerah. Salah satu kota dengan kuliner yang akan saya tulis disini ialah kota Cirebon. Kota Udang, kota Wali. Karena saya tinggal di kota ini alangkah baiknya juga mulai merasakan apa saja yang menjadi khas kota udang ini.

Cirebon, salah satu kota/kabupaten yang menjadi perbatasan Jawa Tengah – Jawa Barat yang tentu saja punya berbagai macam wisata alam maupun kulinernya. Kalo search dengan kata kunci kuliner cirebon akan muncul berbagai macam olahan makanan yang bisa menjadi target wisata kuliner. Saya nggak akan bahas semua jenis makanan yang ada di cirebon ini, hanya beberapa saja yang mungkin hanya dapat di cari di Kota Udang ini.

Mie Koclok. Salah satu makanan khas dari kota ini. Iya, kalo kita search dengan kata kunci itu akan muncul berbagai tulisan dan gambar tentang mie yang satu ini. Setelah tinggal cukup lama disini dan beberapa hunting tempat wisata, kurang lengkap kalo belum ngerasain makanan khas nya. Tentu saja mie koclok salah satunya. Karena saya itu newbie di kota ini, jadi nggak ada salahnya kan untuk coba coba cari info dari yang asli sini atau yang sudah tinggal lebih lama dibanding saya. So, mencari informasi pun dimulai. Mulai dari pendekatan dengan orangnya, coba nanya apa saja yang khas di sini, dan beberapa rekomendasi yang menurutnya terbilang enak (makanan, tempat, akses, dan harga). Nah, setelah panjang lebar cerita dan dengerin tempat tempat kuliner yang recommended, akhirnya saya mulai buat planning kapan mau terjun dan berburu kuliner. Sebenarnya saya itu bukan orang yang hobi/seneng mencari wisata kuliner, karena mungkin dari ngerasain makanan itu nggak terlalu detail hingga akhirnya bisa sampai memberikan rekomendasi tempat ke orang lain. Hal itu juga terlihat dari postur tubuh saya yang nandain kalo bukan pemburu kuliner alias doyan makan. Tapi karena penasaran dan waktu nya pas ada di kota ini, kan nggak ada salahnya kalo ikut mencoba kuliner yang ada, dan nanti kalo ada temen main kesini setidaknya bisa ngasih tau kuliner khas kota Cirebon.

Nah, setelah beberapa topik perbincangan yang bahas kuliner yang satu ini, mulai dari yang aksesnya nggak terlalu jauh dari kosan, trus waktu tempat makan biasa buka jam berapa sampai jam berapa karena bisa memperkirakan dengan kegiatan sehari hari. Dan akhirnya mencapai puncak pembicaraan, dia pun rekomendasi untuk coba makan di daerah Plumbon, nggak terlalu jauh dari kosan saya di Palimanan. Dan sampai akhirnya saya mencoba untuk hunting ke lokasi. Waktu itu pas saya mencoba untuk hunting, pas hari libur dan waktu sudah menunjukkan sore hari karena waktu selepas sholat ashar dan menurut info dari obrolan sebelumnya, dengan waktu sore itu biasanya sudah habis alias warung nya sudah tutup. Tapi waktu pergi kesana itu nggak mikirin gimana kalo emang sudah habis. Kalo memang sudah habis yang tinggal pulang lagi dan cari waktu lain untuk kesana. Ya memang habis, tapi lontongnya aja yang habis, untuk menu mie koclok nya masih ada. Sip.

Mie koclok Pak Rasita, warung makan yang recommended dari temen saya. Mie dengan olahan dengan bentuk berupa mie (kayak mie ayam), irisan ayam, toge, irisan kol, telur rebus yang di iris pendek dan di siram dengan kaldu santan dan bubur beras. Siraman kaldu ini menambah cita rasa gurih di makanan. Waktu pertama cicipin makanan ini rasa gurih dari kaldunya kerasa banget, trus ditambah dengan suapan dari toge&kol makin sedap saja ini makanan. Saya pesan satu porsi dengan minuman es teh manis, biar kasih efek makcles alias meleleh di lidah saat nyeruput es teh manis nya. Iya, manis kayak kamu yang ada manis manis nya gitu.
Dokumentasi Pribadi Mie Koclok
Share:

Kamis, 24 Agustus 2017

Seklumit Cirebon

Merantau, bukan lagi hal yang luar biasa untuk jaman sekarang, malah terkadang banyak yang berpikir malah keinginan untuk merantau sudah menggebu-gebu. Terlihat dari data statistik untuk setiap tahunnya dalam musim setelah lebaran yang menunjukkan peningkatan jumlah penduduk di kota-kota besar dan menurunnya jumlah penduduk di desa-desa. Hal ini berarti menunjukkan penduduk desa cenderung ingin merantau untuk memperbaiki ‘kehidupan’ mereka. Sama hal nya saya juga yang nggak bisa lepas dari istilah merantau, karena dalam kurun waktu 5 tahun sudah pindah ke 2 kota. Jadi merantau untuk jaman sekarang itu sudah biasa.

Nah, merantau tentu saja menjadi hal yang baru untuk tempat baru. Baik itu diri sendiri, tempat tinggal, dan tentu saja lingkungan yang berbeda dibandingkan dengan waktu masih di desa. Seperti pepatah bilang “kalo mau ngerasa nyaman sama lingkungan, maka dekatilah lingkungan itu sendiri” (pepatah sendiri). Jadi istilah nya ialah kalo mau survive/bertahan mau nggak mau harus beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan.

Cirebon. Kota kedua saya destinasi merantau dalam 5 tahun terakhir, karena memang kerja saya disitu jadi pasti saya akan tinggal di situ. Cirebon, kota yang sering di sebut dengan kota udang, ada juga disebut kota wali. Nah, karena baru di kota ini dan juga belum tau persis apa maksud dari sebutan kota itu. Tapi yang saya tau untuk sebutan Kota Wali itu karena di kota ini terdapat salah satu makam wali songo yaitu makam Sunan Gunung Jati. Kalo untuk sebutan kota Udang, saya nggak tau persis history nya. Karena saya nggak mau sok tau jadi mending saya tidak bahas disini.

Kembali ke kata pepatah diatas, “…dekatilah lingkungan” nah dari situ kan secara tersirat untuk bisa beradaptasi dan menyesuaikan diri dengan lingkungan, mulai dari lingkungan tempat tinggal, tempat kerja sampe ke destinasi destinasi wisata yang ada di kota ini. Bisa mulai dengan tempat wisata, wisata kuliner yang khas di Cirebon. Nah, dari situ sedikit sedikit mulai melebarkan sayap untuk hunting ke tempat wisata dan kulinernya.

Sekitar seminggu lalu saya sempatkan diri untuk mengobati penasaran saya untuk menyambangi tempat wisata yang satu ini. Wisata Pantai Kejawanan. Iya, satu satunya pantai yang ada di Kota Cirebon (setau saya) yang banyak info dari temen kalo pantai ini kurang bagus untuk di jadikan destinasi. Tapi ada juga yang meyangkut pautkan dengan mitos mitos nya. Karena penasaran pengen kesana, akhirnya kesampean juga untuk pergi kesana karena tertarik untuk menikmati golden time sunset. Karena setelah cari-cari info tentang tempat itu, emang banyak yang merekomendasikan pas waktu terbenamnya matahari, karena menikmati udara di pantai itu enaknya di pagi hari atau sore hari (sunrise/sunset) dan semilir angin pantai berhembus begitu sejuk. Karena nggak mungkin pagi hari, jadi saya kesana pada sore hari saat udara nggak terlalu panas dengan sinar matahari dan menikmati sore hari di pantai. Untuk khasnya pantai Kejawanan ini nggak terlalu jauh beda dengan pantai pantai pada umumnya yang menghadirkan pasir pantai yang lembut tapi berwarna hitam, dan ada begitu banyak perahu yang berlabuh dan dapat dilihat di sekeliling pantai mulai dari kapal pengangkut material, perahu nelayan, perahu polisi pantai (mungkin), perahu emergency dan perahu karet yang bisa disewa oleh pengunjung yang ingin sedikit bermain air di pantai itu. Oh iya, perahu nelayan juga bisa di sewa untuk kita yang ingin berkeliling disekitar pantai dengan sedikit agak ke tengah laut dengan uang sewa yang terbilang murah, 5 ribu rupiah.
Dokumentasi Pribadi salah satu perahu masyarakat sekitar

Nah, setelah memakan waktu kurang lebih sejam perjalanan, akhirnya saya sampai di tempat tujuan yang ternyata masih cukup tinggi matahari di ufuk barat dan paling tidak harus menunggu sampai kurang lebih sejam lagi hingga akhirnya saya ngerasa cukup untuk menikmati sunset di pantai itu. Saya disana nggak terjun ke pantainya untuk menikmati pasir pantai karena kondisi saat itu laut lagi pasang, jadi oleh orang sekitar sering disebut banjir. Dan uniknya lagi dari pantai ini, ada bentangan jalan batu yang membentang sampai agak ke tengah laut. Tapi iya itu karena pas hari itu lagi pasang, jadi untuk jalan bebatuan itu agak sedikit terendam air laut tapi masih dibisa diakses. Hati hati saat melangkah, karena itu jalan batu dan kena air jadi agak licin untuk di pijak. Nggak banyak saya mengambil photo untuk sunset nya, tapi cukup diam sejenak menikmati udara semilir, memanjakan mata dengan melihat segala bentuk nikmat-Nya dan mengucap syukur atas apa yang telah saya terima saat itu atau hal yang telah lalu.
Dokumentasi Pribadi bentangan jalan batu

Setelah satu jam saya disitu, saya putuskan untuk beranjak pulang karena saya nggak mau kalo nanti menjelang maghrib masih di dalam perjalanan. Perjalanan pulang nggak selama saat berangkat, mungkin karena sudah mulai terbiasa dan hafal jalan menuju pulang dan ternyata memang pas pulang itu nggak sampe sejam perjalanan. 

Beberapa hasil jepretan pas sunset :)




Sekian.

Share:

Minggu, 20 Agustus 2017

Semarang *lagi

 Dokumentasi Pribadi Umbul Sidomukti

Setelah menyambangi ibukota jawa tengah di bagian kotanya, dan ternyata emang masih penasaran untuk kembali lagi menyambangi kota itu tapi untuk bagian agak jauh dari kota nya. Entah kenapa masih penasaran sama kota itu, sampai sampai senior saya bertanya “ngapain lagi ke semarang? Seneng amat kayaknya”. Mungkin emang seneng, sekalian searah sama pulang kampung, kan nggak ada salahnya mampir semalam dan main seharian sebelum pulang (menurut saya) tapi mungkin emang ada faktor lain yang mengapa saya ingin pergi ke sana. Okelah, nggak usah dibahas sampai panjang lebar, cukup segitu saja dan langsung to the point.

Nah, keinginan untuk menapaki kota semarang yang begitu banyak tempat tempat wisata yang bagus buat dikunjungi, rasa penasaran saya bukan lagi pergi pergi ke bagian kota nya, melainkan ke kabupaten Semarang nya yang denger denger nggak kalah bagusnya wisata di sana. Jadwal keberangkatan dari cirebon tetep sama dengan jadwal sebelumnya, berangkat siang dan langsung mencari beberapa tempat yang bisa buat menginap semalam. Baru keesokan harinya pergi ke tempat tujuan. Karena ada rencana pulang Sukoharjo, jadi nggak usah terlalu lama saya bermain main di Semarang, cukup untuk di tempat yang membuat saya penasaran itu.

Hal ini entah kebetulan atau nggak dengan rencana saya buat main kembali ke semarang. Saya dapat kenalan orang asli semarang, dan setelah kontak kontakan dengan doi dan sedikit bahas tempat yang rencana saya datangi itu, dan doi bilang untuk akses nggak terlalu jauh sama tempatnya. Yaudah, makin mendekati hari H saya pergi, saya intens kontak dia untuk info rencana saya ke dia dan dia memang pada hari itu juga lagi nggak ada kegiatan alias ada waktu luang yang nantinya saya minta bantuan ke doi buat jadi ‘guide’ tour selama saya kesana. Dan doi juga nggak keberatan, itu yang menjadikan saya semakin yakin kalo rencana saya pergi kesana terlaksana.

Umbul Sidomukti. Iya tempat wisata itu yang menjadi tujuan saya pergi ke Kabupaten Semarang. Tempat dengan nuansa alam yang berada di dataran tinggi dan pasti jauh dari padetnya kota Semarang. Nuansa alam yang sejuk, bahkan hawa cukup dingin di siang bolong, benar benar membuat mata saya begitu lama untuk berkedip, dengan hati mengucapkan syukur entah untuk keberapa kalinya. Memanjakan mata yang nantinya menjadikan sebuah memori dalam otak saya yang telah di desain oleh-Nya begitu besar ukuran nya, bergiga giga atau bahkan ber tera tera kapasitasnya.

Tak lepas dari para squad (4 orang) UND*P yang bersedia untuk meluangkan waktunya hanya untuk menjadi ‘guide’ temen main ke sana walau kenyataanya cuman ber3 dan yang satu lagi ada kegiatan yang membuatnya tidak bisa gabung dengan saya dan yang lain. Tapi bukan menjadi halangan bagi yang lainnya untuk tetap mendukung saya dan bergabung bersama sama main ke umbul. Awalnya memang seperti ada kendala dari si dia karena mungkin di waktu lalu mereka sudah pernah kesana dan memang akses nya cukup sulit (jalan menanjak) tapi karena niat mereka untuk bersedia saya ajak main ke situ jadi mereka berusaha untuk tetap pergi kesana. Saya ucapkan terimakasih buat semuanya, nggak ada kata lain selain kata itu dan permohonan maaf saya yang mungkin sedikit ‘memaksa’ kalian untuk tetap pergi ke umbul.

Akses dari Tembalang menuju kesana, kami putuskan untuk menggunakan kendaraan pribadi (motor). Dengan menempuh kurang lebih 1 jam perjalanan hingga akhirnya sampai ditempat Umbul Sidomukti. Karena waktu berangkat yang terbilang agak siang (jam 11 siang) jadi ditambah satu jam perjalanan tepat di siang bolong (waktu Ungaran). Tapi seperti saya singgung diatas, suasana disana itu hawanya nggak kayak siang bolong, itu karena udaranya memang dingin, sejuk. Setelah membayar tiket masuk dan berjalan beberapa anak tangga turun hingga sampai di spot yang memang orang rame disitu. Sambil berjalan dan sedikit memandang mandang sekitar, kami putuskan untuk istirahat sejenak di gazebo (tempat teduh) untuk mengurangi dan melupakan gimana rasanya perjalanan ke tempat ini. Sembari istirahat, dan sedikit ngobrol kesana kemari hingga nggak tau apa yang dibahas dalam obrolan itu, kami pun putuskan untuk mulai memanjakan lebih lama di spot yang telah tersedia. Dan tentu saja mengabadikannya dalam sebuah jepretan kamera yang nantinya menjadi kenangan, cerita, sekaligus bukti kalo kita sudah pernah kesana. Nggak lama-lama kami memanjakan mata disitu, karena salah satu dari kita ada acara di jam 4 sore dan mengharuskan kita untuk turun dan melanjutkan perjalanan kembali ke Tembalang. Sambil menaiki anak tangga yang sekarang jadi tanjakan, kami putuskan untuk mampir dan mengisi perut kita masing masing.

Setelah cukup banyak berkurang kampas rem gegara jalannya yang turunan, kami pun mampir di sebuah warung bakso yang menurut doi cukup enak disitu. Warung Bakso Pak Mitro. Iya warung bakso itu menjadi tujuan kita makan siang dengan menu yang tentunya Bakso. Setelah beberapa menit mengunyah dan menyeruput es teh manis kami langsung melanjutkan perjalanan menuju Tembalang. Dalam perjalanan saya dikasih tau untuk menemani saya menunggu jadwal kereta yang masih cukup lama (jam 10 malam) para squad itu mengajak saya untuk pergi ke tempat yang ternyata menjadi desitinasi saya kalo main ke Semarang. Puri Maerokoco. Iya, tempat itu juga salah satu tempat yang cukup populer di Semarang dan timing kesana itu pas banget menjelang matahari terbenam. Sunset. Iya, momentum yang memang pas untuk mengakhiri perjalanan di tempat yang bagus untuk menikmati sunset (tapi sayang agak sedikit mendung).

Puri Maerokoco, tempat wisata yang didalamnya ada beberapa spot yang dinamakan Taman Mini Jateng yang dimana taman itu di persembahkan tempat beberapa kabupaten/kota yang ada di Jawa Tengah dan tentunya dengan icon icon tiap tempatnya. Mulai dari kabupaten/kota yang paling dekat dengan perbatasan Jatim-Jateng yaitu Karanganyar, hingga kabupaten/kota yang dekat dengan perbatasan Jateng-Jabar yaitu Tegal-Brebes. Maerokoco itu sendiri ialah taman air yang disekelilingnya ada tumbuhan bakau yang dikelola oleh pihak setempat hingga menjadikan sebuah Tempat Wisata. Berdiam diri sambil ngobrol ngalor ngidul sampe akhirnya matahari terbenam, nggak kerasa sudah malam mulai menyambut. Setelah menunaikan kewajiban, dilanjutkan lagi jalan jalan di kawasan taman mini jateng karena doi penasaran banget tempatnya nggak ada di situ. Tapi setelah dicari cari akhirnya ketemu juga tempat itu dan doi akhirnya seneng juga, tadinya mau protes kalo tempatnya nggak ada (aneh aneh aja nih orang). Karena dirasa sudah ketemu, akhirnya kita memutuskan untuk memulai perjalanan pulang. Baru mau keluar gerbang utama, ternyata memang ada spot yang bertuliskan Kabupaten Sukoharjo dengan simbol rumah joglo dan tentu saja Patung Jamu icon nya Kabupaten Sukoharjo. Sempat berhenti dan terdiam sejenak memandang tempat itu. Tapi setelah dirasa cukup, kita pun melanjutkan perjalanan pulang.
Dokumentasi Pribadi Puri Maerokoco


Kurang lebih 45 menit dari Puri Maerokoco, kita sampai di Stasiun Kereta Semarang Tawang yang nantinya saya sendiri melanjutkan perjalanan pulang menggunakan kereta api (tentu saja). Istirahat sejenak, dan akhirnya para squad UND*P itu pamit untuk pulang juga. Nggak ada kata selain terimakasih yang bisa saya sampaikan ke mereka atas waktunya, meluangkan waktu di saat saat lagi ‘mulai sibuk’ dan mohon maaf kalo ‘agak’ memaksa. Sampai ketemu di lain kesempatan. Terimakasih.
Share:

Minggu, 02 Juli 2017

nge-Trip neng Semarang

Semarang, ibukota Jawa Tengah yang menjadi salah satu dari 5 kota besar lainnya di Indonesia. Salah satu kota yang cukup terkenal beberapa spot tujuan wisata religi maupun yang bukan religi. Mulai dari wisata Lawang sewu, Masjid Agung Jawa Tengah, Simpang Lima dll. Namun masih ada beberapa wisata yang lain yang jauh dari pusat kota Semarang. Apalagi kita lahir di jaman sekarang yang mudah sekali mendapatkan info terupdate dari berbagai media, salah satunya yang paling besar yaitu media social. Media social menjadi pusat info yang menarik yang menampilkan berbagai macam informasi salah satunya tempat wisata.

Kalo menengok lagi ke catatan seharisemarang, yang saya sambangi hanya di beberapa spot tempat wisata di daerah pusat kota. Kalo untuk mengobati rasa penasaran itu udah cukup, tapi entah kenapa keinginan untuk menyambangi ke kota itu terasa ingin pergi. Pernah juga ngomong didalam hati, “sekarang di daerah kota dulu, nanti baru ke tempat tempat yang agak jauh dari kota dengan melihat panorama alam yang siap disajikan kapan saja”. Itu saya bicara dalam hati pas saya hendak meninggalkan kota Semarang dan kembali ke kota Udang. Rasanya masih ingin melanjutkan perjalanan alias ngetrip di sana.

Oke, 

Pukul 10.35 jadwal kereta Ciremai yang akan membawa saya ke kota Semarang pun berangkat dari stasiun Cirebon. Perjalanan memakan waktu kurang lebih 4 jam hingga sampai stasiun tujuan Semarang Tawang. Setelah turun dari kereta, waktu menunjukkan pukul 2 siang dan saya belum makan siang. Setelah keluar dari pintu keluar stasiun saya mencari cari tempat makan yang ada disekitar stasiun. Warung soto. Iya, warung soto yang saya hampiri dan menjadi menu makan siang saya. Setelah makan siang, saya langsung ke tempat penginapan yang sudah saya pesan sebelumnya, letaknya juga tidak terlalu jauh dari stasiun Semarang Tawang itu. Sengaja saya cari penginapan yang dekat dekat stasiun saja, biar akses pulang perginya gampang. Untuk penginapan juga lumayan dan cukup buat saya sendiri dan mengingat juga cuman semalam saja saya nginepnya, jadi nggak usah terlalu ‘wah’. Bermalam di penginapan itu cukup buat saya meredakan lelah awal perjalanan dan terlebih lagi untuk mempersiapkan keesokan harinya.

List tujuan perjalanan sudah tertulis jelas, tinggal pelaksanaannya saja alias action. Pagi, bangun dan siap siap, beres beres barang biar nggak tertinggal di penginapan. Pukul 07.30 keluar kamar sembari ngasih kunci kamar ke resepsionisnya dan check out. Tanpa menunggu lama, dengan bermodalkan smartphone akhirnya saya putuskan untuk menggunakan jasa antar jemput online (G*jek) untuk bepergian saya. Tujuan pertama waktu itu ya ke Lawang Sewu. Mumpung masih pagi dengan udara yang sepoi sepoi menyambut saya di sepanjang jalur kota Semarang hingga akhirnya sampai di lokasi. Awalnya saya agak ragu buat masuk, soalnya dengan jam segitu untuk wisata apa sudah dibuka atau masih tutup. Tapi sampai tempat itu memang baru beberapa orang saja yang datang, tapi selang 30 menitan sudah banyak rombongan yang bermunculan. Nggak salah saya pilih waktu pagi agar tidak terlalu ramai. Sekedar keliling tiap tempat dan tak lupa juga mengabadikanya. Menelusuri tiap pintu yang terpampang sepanjang bangunan itu. Dan sempat terdiam di tempat nonton karena waktu itu pas ditayangin film pendek tentang sejarah Lawang Sewu dan beberapa tentang semarang. Film pendek yang dikemas dalam layar ukuran 30 inchi an itu masih menampilkan layar yang hitam putih, suara yang tak terlalu terdengar (buat saya) tapi ada beberapa narasi dengan tulisan tempo doeloe.
Dokumentasi tampak depan Bangunan Lawang Sewu

Tujuan berikutnya ialah menyambangi Masjid Agung Jawa Tengah. Nggak jauh dari lokasi Lawang Sewu dan memakan waktu kurang lebih 45 menit. Berhubung masih pagi dan perut juga belum sempat diisi pas di Lawang Sewu, akhirnya saya putuskan untuk makan di warung soto daerah lokasi masjid itu. Dan terlebih lagi sambil menunggu waktu hingga masuk sholat dhuhur, karena niat saya memang untuk sekalian sholat berjamaah di masjid itu. Dan untuk kesekian kalinya, setelah beberapa pengambilan gambar akhirnya waktu sholat dhuhur telah tiba. Setelah selesai sholat, masih penasaran untuk mengambil gambar di daerah situ. Tempat itu juga cukup ramai, banyak sekali rombongan bis bis wisata keluar masuk, benar benar event wisata religi. Sampai waktu menunjukkan hampir pukul 2 siang, rombongan bis itu nggak kunjung berkurang juga. Silih berganti. Kerasa sudah cukup puas dengan masjid, akhirnya saya putuskan untuk melanjutkan ke tempat wisata berikutnya. Dan sebelumnya tetep makan siang dulu. Ehehheh J

Dokumentasi Masjid Agung Jawa Tengah

Masih dengan bermodalnya angkutan online, saya menyimbangi ke tujuan berikutnya. Kota Lama – Taman Srigunting. Iya, tempat terakhir yang saya singgahi sebelum kembali ke kota udang. Hanya untuk sekedar menenangkan/istirahat sambil merasakan hawa ‘hampir’ sore hari. Memanjakan mata memandang sekeliling salah satu taman kota yang ternyata cukup rame juga. Berhubung sudah cukup lama duduk berdiam diri, saya putuskan untuk keliling sepanjang jalan Kota Lama yang menampilkan bangunan-bangunan tua yang mungkin masih tersisa di masa yang lalu. Nggak terlalu banyak saya ambil photo di sekitar kota, tapi hanya memanjakan mata dan menjadi sebuah memori.

Selepas dari taman itu, berakhir pula trip saya menyambangi ibukota Jawa Tengah itu. Sambil nanya nanya letak stasiun ke orang sekitar taman, ternyata cuman beberapa kilometer saja dari taman. So, saya buat jalan jalan sore menuju stasiun. Oh iya, “ Thank You and see you on the next Trip”


Share:

Minggu, 28 Mei 2017

SehariSemarang


Orang bepergian/traveling itu butuh planning yang matang, persiapan yang bagus dan tentu saja budget yang perlu di pikirkan dan diperkirakan. Adapun waktu yang dibutuhkan buat traveling itu nggak musti lama beberapa hari, atau beberapa minggu kalo sehari semalam aja udah cukup buat ngobatin penasaran. Iya, saya sendiri yang traveling cuman sehari semalam. Berangkat pagi pulang sore di hari berikutnya. Tujuan saya yaitu menyimbangi kota Semarang yang emang entah kenapa saya penasaran dengan kota itu, lagian akses dari cirebon juga cuman memakan waktu 3 – 4 jam perjalanan menggunakan kereta api. Sama halnya dengan kalo mau ke jakarta dengan waktu tempuh hampir sama.

Awalnya memang saya sudah planning kan untuk ke Semarang sebelumnya, kan perlu adanya Plan, Do, Check, and Action. Saya planning kan dulu waktu berangkat agar tidak bentrok dengan jadwal saya kerja (dan nggak boleh ambil cuti) harus benar benar free di hari itu. Planning awal di hari yang ada tanggal merahnya, kan pasti jadwal libur kerja nambah satu hari, tapi itu ternyata nggak bisa saya lakukan karena bentrok dengan kegiatan lain. Oke, mulai planning kembali dan langsung eksekusi di waktu weekend. 3 hari sebelum pemberangkatan sudah harus pesan tiket kereta buat pulang perginya, dan itu sudah saya dapatkan, tinggal menyusun list tempat mana saja yang nantinya saya singgahi di waktu yang singkat itu. List oke, tinggal nunggu hari H pemberangkatan saja. Selain prepare apa saja yang perlu dibawa dan nggak perlu dibawa. Karena mungkin saya cowo jadi nggak terlalu ribet/banyak barang yang perlu dibawa.


So, untuk traveling sehari semalam di kota yang baru pertama kali dituju itu sebuah kenekatan yang parah. Gimana nggak nekat, waktu yang dibutuhkan cuman sehari semalam, mau dapat apa coba kalo nggak cuman dapat capek nya doang. Banyak yang berpendapat seperti itu ke saya saat saya mencari info dari temen temen, ya tapi saya balas dengan senyum aja. Tapi sedikit beradu argumen kalo emang ‘seneng’ itu nggak kerasa capek nya, tapi kalo cuman dibayangin ya kerasa banget capek nya. 
Share:

About Me

Seorang Mahasiswa Teknik Kimia, suka hal hal simple, minimalis, seorang plegmatis.

Terbaru

Popular Posts

Arsip

Diberdayakan oleh Blogger.