Jumat, 08 Desember 2023

Segar Es Cuwing ala Cirebon

Terik matahari di bulan kemarau ini cukup terasa menyengat tubuh dan menurunkan intensitas cairan tubuh. Turunnya intensitas cairan tubuh biasanya menghasilkan sinyal haus sebagai tanda untuk segera mengkonsumsi air minum. Tak sedikit yang langsung konsumsi minuman dingin baik yang sudah dingin atau air dengan tambahan es. Berharap rasa haus segera terobati dengan meminum air dingin atau air es.

Ada salah satu menu es di Cirebon yang cukup populer dan bisa menjadi pilihan untuk di konsumsi saat terik matahari terasa panas demi mengobati rasa haus. Es cuwing. Iya, es cuwing dari Cirebon bisa jadi pilihan tepat untuk menu minuman segar.

Es cuwing mang Lilik, salah satu penjual es cuwing yang sudah berjualan sejak tahun 1995. Berada di lokasi Jl. Kartini No.10, Sukapura, Kec. Kejaksan, Kota Cirebon dekat perlintasan kereta. Satu porsi mangkok es cuwing berisi cuwing/cincau, bubur sumsum, daging kelapa, santan, gula jawa cair dan es serut. Infonya terkenal enak, tapi memang tidak ada yang menyangkal kalo soal rasanya enak nya bukan main, seger es serutnya berpadu dengan manisnya gula jawa dan gurihnya santan dan daging kelapa.

Sebagai pendatang dari kota seberang, memang yang di cari kuliner yang punya rating atau rekomendasi dari orang pribumi Cirebon, dan es cuwing mang Lilik juga bagian dari kuliner yang direkomendasikan oleh temen kenalan saya. Worthed banget lah.

Perlu perjuangan untuk menuju lokasi karena melewati panas teriknya matahari, saat lelah perjalanan dan menunggu antrian di layani akhirnya bisa merasakan seger nya es cuwing, sesaat terasa lelah dan panas jadi segar dan adem. Tapi PR lagi setelah selesai minum dalam perjalanan pulang masih kena sun effect alias panas matahari dan panas mesin kendaraan.

Share:

Sabtu, 04 Februari 2023

Serabi

        Serabi, merupakan jajanan pasar tradisional yang berasal dari Indonesia. Makanan ini sudah ada sejak tahun 1923. Di Jawa Barat dikenal dengan sebutan Sorabi, namun di Jawa Tengah lebih dikenal dengan Srabi. Wikipedia.

Setau saya memang sering kali mendengar jajanan tradisional ini di Pulau Jawa, Jawa Tengah dan Jawa Barat – karena saya belum pernah keluar Jawa dan baru menemui serabi ini di Jateng dan Jabar, untuk Jatim mungkin ada tapi pas saya main kesana. Serabi yang saya jumpai di Solo, Ambarawa, Cirebon. Berikut beberapa yang pernah saya cicipi.

  • Serabi Notosuman – Solo,

Salah satu serabi yang ada di Kota Solo, serabi yang terbuat dari santan kelapa dicampur dengan sedikit tepung bercita rasa gurih. Bertoping atau bertabur meses, potongan pisang, potongan nangka dan keju. Ciri khasnya ini beralaskan daun pisang dan digulung/rol, namun saya menjumpai serabi solo ini di Cirebon beralaskan potongan kertas nasi dan untuk toping bisa gabungan dari meses – keju, pisang – coklat atau pisang – keju.

  • Serabi Ngampin – Ambarawa,

Salah satu produk jajanan tradisional dari Jateng – Kab. Ambarawa, serabi ini saya sebut serabi kuah, jika di Solo ada Serabi Notosuman yang karakteristiknya kering dan jika di Ambawara ada Serabi Ngampin yang karakteristiknya berkuah. Nama Serabi Ngampin ini diambil dari salah satu desa di Ambarawa yakni Desa Ngampin. Serabi dengan bahan dasar yang mirip dengan serabi solo hanya saja ditambahkan kuah santan dan gula merah untuk menikmatinya.

  • Serabi Cirebon

    

Serabi yang berasal dari Cirebon ini memiliki karakteristik serabi kering seperti Serabi Solo, namun untuk toping bukan meses, keju dan lainnya melainkan olahan oncom, telur. Serabi Cirebon ini untuk variannya ada beberapa serabi oncom, serabi telur, serabi original (gurih), serabi manis (gula merah). Nah, FYI ada beberapa orang asli cirebon yang kalo makan sate enaknya pakai serabi ini, bukan lontong atau nasi tapi serabi.

  • Serabi Blondo

Serabi ini belum tau asalnya dari mana, tapi saya menemukan serabi ini di Cirebon, berbeda dengan serabi cirebon yang sebelumnya, dari ukuran jauh lebih kecil, untuk varian rasa lebih dominan manis (gula merah) tapi ada topping parutan kelapa diatas serabi. Serabi blondo memiliki karakteristik lebih berminyak mirip kue cucur walaupun jenis ini tergolong serabi kering (tanpa kuah). Berminyak ini bukan dari minyak yang berlebihan saat membuatnya, tapi dari minyak kelapa yang di tuangkan sebagai topping.

Itulah beberapa serabi yang pernah saya jumpai dengan berbagai karakteristik masing masing, serabi kering atau kuah, kering gurih atau manis dan berminyak atau tidak. Ukuran kecil, sedang atau besar. Semua ada di masing masing jajanan pasar tradisional ini.

Share:

Sabtu, 31 Juli 2021

Mainan Kelereng

Sesi berikutnya ialah mainan kelereng. Kelereng atau nama lainnya gundu menjadi salah satu dari sekian banyak bentuk mainan yang seru buat di lakuin. Bentuk bulat, glossy, banyak pilihan warna ini bahkan ada 1 kelereng yang menjadi “anak emas” karna keberadaannya yang masih jarang atau langka, kita sebut kelereng susu karena bentuk bulat dengan warna putih pekat menyelimuti seluruh body kelereng. Berikut beberapa jenis mainan dengan kelereng atau gundu :

  1. Kejar kejaran, seperti layaknya kejar kejaran orang berlari, gundu ini juga mengambil istilah dari itu yakni permainannya sederhana hanya saling kejar kejaran antar gundu yang biasa dimainkan minimal 2 orang.
  2. Appolo, entah dapat ide dari mana istilah permainan gundu apolo ini. Tapi memang bentuk dan tatanan dari gundu ini menyerupai appolo mulai dari urutan gundu paling atas dan ditata ke bawah lurus dengan gundu paling atas. Media yang sering digunakan ialah “tegel” atau keramik yang berukuran 20x20. Permainan ini bisa dimainkan beberapa orang 3 – 5 orang. Peraturannya sederhana, hanya mengumpulkan kelereng dari masing masing pemain kemudian di tata seperti appolo, setelah itu para pemain melemparkan gundu sejauh garis minimal yang ditentukan, yang paling jauh dari garis itu yang mengawali permainan dan bebas mau “ngincer” yang urutan mana saja. Setelah kelereng di urutan appolo terkena dan keluar dari kotak tegel maka si pemain berhak mendapatkan urutan dibawah kelereng yang terkena tadi.
  3. Kumpulan, cara bermain yang ini sederhana hanya membuat lingkaran di tanah dan kelereng dikumpulan menjadi 1 dan ditempatkan di tengah tengah lingkaran tersebut. Kumpulan kelereng ini berasal dari masing masing pemain. Seperti appolo, penentuan siapa yang dapat giliran pertama ditentukan dengan siapa yang lebih jauh dari garis yang telah dibuat. Pemain yang berhak mengambil kelereng ialah yang berhasil mengeluarkan kelereng dari lingkaran itu.
  4. Gasing, nah permainan yang satu ini hanya bermodalkan 1 kelereng saja sebagai bagian dari landasan gasing yang nantinya dibuat dengan bahan tanah liat.

Itulah beberapa jenis permainan yang bisa dimainkan dengan kelereng, permainan yang sangat asyik di zaman itu. Belum mengenal kemodernan mobil tamiya, beiblade, crush gear, remote control dll yang saat itu booming karena efek dari anime yang menayangkan nya.

Share:

Rabu, 16 Juni 2021

Daun Janur, Mainan Desa

Sesi ketiga dari lanjutan membahas flashback kenangan masa kecil. Moment lebaran nggak lepas dari janur atau daun kelapa yang masih muda, ciri lain ialah warna yang masih terlihat muda atau hijau pupus. Karena masih daun muda, jadi daun itu masih mudah untuk dibentuk sesuai keinginan dan butuh waktu untuk layu atau kering. Itu salah satu kenapa daun muda yang baru tumbuh di pohon kelapa menjadi bahan utama membuat anyaman, salah satunya ketupat. Moment lebaran memang identic dengan ketupat, tapi saya bukan untuk membahas ketupat, cara memasaknya atau cerita tentang lebaran yang menu utama ketupat dengan lauk pauknya opor ayam, sambel goring dll. Melainkan saya sedikit mengingat ingat mainan yang bisa dibuat berbahan janur ini. Biasanya dibuat keris, teropong, peluit dan terompet.

- Keris, salah satu mainan yang dapat dibuat berbahan dasar janur. Saat bapak saya bergeliat untuk menganyam ketupat, saya pun ikut ‘ngerecokin’ membuat anyaman juga tapi bukan untuk membuat ketupat tapi saya membuat keris. Cukup mudah dan sering menjadi senjata mainan untuk bermain pedang pedangan.

- Peluit, selain bisa dibuat keris. Janur juga bisa dibentuk menjadi peluit, ini lebih mudah lagi dibanding membuat keris, hanya perlu potongan daunnya saja kemudian di lipat setipis mungkin, kemudian tinggal di tiup sesuai fungsi dari peluit.

- Terompet, ini modifikasi dari peluit diatas. Kalo terompet ini butuh lebih banyak lembaran daun janur tapi sesuai keinginan mau dibuat segede apa terompet nya. Peluit yang di balut dengan lembaran daun sampai berbentuk terompet.

Share:

Jumat, 14 Mei 2021

Daun Paku, Tato Non Permanen

 


Sesi kedua bahasan soal mengenang masa kecil. Setelah mainan tlulup yang sering kita lakukan dalam kalo lagi bayangin main tembak tembakan. Sesi kedua ini kita sedikit bahas soal tato, ya tato masa kecil yang keren – dijaman nya.

Tato, kalo orang dengar tato itu biasanya permanen nggak ya, trus cara pasangnya gimana ya. Tapi itu khusus orang orang dewasa, lain hal nya yang waktu saya kecil sering bermain dengan tato yang tidak permanen tentunya. Tato dari alam, dari tumbuhan pakis – jenis tanaman paku (biologi). Tato ini memiliki motif yang keren asli dengan bentuk daun tumbuhannya, jika bentuk tumbuhannya berbeda maka tato yang dihasilkan juga berbeda.

Cara menggunakannya juga gampang, tinggal petik (permisi dulu sama tumbuhannya) daun yang kita suka bentuk daunnya, dan tempel bagian belakang daun yang berwarna putih sambil di tepuk tepuk atau di elus ke bagian tubuh yang ingin dipasang tato (lengan – misalnya) setelahnya bisa ditarik kembali daun yang sudah kita pasang tato nya. Alhasil akan menghasilkan tato berbentuk daun paku berwarna putih. Tato alami ini punya kelebihan bentuk yang keren tapi punya kekurangan yang hanya bisa warna putih saja, tidak bisa warna merah, biru atau yang lain. Tidak ada efek yang di timbulkan dari pemakaian tato daun paku.

Nah, karna tato identik dengan ‘permanen’ tapi tato tumbuhan paku ini tidaklah permanen alias bisa langsung di bersihkan. Tinggal diusap dengan tangan langsung hilang, tapi kalo mau lebih bersih tinggal kita basahi dengan air dan usap kembali. Karna tumbuhan paku ini banyak di jumpai di sekitaran sungai/kali yang banyak di desa saya, jadi gampang untuk cari tumbuhannya. Dan kalo bosen dengan bentuk yang itu itu saja, bisa langsung ganti dengan bentuk yang lain.

Ada satu tumbuhan yang bisa dibuat tato lagi, saya sebut tumbuhan sapu jagat. Ini juga tumbuhan yang mudah didapatkan di desa saya, tapi jarang yang paham kalo ternyata bisa dibuat tato juga walaupun tidak tau apa fungsi asli dari tumbuhan sapu jagat itu. Sama sama diambil dari daunnya untuk membuat tato, tapi daun sapu jagat ini perlu effort yang lebih jika dibandingkan dengan daun paku tadi, karena pemasangannya harus di gosok dengan daun jati yang sudah kering (berwarna coklat) sampai kira kira getah dari daun sapu jagatnya nempel di tangan. Setelah selesai digosok, agar cepat kering biasanya kita tiup tiup sampai benar benar kering di tangan. Efek samping nya tangan yang kita tempelkan daun sapu jagat ini akan terasa panas terbakar dan tampak gosong setelah kering dan jadi tato daun sapu jagat. – saya sarankan untuk tidak mencoba yang jenis tanaman ini – .


Share:

Minggu, 28 Maret 2021

Pletokan, Senapan Tradisional

 Mengenal berbagai sebutan generasi menurut tahun kelahiran, ternyata secara teori itu ada 6 golongan generasi yang istilahnya sudah sering terdengar. Banyak yang menyebutkan generasi milenial, karna sering mendengar istilah itu jadi ikut ikutan menggukaan sebutan millenial, padahal belum tau maksudnya apa.

Generasi tradisional, baby boomers, generasi X, millenial, generasi Z dan sampai sekarang entah jadi sebutan generasi apa. Tapi untuk saya yang tergolong masuk dalam generasi millenial, ternyata sedikit banyak masih menganggap permainan masa kecil zaman dulu lebih mengasyikan dibanding sekarang. Karna belum merata penggunaan teknologi, masih belum tau apa itu handphone, karna masih mengenal Wartel, belum kebayang bagaimana bisa mendengar suara orang yang jauh hanya dengan alat segenggam saja.

Mainan dalam masa kecil dulu itu masih hand made (dibuat sendiri) dengan saluran ilmu dari para sesepuh, orang tua. Karna masih tradisional, bahan bahan nya pun yang ada di sekitar saja. Contohnya bambu, media mainan yang gampang dijumpai di sekitar rumah, tanaman yang tinggi dan berakar serabut sering ditemui di kebun/dekat dengan sungai/kali. Bambu ini juga yang pernah digunakan untuk membuat senjata pada waktu kemerdekaan. Bambu Runcing. Salah satu senjata yang konon ceritanya menjadi senjata yang di takuti oleh penjajah. Padahal jika dibandingkan antara kedua senjata ini sangat berlawanan, bambu runcing sangat tradisional sedangkan senjata penjajah sudah berteknologi canggih yang disebut senapan.

Mengenal senapan, untuk senjata mainan yang terbuat dari bambu pun dapat dengan mudah dan digunakan untuk bermain. Salah satunya senapan bambu “tlulup”. Iya, salah satu senjata yang terbuat dari potongan bambu yang sering saya gunakan untuk bermain tembak tembakan masa kecil. Dengan amunisi dari kertas bekas yang di basahi/celup dengan air bisa menghasilkan tembakan yang cukup sakit kalo terkena teman. Menghasilkan suara yang cukup keras bahkan sampai pecah/rusak bambu nya karna amunisi yang berlebih dan suara yang sangat keras. Untuk membuat mainan ini hanya butuh bahan bambu saja dengan ukuran yang kecil agar dapat dibawa dengan mudah, tapi tidak semua jenis bambu bisa di buat jadi mainan ini, karna bambu yang dibutuhkan ialah yang memiliki ruas yang cukup panjang jaraknya.


Selain tlulup, ada juga mainan lain yang terbuat dari bambu yakni “long bumbung” sebutan dari desa saya. Kalo mainan “long bumbung” ini bentuknya besar karna dia tidak perlu dibawa kemana mana hanya diam ditempat siap digunakan seperti meriam. Dengan bahan nya bambu, minyak tanah, kain/pegangan untuk sumbu nyala. Seringkali mainan ini digunakan saat bulan puasa/lebaran.

 

Share:

Selasa, 09 Februari 2021

Time Skip

Udah hampir setaun tidak ada lagi post post yang mampir di laman blog, tidak ada lagi notif berapa pembaca yang mampir, atau grafik rating peningkatkan pembaca atau malah ada komentar yang muncul. Bukan hanya post post yang tidak terlihat di laman depan, melainkan juga rasa enggan untuk buka alamat blog, karna merasa diri nggak bisa posting lagi jadi enggan buat liat laman kosong. Pernah terlintas beberapa ide kata, tema nulis tapi tidak pernah ada yang terealisasikan menjadi kalimat yang berakhir paragraf. Tidak ada.

Pernah sekali saat ngobras (ngobrol santai) di sela sela makan siang, temen ada yang nyeletuk soal bikin post atau nulis di blog dan seperti seorang paranormal yang ahli menerawang kalo ternyata saya terlihat memang cukup gemar buat narasi di blog. Ah, itu hanya tebakan saja menurut saya tapi saya tidak menyangkal kalo memang pernah buat narasi di blog.

Time skip. Istilah yang saya ambil dari serial anime yang saya gemari, mulai dari komik sampai anime visual berdurasi 24 menit itu. Time skip yang diceritakan di serial anime itu ialah perjuangan selama 2 tahun menimba kekuatan untuk menjadi lebih kuat secara individual, sehingga menjadikan modal untuk menghadapi rintangan yang entah kapan akan menerpa mereka. Walaupun hanya ada sekilas balik dari perjuangan masing masing karakter dalam latihan fisik dan mental tapi cukup tergambarkan dengan jelas bagaimana bentuk perjuangan mereka. Dan time skip yang saya maksudkan disini ialah setelah hampir 1 tahun saya off posting, mulai dari tulisan ini lagi saya akan coba buat buah pemikiran  yang belum sempat saya tuangkan dalam bentuk narasi. Hanya saja yang membedakan dari cerita serial anime dengan saya ialah mereka berjuang latihan, sedangkan saya enggan untuk memikirkan tema narasi apalagi yang hendak saya tuangkan.

Padahal sudah diberi wejangan kalo untuk bisa terbiasa nulis dengan kalimat yang tertata dan kata kata yang pas, harus musti baca. Entah mau baca novel, komik, berita di media surat kabar atau yang lain, nanti akan tumbuh dan banyak kosa kata yang dapat dituangkan dalam bentuk narasi.

Share:

Minggu, 29 Maret 2020

Jadi Konsultan


Konsultan, mungkin enak kalo jadi konsultan. Mempertanyakan hal ini itu, masalah sana sini dan memutar otak untuk memberikan solusi. Tapi perlu background yang kuat di suatu bidang biar lebih paham kalo ada yang sedang konsultasi. Lebih banyak belajar, banyak mendengarkan, banyak membaca, dll. Tapi yang pasti nggak gampang atau semudah mengusap hidung yang gatel dan lega abis di garuk. Butuh waktu, biaya untuk pendidikan yang cukup, minat & tekad yang kuat. Ah, jadi pesimis gini malahan.

Dulu pernah terpikirkan pengen ambil jurusan kuliah psikolog, karna sering curhat dan di curhati. Sok sok an ngasih solusi padahal nggak berpengalaman, justru yang minta saran yang lebih pengalaman. Walaupun belum berpengalaman, bisa jadi apa yang dicurhati itu suatu saat bakal saya alami. Jadi kan serasa udah siap amunisi sebelum berperang.

Menurut saya, yang cocok jadi seorang konsultan itu seorang laki laki. Kenapa, karena pikiran laki laki itu selalu memikirkan solusi, ada masalah langsung solusi. Jadi kalo ada orang cerita ke dia baru mau mulai cerita yang ada di pikiran laki laki itu adalah solusi nya apa. Tapi yang nggak banget ialah jarang ada laki laki yang betah dengerin cerita, mending kalo ceritanya itu tertata alias terstruktur jadi bisa di ambil poin poin inti dari cerita itu. Dari poin poin itu di rancang sama si konsultan trus di buat plot plot permasalahannya, akar permasalahan dan sampai akhirnya dunia menemukan mu (avatar the legend of aang).

Share:

Rabu, 25 Maret 2020

Origami


Sesaat setelah melihat berbagai bentuk kerajinan tangan berupa origami. Origami sendiri ialah nama sebuah kerajinan tangan dengan bahan dari kertas yang dilipat lipat, gampang nya seni lipat kertas. Dari secarik kertas bisa diubah menjadi beberapa bentuk, bisa bentuk hewan, tanaman/bunga atau yang lain. Tapi saya kalini bukan mau membahas gimana cara membuat origami hewan/bunga karena jujur saya nggak ahli seni lipat ini. Hanya saja muncul ingatan masa kecil yang sering membuat kerajinan tangan dari seni lipat kertas juga, mungkin versi anak desa.

Ok, selain yang sering kita buat jaman kecil atau juga mungkin masih ada sampe sekarang yaitu seni lipat pesawat terbang dari kertas. Selalu membandingkan mana yang lebih jauh dan tinggi saat diterbangkan. Dari bentuk yang normal sampai ada sedikit perubahan (modifikasi) yang bertujuan tidak lain agar lebih tinggi terbangnya. Tapi malah keliatan aneh kalo dilihat bentuknya. Entah apa yang dipikirkan waktu itu (masa kecil) kalo di rubah bentuknya apakah akan bisa lebih tinggi terbangnya atau malah sebaliknya. Dan saat ini bisa terjawab pertanyaan itu, yaitu untuk mengatur tingkat aero dynamic nya pesawat itu. Semakin runcing, maka tidak ada hambatan apapun, angin/udara yang tertabrak akan melewati bentuk/lekukan dari pesawat.



Selain pesawat, ada juga origami bentuk perahu. Perahu kertasku kan melaju, membawa surat cinta bagimu. Kata kata yang sedikit gila, tapi itu adanya – bacanya jangan pake nada ya. Berbeda dengan pesawat yang sebelumnya, mungkin bentuk perahu ini tidak banyak perubahan untuk menyeimbangkan pergerakan perahu jika dicoba di alirkan ke sungai. Tapi ada teori lagi untuk bisa melaju di atas air perlu ada olesan dari sabun colek atau sabun cuci. Tinggal dioleskan pada posisi bawah perahu secukupnya, langsung bisa ditaruh di atas air. Nah, dengan adanya olesan sabun colek ini sebagai penahan kontak langsung antara air dan kertasnya. Jadi pas perahu di taruh di air, dia akan mengambang beberapa saat sebelum semua kertas akan basah.
                                                   

Yang terakhir, seni lipat ini banyak pernak perniknya. Sebenarnya pernak pernik itu bagian dari bentuk, jadi kalo disatukan akan lebih keliatan bentuk origaminya. Saya menyebutnya origami robot. Karena bayangan waktu kecil kalo robot (power ranger) itu pasti terpisah bagian bagian nya dan kemudian menyatu menjadi robot dengan senjata pedang yang lain. Dan origami ini juga terinspirasi dari tontonan power rangers itu.

Untuk origami versi Indonesia yang mewarnai seni lipat kertas masa kanak kanak yang menyenangkan, jauh dari peralatan/teknologi jaman sekarang seperti gadget.

Share:

Sabtu, 28 September 2019

Menu Sarapan di Beberapa Daerah


Sarapan itu perlu nggak sih sebenernya? Mungkin sebagian akan berpendapat kalo sarapan itu perlu tapi mungkin sebagian lagi berpendapat berlawanan dengan itu. Pernah dengar kalo memulai aktivitas tanpa sarapan akan menurunkan kadar konsentrasi seseorang. Aktivitas belajar di sekolah misalnya, jika pagi hari tidak di imbangi dengan sarapan terlebih dahulu sebelum belajar, kadar konsentrasi nya akan menurun. Jadi saat ditanya beberapa soal perhitungan sederhana terasa sulit untuk di jawab. Ya itu sekedar informasi yang saya dapat, tapi secara medisnya saya kurang tau, seberapa pengaruhnya jika seseorang tidak sarapan akan menurunkan kadar konsentrasi. Terkadang ada juga yang bilang kalo sarapan nanti malah membuat seseorang bisa merasa ngantuk jadi kadar konsentrasi juga akan menurun. Kalo seperti ini bisa jadi efek dari apa yang ia konsumsi, kalo kebanyakan makanan berat (karbohidrat) dengan proporsi yang banyak pula, efek ngantuk bisa jadi akan di alami. Tapi kalo pemilihan menu sarapan yang pas (tidak berlebih) itu akan memberikan efek yang berbeda di tubuh.

I think enough untuk intro yang nggak nyambung itu. Nah, sedikit mengenal menu sarapan. Ternyata menu menu makanan yang bisa jadi menu sarapan di berbagai daerah itu cukup bervariasi. Walaupun ada banyak menu sarapan yang menjadi favorit tapi kalo yang khas kan nggak banyak. Kenapa disebut menu sarapan? Karena menu sarapan ini hanya bisa di temui pas jam jam sarapan sekitar pukul 07 – 09 pagi. Kalo udah agak siang ya udah jadi menu makan siang namanya.

Beberapa menu sarapan yang saya temui di berbagai daerah :
  • Tahu Kupat


Menu sarapan/makanan yang biasa di jumpai di jam jam di atas itu adalah Tahu Kupat. Makanan yang satu ini ada di sekitaran pasar (kalo di kampung saya) dengan gerobak dorong berwarna biru terpampang di pojokan bangunan. Menu sarapan ini menyajikan tahu goreng, bakwan, ketupat, dengan tambahan kacang tanah, irisan kubis, beberapa suwir mie kuning dan potongan mentimun (kecil kecil) dan di siram dengan sambel kecap (bisa request level pedasnya). Bisa di jumpai di daerah sukoharjo – solo.
  • Kupat Tahu,

Menu sarapan yang saya jumpai di daerah bandung. Dulu sempet main ke bandung dan disaranin atau lebih tepatnya sih di ajak makan kupat tahu. Kupat tahu ini dari yang saya perhatiin itu mirip dengan ketoprak (makanan). Penggunaan lontongnya, tahu gorengnya dan sambal kacangnya juga. Berbeda dengan tahu kupat yang saya ulas di atas, walaupun nama dari makanan ini seperti cuman di balik saja, tapi fisik makanannya berbeda.
  • Docang

Olahan makanan yang cocok untuk sarapan berikutnya bisa di jumpai di daerah Cirebon, baik itu kota ataupun di kabupaten. Ulasan lengkapnya sudah saya ulah di post saya yang sebelumnya.
  • Sega jamblang atau Nasi Jamblang

Menu sarapan ini sama seperti docang yang bisa di jumpai di daerah Cirebon. Menu yang satu ini berbeda dengan beberapa menu di atas yang menggunakan lontong/ketupat sebagai main dish. Tapi nasi jamblang ini menggunakan nasi putih biasa tanpa di buat lembut seperti lontong. Walapun sumber main dish nya sama sama dari beras. Makanan seperti jamuan prasmanan, bisa ambil dan pilih sendiri lauk pauk yang ingin di makan. Mungkin yang agak unik ialah nasi putihnya itu dibungkus dengan daun jati bukan dari kertas nasi dan sambalnya yang kombinasi antara ulekan sambel dengan irisan cabe merah. Lauk pauknya ini biasanya berupa aneka jenis daging, telur, usus, tahu & tempe goreng.

Itulah beberapa menu sarapan yang bisa di temui sesuai dengan daerahnya. Walaupun banyak menu sarapan yang bisa di jumpai di beberapa daerah seperti bubur ayam Jakarta, bubur ayam Tangerang yang biasa saya jumpai di Cirebon. Dan juga ketoprak, nasi kuning, bubur kacang ijo ini yang lebih banyak tersebar di berbagai daerah yang menjadikan menu sarapan umum.

Share:

Kamis, 19 September 2019

Nulis yang Bermodal


Nulis, bikin narasi tentang kuliner jadi malah ketagihan pengen terus ambil topik itu. Padahal nggak terlalu addict banget soal kuliner, nggak bisa kasih rekomendasi masakan yang tepat untuk di cicipi ke orang lain, ya karena emang nggak bisa dan nggak tau cara rekomendasiin makanan. Pernah sekali rasanya pengen banget rekomendasiin salah satu masakan khas, tapi karena beda tempat makan jadi kesannya ‘kepepet’ ngasih rekomendasinya. Jadi ujung ujungnya ‘yang penting minimal ngerasaain’ walau sama persis makanannya, tapi rasa kan pasti beda. Pas nanya ke temen gimana rasa makanan tadi? Biasa aja, enak banget ya nggak, nggak enak ya nggak juga. Dan nggak tau itu selera mereka nggak kan nggak tau.

Menurut saya, ambil bahasan kuliner itu butuh banyak investasi/modal, contohnya :
  • Uang

Yang ini pasti, karna mau ngerasain makanan harus beli dan pake uang, bukan daun atau yang lain. Intinya sih mata uang yang bisa dibuat transaksi. Tapi untuk sekarang ini bisa jadi cashless alias nggak perlu banyak banyak bawa uang cash, udah banyak banget cashless tinggal modalin berbagai macam kartu dan aplikasi. Jadi tinggal tap sana tap sini…
  • Waktu

Selain uang, ini juga nggak kalah penting karena kalo ada uang tapi nggak sempet atau nggak ada waktu luang buat pergi pergi kan percuma, nggak bisa ‘berburu’ kuliner yang sedang hits atau yang baru bermunculan.
  • Fisik

Fisik ini terkait dengan kesehatan badan diri, kalo mau merekomendasikan sesuatu apalagi soal makanan, sangat perlu diri sendiri haruslah sehat biar bisa optimal dalam mencicipinya. Jadi bisa njelasin detail soal rasanya. Kalo lagi sakit sudah pasti nggak nafsu makan, lidah terasa pahit semua sekalipun itu gula yang jelas jelas terasa manis. Intinya indera pengecap kita bisa optimal fungsinya kalo pas lagi sehat.

Ya itu beberapa hal yang menurut saya perlu disiapkan jika ingin menjadi ‘pemburu kuliner’. Entah mau jadikan hobi atau sekedar ingin saja.

Share:

Sabtu, 29 Juni 2019

Serupa Tapi Tak Sama



Coba buat narasi tentang kuliner lagi, walaupun sejujurnya saya bukan seorang pencari kuliner yang mungkin setiap bepergian yang menjadi incaran pertama. Tapi nggak apa apa sebagai pendatang di kota udang (sebutan) ini masa sih nggak nyobain olahan makanan yang ada disini. Setidaknya sekedar nyobain aja. Setelah berbagai olahan mie kayak mie koclok, mie yamin, mie ayam dan mie mie yang lainnya, saya juga cukup tertarik setelah berada di tempat tinggal yang baru. Nama makanan ini Tahu Tek Tek, nggak tau ini aneh atau nggak untuk sebuah nama makanan, cuman pas ketemuan aja di tempat tinggal yang baru karena tempat tinggal lama belum nemu makanan itu.

Tahu tek tek, dari namanya saya sudah berekspektasi makanan ini berbahan dasar tahu dan mungkin mayoritas tahu seperti tahu sumedang, tahu tegal dll. Dan dari kata tek tek itu saya berpikiran kata ini diambil dari suara wajan/penggorengan yang saat di mamang penjualnya ini menggoreng dan sumber suara itu dari perpaduan antara susruk/spatula dengan wajan sehingga berbunyi tek tek atau si penjual ini sengaja memukulkan sesuatu ke wajan untuk tanda/isyarat bahwa ada yang sedang berjualan makanan ini. Tapi ekspektasi saya itu ternyata salah, memang ada bahan makanan tahu, tapi tidak mayoritas cuman seperti menjadi bagian dari keseluruhan makanan. Alhasil setelah dihidangkan ternyata mirip olahan makanan ketoprak, karena semua bahan seperti tahu digoreng, lontong, toge, kerupuk, sambal kacang, kecap dan kerupuk. Cuman yang membedakan antara tahu tek tek dengan ketoprak ialah ada di bihun nya. Tahu tek tek nggak pake bihun dan ada tambahan cabe bubuk untuk level pedas. Dan cara menyajikan berbeda, kalo ketoprak dari bumbu sambal kacang dulu yang di uleg, baru dimasukin bahan bahan yang lain. Tapi kalo tahu tek tek langsung dimasukin bahan bahan (tahu, lontong dll) baru diguyur sambal kacang.

Walaupun nggak sesuai ekspektasi (seluruhnya) tapi yang anggap saja sedang menikmati salah satu olahan dari kota udang dan itung itung buat mengobati rasa penasaran.

Share:

Sabtu, 04 Mei 2019

Satu Kejadian


Satu kejadian, cukup satu kejadian untuk mengingatkan pada seseorang yang entah itu berbuat baik ke kita atau sebaliknya. Karna terbatasnya ingatan untuk menghapal setiap kata yang terangkai menjadi nama panggilan setiap orang yang berbeda beda, jadi kadang menjadi lupa saat ingin menyapa dan akhirnya di sapa duluan sama lawan bicara. Mungkin juga selain suatu kejadian, bisa juga hafal wajah tapi tidak untuk nama.

Nah, semacam ini sering saya rasakan saat berbagai teman kerja menyapa dan memanggil nama panggilan saya dan bahkan sampai ada yang mengajak untuk ngobrol. Dan itu sering membuat saya membatin “itu siapa ya? Kok tau nama saya?” – saya saja tidak tau itu siapa...

Sama halnya mengingat kejadian di waktu lampau yang masih menyisakan inti dari kejadian itu, dan teringat kembali di momen seperti ini (bulan puasa). Sebagai kegiatan untuk menambah ilmu tentang agama, biasanya orang tua mendaftarkan anak – anaknya ke TPA terdekat untuk belajar mengaji sejak dini. Ya, mumpung belum banyak kegiatan yang menyita waktu kecil selain hanya sekolah dan bermain kesana kesini nggak karuan. Yang menjadi imajinasi saya itu bakalan bepergian sama temen teman naik sepeda gowes ke pondok, menghabiskan waktu siang menjelang sore hingga bahkan sampai malam tiba. Dan waktu waktu itu nggak kerasa cepet banget, baru juga berangkat dengan tenaga yang masih full ku kayuh sepeda ontel jadul berbentuk jengki itu dengan cepat cepat karena waktu masuk pelajaran yang mepet, karena kadang harus lama menunggu temen temen lain pada siap siap. Intinya biar berangkatnya bisa bareng bareng, kalo di hukum karena telat kan juga bareng.

Jam masuk pelajaran sudah tiba dan tinggal menunggu ustadznya datang untuk mengajar, dan waktu satu jam selesai setelahnya istirahat untuk sholat dan dilanjutkan lagi satu jam setelah istirahat. Jadi kurang lebih memakan waktu 2 jam di pertengahan sore hari, bahkan bisa sampai 1 jam lebih nya untuk ngobrol tentang apapun (kalo nggak buru buru pulang). Hingga sampai sore tiba dan di perjalanan nggak sekuat kayuhan di banding waktu berangkat, lebih santai dan menikmati perjalanan sambil ngobrol kanan kiri. Hingga akhirnya melirik ada sebuah kebun yang ditanami buah sawo, berjejer sekitar 3 pohon sawo yang siap berbuah dan di musim itu lagi musim nya sawo berbuah. Karena sudah sering lalu lalang lewat jalur desa itu dan juga dengan kepolosan anak kecil, memberanikan diri walau dengan takut takut untuk menemui pemilik kebun dan meminta ijin untuk memetik buah sawo untuk dijadikan sebagai takjil berbuka puasa. Karena saking banyaknya pohon itu berbuah, sang pemilik pun nggak pikir panjang untuk mengijinkan kami mengambil buah sawo itu.

Rejeki anak sholeh.
Dan dengan satu kejadian itu, sampai sekarang saat melintasi jalan desa itu dan masih ada bentang tanah kosong (belum di bangun rumah) masih ada ingatan soal waktu lampau gowes ontel bersama teman teman sambil ketawa ketawa dan seakan bercanda dalam perjalanan.

Share:

Rabu, 13 Maret 2019

Kesasar yang Berfaedah


Pernah kesasar atau Tersesat? Karena tempat/daerah baru di kunjungi atau malah sebenarnya udah tau daerah tersebut? Jika memang tersesat karena baru pertama kali kunjungan itu wajar, tapi kalo sebaliknya itu nggak wajar. Tapi bisa juga daerah udah pernah di kunjungi tapi karena udah terlalu lama tidak berkunjung lagi itu bisa di bilang sedikit wajar kalo nyasar. Tapi kalo nyasar yang menyenangkan, apakah bakalan terjadi? Ya, saya juga tidak tau pasti kalo seperti itu kasusnya. Cuman kebanyakan kalo kesasar itu menjadi image yang buruk alias tidak menyenangkan, lha wong kesasar nggak tau arah mana mana dan bingung mau ngapain/ngelakuin sesuatu kok menyenangkan. Piye?

Bukan niat bukan juga kesempatan, tapi serendipity atau menemukan sesuatu yang berharga secara tidak sengaja akan menjadi hal yang menyenangkan dan bisa jadi pengalaman baik dalam hidup. Kalo jaman sekarang biasa orang sebut di luar ekspektasi atau angan angan dan terjadi begitu saja.

Nah, hal itu terjadi pada saya sekitar 3 tahun silam. Waktu itu sedang ingin bepergian ke salah satu destinasi Kota Bandung dengan bermodalkan transportasi umum. Tapi bukan sampe di tujuan tapi malah ke destinasi yang lain yang nggak pernah terbayang bakalan kesitu. Karena menggunakan transportasi umum jadi perlu transit beberapa transporter untuk sampe di tujuan. Dan untuk pergi di pool transporter itu perlu jalan kaki dulu beberapa ratus meter. Awal transit, turun dari bus lalu cari cari informasi untuk naik kendaraan berikutnya dengan menembus keramaian pedagang bak pasar malam yang sering jualan pakaian sampe perkakas lain. Nah, setelah itu malah tembus dan ketemu sama tempat bernama Gasibu, begitulah julukan warga sekitar menamai tempat itu. Gasibu ini merupakan tempat dengan visual seperti alun alun kota yang membentang rumput pendek yang hijau dan ada beberapa ornamen di rumputnya dan biasanya warga sekitar memanfaatkan moment pas CFD (Car Free Day) di hari libur. Cuaca cukup menyengat karena pas hampir tengah hari dan di tambah lahan luas yang membentang jauh dari pepohonan menjadikan saya melirik dan jalan ke pinggir.

Yang berikutnya kesasar melewati salah satu monumen yang ada di Bandung yakni monumen perjuangan. Tempat ini juga tidak jauh dari lokasi gasibu itu, dan entah memang area nya tertutup atau memang sedang ditutup untuk wisatawan. Karena saat itu saya harus memutar lokasi untuk mencari pintu masuk, tapi sayang tidak bisa lebih dekat dengan monumen itu karena terhalang pagar yang mengelilinginya. Dengan meninggalkan KTP, saya bisa masuk area untuk umum dan pasti diluar pagar monumen. Lumayan, intinya sempat melihat salah satu monumen yang ada di kota itu.
Monumen Perjuangan
Dan yang terakhir yang nggak di sangka juga, ketemu salah satu ikon kota bandung juga. Gedung sate. Ya, awalnya masih kurang pede kalo itu beneran gedung sate atau hanya gedung dalam kota, tapi setelah melihat lebih dekat bangunan itu ternyata memang gedung sate yang ada di depan mata. Cukup ramai pengunjung di area gedung yang silih berganti untuk mendapatkan momen atau angle yang pas untuk diabadikan lewat kamera. Dan lalu lalang kendaraan dan para pejalan kaki pun ikut menyumbang sedikit crowded lokasi itu. Ya, tentunya saya juga nggak mau kalah untuk mengabadikan momen dengan kamera walaupun cuman kamera ponsel.
Gedung Sate
Dan di akhir perjalanan pulang terlintas depan mata kendaraan yang cukup langka untuk di kendarain di kota itu. Bus tingkat. Ya, bus yang hanya beroperasi di beberapa kota ini salah satunya beroperasi di kota Kembang. Berharap bisa naik dan berkeliling menggunakan bus itu ke tempat tempat destinasi kota Kembang.

Share:

Rabu, 20 Februari 2019

Menu Santap Kelas Malam


Kuliah kelas karyawan yang masih menyisakan kenangan dan ingatan akan berangkat setelah adzan ashar dan pulang saat orang orang sekitar menutup pintu dan tinggal menyisakan beberapa orang yang berjaga meronda. Sunyi. Sepi. Ya, itulah gambaran selama kuliah 4 tahun, tidak. hanya sekitar 3 tahun 6 bulan untuk bisa membiasakan tubuh dengan pola waktu seperti itu dan tentu sekitar 8 jam di waktu produktif (pagi hari) menyibukkan diri dengan beberapa tugas tugas. Entah baik atau nggak itu cuman masalah diri saja, jikalau bosan dengan 8jam di pagi hari tinggal ambil kegiatan yang bisa dikerjakan di paruh waktu.

Karena pola waktu yang berubah, tentu saja dengan menu menu makan malam yang terkadang maksaain untuk nggak makan malam karena begitu pulang langsung istirahat. Tapi tidak untuk setiap harinya, ada kalanya akan mencari dan makan malam kalo perlu. Tentu membiasakan dengan menu makanan cepat saji yang ada di sekitar kampus, seperti nasi goreng, mie goreng, bubur kacang ijo, bubur ayam (kadang), nasi lengko (kalo masih buka) dan lainnya. Menu seperti itu sudah biasa menjadi target jika lapar menyerang di kala malam hari.
  • Nasi goreng,

Bukan makanan wah memang, tapi menjadi makanan yang langka di konsumsi di waktu kuliah. Karena harganya yang kadang berpikir sejenak kalo mau pesen. Dan harga 1 porsi menu ini bisa di ganti dengan 2 porsi menu yang lain. Tapi nggak kehabisan akal, terkadang meminta ke abang nasgornya dengan menawar setengah porsi atau yang lain. Entah kasian atau gimana si abangnya melayani saja permintaan itu.
  • Ketoprak

Ini salah satu menu yang lain yang bisa dijadikan menu makan malam alternatif kalo kalo yang diinginkan ternyata nggak ada. Kalo di ingat ingat menu makanan ini muncul karena ada beberapa testimoni soal rasanya dan harga yang masih 7ribu/porsi. Makan seporsi dengan harga itu dan sudah kenyang pula. Pas dan sesuai dengan kocek kantong mahasiswa.
  • Bubur

Entah bubur ayam atau bubur kacang ijo, tapi menu ini bisa jadi alternatif juga. Lebih tepatnya hanya sebagai pelampiasan dari beberapa menu yang udah bosen karena terlalu sering di makan.
  • Warteg

Nah, ini kadang menjadi daftar menu yang sering dicoba. Jarak dengan kampus cuman beberapa meter saja sudah bisa beli disitu. Dengan memilih menu telor (ceplok/dadar) dan 1 jenis sayur sudah setara dengan harga ketoprak. Cukup.
  • Nasi lengko

Menu andalan kalo memang pas nggak pulang terlalu larut malam. Biasa pergi bareng bareng dan makan di tempat. Seporsi 5ribu menjadikan menu makan malam andalan saat perut terpaksa harus diisi saat malam tiba. Ada beberapa tempat/kedai yang bisa di jangkau, rasa dan harga tetap sama.

Ya, itu beberapa menu makanan mahasiswa kelas malam. Adapun cemilan selepas istirahat maghrib biasanya membeli roti 2ribuan dan beberapa kacang dewa hanya untuk sekedar menahan bunyi keroncong dari perut saat di kelas. Tak banyak juga dari temen temen yang membawa bekal dari rumah, itu karena mereka udah terbiasa membawa dan karena mereka bukan anak rantau.

Share:

Selasa, 12 Februari 2019

Mandi Air di Air Terjun Kali


Beda schedule beda eksekusi. Mungkin itulah istilah yang pas untuk planning akhir tahun kemarin saat ingin mengisi waktu luang cuti akhir tahun. Saat schedule sendiri ingin solo bacpacker ke sisi lain dari Yogyakarta alias daerah Kaliurang tapi apalah daya kena nego dan iming iming pergi bersama backpacker ke pantai kebumen. Daripada sendirian lebih baik bareng bareng dan pergi ke pantai pula, kalo ke kaliurang jauh dari pantai (pesisir gunung) tapi kalo ke kebumen cukup pergi ke pantai. Dan apalah daya hasil iming imingnya berhasil mengedurkan niatan saya untuk solo backpacker. Padahal kalo dilihat apa yang sering saya lakuin, bukan sekali dua kali saya ber solo backpacker ke beberapa tempat (walau cuman 3 tempat sih) tapi karena biar agak rame dalam perjalanan akhirnya negoisasi dengan diri pun luntur dan meng iya kan ajakan temen.
Secuil dari postingan kemarin, ada beberapa hal yang saya lakuin selama 3D2N di Kebumen. Salah satunya mandi di bawah jatuhnya Air Terjun Kali. Sesuai dengan nama air terjun ini yang terbayang ialah air terjun yang memiliki beberapa kucuran air yang turun dan berurutan sampai tempat yang landai/datar. Terbayang juga akses menuju air terjun ini yang bakalan naik turun mengikuti jalan setapak yang terbentuk akibat pijakan kaki para pencari nafkah dengan berkebun. Dan itu memang benar adanya. Akses jalan motor yang mulai berubah dari jalan aspal ke jalan cor coran setengah yang menyisakan gap/space tengah untuk tanah. Bukan hanya berubahnya jenis jalan tapi juga berubahnya ukuran dari jalan tersebut, dari jalan yang bisa di akses untuk persimpangan mobil dengan mobil, mobil dengan motor hingga motor dengan motor saja. Dan tidak kalah seru nya ialah mulai berjumpa dengan suasana hutan yang rindang dan sejuk bahkan beberapa kali berpapasan dengan udara dingin.

Dengan bermodalkan fitur smartphone ditangan perjalanan dimulai. Sesampainya titik koordinat yang di tunjukan fitur tersebut, ternyata agak ragu kalo memang ini tempatnya. Karena wana wisata ini belum ada yang mengelola, fasilitas petunjuk arah, pintu masuk, tiket dan lahan parkir belum semuanya tersedia hanya saja memanfaatkan space lahan kosong milik warga sekitar untuk tempat parkir dan untuk tiket dan pintu masuk sama sekali tidak ada, yang perlu dilakukan ialah berkomunikasi dengan warga sekitar sebagai petunjuk arah darimana dan kemana arah menuju air terjun itu. Cukup simple petunjuk yang di kasihkan oleh orang warga, “ lewat jalan ini (sambil menunjuk jalan setapak yang menurun) sampai nanti ketemu aliran sungai dan ikuti terus aliran sungai itu menuju muaranya/hulu nya, nanti akan ketemu air terjun itu “. Tak mau berlama lama untuk meng iyakan instruksi itu. Memang benar adanya “cukup mengikuti jalan aliran sungai sampai ketemu air terjun”. Aliran sungai itu memang dangkal dan jalan nya berbatu padas jadi hati hati kalo melangkah – licin.

Saat sampai di lokasi, tempat mandi yang sepi entah karena waktu yang memang lagi sepi (weekday) atau memang belum banyak pengunjung luar desa setempat yang pergi kesini. Tapi bayangan saya cukup terbantahkan dengan adanya sisa bungkus plastik jajanan dan botol minum yang bergeletakan di atas batu batuan padas itu. Dan ini adalah kesempatan yang bagus untuk bisa mandi sepuasnya di situ karena sekitar sepi sekali, hanya sesekali melihat orang lewat daerah itu untuk pergi berkebun.

Air terjun dengan tinggi yang hanya sekitar 4 - 5 meter ini memiliki 2 ruang untuk mandi yakni bagian bawah dan atas karena air terjun ini terbentuk 2 aliran hanya saja yang bisa di pakai untuk mandi hanya bagian atasnya saja, karena setelah aliran yang di bawahnya menyisakan kolam yang dangkal. Untuk kedalaman kolam air terjun ini hanya sekitar 2 meter, air yang tervisualkan warna hijau ini menjadikan air tersebut jernih dan di dukung pula dengan batu padas menjadikan kolam air terjun layak untuk menyegarkan badan dengan berendam di sana. Tapi yang perlu di perhatikan ialah safety nya, karena batu padas jadi lebih licin dibanding dengan batu lain. Oleh karena itu perlu hati hati membuat pijakan kali.

Share:

Minggu, 10 Februari 2019

Sate Ambal Pak Kasman


Selang beberapa bulan yang lalu teringat akan jatah cuti tahunan yang masih menyisakan 5 hari kerja, setelah berembuk dengan temen di grup wa diputuskan untuk berkunjung ke kota dengan oleh oleh lanting. Kebumen. Iya, setelah berembuk dan menentukan tanggal pemberangkatan deal akan berangkat ber3 tapi selang H-3 menyisakan saya sendiri. Terlanjur beli tiket kereta dan pengajuan cuti sudah di acc mubadzir kalo nggak berangkat. Jadi perjalanan setelah pulang shift sore dan tiket kereta berangkat pukul 00:44 dinihari dan diperkirakan sampai lokasi waktu subuh.

Spare waktu di sana ada sekitar 3 hari 2 malam, cukup untuk sekedar berkeliling daerah sekitar dan tak lupa juga mencari beberapa kuliner yang ada disana. Salah satunya Sate Ambal Pak Kasman yang cukup terkenal dan menempati peringkat teratas menu kuliner di kebumen.
Ok, mari kita bahas kuliner satu ini. Dari tampaknya sama seperti sate ayam pada umumya yang menampilkan potongan ayam yang ditusuk tusuk dan disajikan dengan lontong. Untuk porsi sendiri cukup besar kalo menurut saya karena satu porsi itu ada 20 tusuk dan untuk saya makan sendiri sedikit berlebihan jadi saya pesan seporsi tapi dibagi 2 piring lontong dengan temen saya. Untuk bumbu nya sendiri jika dilihat akan sama dengan bumbu sate pada umumnya yang keliatan seperti bumbu kacang, tapi kalo di coba rasakan sangat berbeda karena bumbunya ini terbuat bukan dari kacang melainkan dari tempe. Dan ini yang menjadi khasnya sate ayam ambal. Kalo soal rasa, setelah di icip icip ternyata lebih mendekati manis, mungkin karena kita pesan nya tidak bilang pedas atau nggak jadi terasa manis satenya. Dari tekstur potongan ayam nya sendiri itu cukup empuk dan lembut, pas untuk digigit dan dikunyah.

Jadi, bisa di coba salah satu kuliner khas daerah ini saat Anda berkunjung atau sekedar mampir di Kebumen. Untuk akses dan posisi tepatnya ialah di Jalan Kutowinangun, Kambalan, Ambal – Kabupaten Kebumen. Dan terpapang jelas papan nama Sate Ambal Pak Kasman.

Share:

Jumat, 07 Desember 2018

Secangkir Teh Poci dan Nasi Goreng Tiwul Veteran

Berawal dari penasaran pas melintasi jalan Veteran – Sukoharjo ada tenda berwarna biru di pinggir jalan dengan papan nama bertuliskan beberapa menu makanan & minuman yang tersaji/dapat di pesan disitu, tulisan yang cukup besar berharap ada beberapa pelintas yang sengaja berhenti dan memesan makanan. Bukan tempat bertenda yang wah banget, hanya biasa saja seperti tenda tenda yang lain hanya saja menu makanan yang di jual berbeda. Dan hanya sepintas saja saya melihatnya, tapi terkadang yang sepintas itu bikin penasaran untuk mampir dan mencicipi.
Nasi goreng tiwul. Ya, tulisan yang tertata rapi di sebelah kanan dan depan gerobak bapak penjualnya dan tak luput juga tulisan menu yang lain, nasi goreng biasa, mie goreng, mie kuah dan teh poci. Memang baru kedua kalinya saya melihat papan nama itu, karena memang pas ada moment pulang kampung saja, dan kadang juga akses jalan pulang nggak melulu lewat jalan veteran itu. Tapi malam itu saya minta ke adek untuk lewat jalan tersebut karena memang niat saya pengen mencicipi nasi goreng tiwul dan karena menu makan malam ibu di rumah sudah habis (jam 9 malam) jadi tak putuskan untuk cari makan malam bareng adek di sana. Nah, ini yang menjadi tantangan nya, karena hanya sepintas melihat jadi belum tau persis posisi tenda itu. So, sedikit menahan laju motor agar sempat melihat spanduk berwarna hijau itu.

Ambil sen kiri dan belok kiri, langsung sampe. Mulai pesan makanan, sego goreng tiwul e taksih, pak? – nasi goreng tiwul nya masih, pak? disaut oleh bapaknya taksih, - masih. Pesen setunggal nggih pak, teng mriki mawon, - pesan satu ya pak, makan disini saja. Nggih mas, saut bapaknya – mang lenggah riyen teng mriko – ya mas, saut bapaknya – silahkan duduk dulu disana (sambil menunjuk tempat lesehan biasa para pelanggan menikmati makanan). Saat mau duduk ada anaknya yang menanyakan/menawarkan untuk pesan minum apa, ngunjuk e nopo mas? – minumnya apa mas? Tawar anak itu. Teh manis anget – teh manis hangat jawabku. Selang beberapa menit minuman yang di pesan datang – sambil menunggu bapaknya memasak nasi gorengnya. Teh poci, ya nggak tau kenapa yang datang cangkir kecil dengan didalamnya ditaruh gula batu dan irisan jeruk nipis disandingkan dengan sebuah teko kecil penuh air teh didalamnya – hangat. Ternyata ini yang tertulis di spanduknya – tersedia teh poci. Saya kira akan sama seperti tempat makan bertenda lain kalo teh hangat/es itu tetap segelas penuh air teh yang mengebul ngebul uap di atas gelas, tapi disini ternyata beda, dan sepertinya khusus untuk teh manis hangat saja yang disajikan seperti itu, karena ada pembeli juga memesan es teh manis dan itu disajikan dengan gelas berukuran 300ml bukan cangkir dan teko.
Dari penampakan sego goreng tiwul ini seperti nasi goreng biasa karena dimasak dengan digoreng jadi nasi tiwulnya ini nggak keliatan bedanya dengan nasi putih. Tapi dari rasanya begitu terasa khasnya nasi tiwul, dan bukan nasi putih. Dengan memesan tingkat pedas hanya sedang jadi nggak terlalu pedas tapi juga sedikit bikin nyegrak, mungkin dari penggunaan cabe rawitnya. Visual yang lain, nasi goreng tiwul ini sedikit lebih kering jika dibandingkan dengan nasi goreng yang biasa saya beli, sekering keringnya nasi goreng biasa ini cukup kering untuk ukuran nasi goreng dan saya suka dengan itu. Rasa dari nasi goreng tiwul ini hilang seketika saat saya sruput teh poci hangat, manis yang bercampur dengan masam jeruk nipis jadi sedikit ada segarnya teh poci itu. Dan dengan gula batu didalamnya, menambah rasa manis yang awet dan terasa masih ada di lidah.

Share:

Senin, 26 November 2018

Manisnya Roti Widoro

Oleh - oleh atau juga buah tangan yang sering kali menjadi bahan untuk saling berbagi pengalaman, inspirasi bagi orang yang belum pernah berkunjung dan menjadi suatu bentuk yang dicari jika berkesempatan berkunjung. Oleh - oleh juga bisa saja dari yang khas daerah tersebut entah itu bentuknya makanan, minuman atau bahkan bukan keduanya. Dan yang khas ini terkadang menjadi pengingat pengalaman sempat mengukir kehidupan di daerah itu.

Salah satu yang akan saya bahas ialah roti widoro atau sering di sebut roti kepuh. Roti kepuh, nama yang diambil dari daerah asal pembuatan roti itu yakni Desa Kepuh, Nguter, Sukoharjo. Sukoharjo, ya itulah kabupaten tempat lahir saya, tanah kelahiran saya dan selama kurang lebih 20 tahun saya tinggal disana. Roti widoro, roti yang dikenal sewaktu saya kecil di gunakan sebagai bingkisan/buah tangan saat ada hajatan, lebih sering hajatan bentuk pernikahan. Roti dengan ciri - ciri kotak berukuran 10x10 cm, terlihat kering diluar, berwarna coklat hasil dari panggangan, rasa manis lebih dominan, dengan tulisan Roti Widoro yang terbuat dari krim diatasnya dan kadang di sangkutpautin dengan cita rasa beberapa orang jawa tengah yang memang penyuka rasa manis. Perubahan trend penggunaan roti sebagai bingkisan nikahan di era sekarang ini yang sedikit pengaruh juga dengan harga yang memang cukup tinggi dibandingkan dengan saat masih menggunakan roti.

Walau setiap bulan saya pulang kampong, tapi tidak setiap pulang itu juga saya membawa roti yang satu ini sebagai oleh - oleh, Karena tidak jarang yang kurang suka dengan rasa manis yang dinilai berlebih. Intinya sesuai request saja, kalo ada yang tiba tiba pengen dan mention ya baru beli dan juga karena saya juga kurang suka yang manis berlebihan.

Roti ini bisa dinikmati dengan sajian secangkir kopi atau teh karena sebagai penetral sama rasa manis dari roti itu. Ya, itu juga tergantung sama pribadi masing masing gimana cara menikmatinya. Saat di gigit rotinya, langsung di sruput teh tawar nya dan terasa manis di lidah karena perpaduan keduanya. 
Share:

Senin, 05 November 2018

Mencicipi Mie Colot - Cirebon


Buat para penggemar mie, bisa di coba salah satu jajanan yang ada di Cirebon ini selain mie koclok. Mie Colot. Setelah mie koclok, saya beralih ke mie colot entah nama nama yang aneh untuk sebuah menu makanan. Salah satu jajanan yang buka pukul 10 pagi sampai 9 malem ini bertempat di Jl. Pekalangan, Kota Cirebon menjadi destinasi kuliner yang bisa di coba di malam hari (lebih enak) karena suasana yang lebih dingin untuk keluar keluar dibanding siang hari dan jalanan cenderung tidak crowded.

Mie Colot, sajian mie seperti mie ayam namun tanpa kuah dengan jenis mie yang lebih pipih dibanding mie ayam dengan varian 3 rasa (asin, sedang dan manis) plus topping/tambahan seperti siomay, bakso dan tahu bisa memilih salah satu tambahan atau semuanya alias paket komplit. Dari daftar menu yang disajikan ada berbagai varian, dari mie yamin paket super komplit, paket komplit, tambahan tahu, bakso atau siomay.

Pas liat daftar menu, langsung pilih yang paket komplit dengan tambahan 2 siomay, 1 butir bakso dan 1 buah tahu putih dengan kuah. Mie dengan ukuran yang lebih pipih dibanding mie telor atau mie ayam ini kebayang rasanya akankah seperti bihun dan sejenisnya tapi setelah dicoba ternyata rasanya seperti mie ayam biasa bukan mie bihun walaupun bentuk nya agak pipih. Satu menu lagi untuk tambahan siomay, bakso dan tahu disajikan dalam mangkok kecil dengan kuah bening. Kuah yang cukup seger pas di sruput dan lagi emang saya doyan makanan yang berkuah terutama kuah bening. Coba ambil siomay, rasa ikan dalam siomay kerasa banget, untuk bakso ya sama seperti bakso bakso yang biasa saya makan dan begitu juga tahu isi mirip dengan tahu isi yang ada di campuran siomay.

Saat pertama nyobain mie itu pas saat pulang dari dinas luar kota dan waktu masih menunjukkan pukul 7 malam (masih sempat) sama satu teman. Awalnya cuman pengen nyobain sendiri tapi setelah coba nawarin temen ternyata dia pengen nyobain juga. Dan emang teman saya ini asli cirebon, tapi belum pernah ngerasain mie colot atau bahkan nggak tau ada makanan itu. Yaudah, setelah sampai di stasiun Cirebon langsung saja ke stand jajanan itu yang nggak buka cabang di tempat lain. Kalo liat tempatnya sih bukan tempat yang di dalam ruko atau tempat yang permanen tapi hanya di pinggir jalan seperti penjual nasi goreng yang beratapkan tenda dan beralaskan cor trotoar dengan spanduk bertuliskan Mie Colot – Mie Yamin 3 rasa. Di tempat itu ada 2 stand mie colot, entah itu rekanan atau sebaliknya, yang pasti beda tenda tapi saling berhimpitan, bersebelahan.
Kurang lebih 40 menitan saya disana, cukup untuk mengobati penasaran sama menu sajian mie yang ada di Cirebon ini. Nah, untuk harga 1 porsi mie yamin paket komplit di bandrol dengan harga 28k, dan untuk menu paket lain rata rata di 20 ribuan. Untuk tambahan minuman disana juga disajikan berbagai minuman, dari jus buah dan yang lokalan seperti teh (es/hangat), jeruk (es/hangat) dan lain lain.
Share:

About Me

Seorang Mahasiswa Teknik Kimia, suka hal hal simple, minimalis, seorang plegmatis.

Terbaru

Popular Posts

Arsip

Diberdayakan oleh Blogger.